Menyaksikan Peking Opera, Tatkala Jejak Sejarah Dihadirkan Lewat Pementasan
Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Deretan kostum berwarna merah menyala, kuning keemasan, biru tua, hingga hitam pekat tersusun rapi. Sulaman benang emas menghiasi hampir setiap helai kain.
Ada jubah kaisar, pakaian jenderal, busana permaisuri, hingga kostum dayang istana.
Begitulah sambutan pertama yang kami terima ketika tiba di Peking Opera Illuminates, Distrik Chaoyang, Beijing, Senin (13/7) lalu.
Bagi puluhan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) sore itu bukan sekadar undangan menyaksikan opera tradisional Tiongkok.
Kami diajak memasuki dunia yang telah hidup selama ratusan tahun.
Setelah mengamati setiap detail kostum yang dipamerkan, kami diarahkan memasuki ruang pertunjukan.
Di sana, perjalanan berlanjut ke balik layar.
Para perias memperlihatkan bagaimana wajah seorang aktor berubah perlahan menjadi tokoh yang akan dimainkan.
Garis-garis tegas dilukis dengan ketelitian luar biasa.
Warna merah, putih, hitam, dan biru bukan sekadar riasan wajah, melainkan simbol karakter, keberanian, kesetiaan, hingga kelicikan.
Tak lama kemudian, kejutan berikutnya datang.
Panitia mempersilakan para jurnalis mengenakan kostum asli Peking Opera. Suasana mendadak riuh.
Kamera telepon genggam tak berhenti memotret.
Ada yang memilih menjadi kaisar lengkap dengan mahkota kebesarannya.
Sebagian lain mengenakan busana permaisuri, dayang istana, hingga pakaian perang seorang jenderal.
Untuk beberapa menit, kami bukan lagi sekadar penonton. Kami menjadi bagian dari panggung itu sendiri.
Barulah setelah pengalaman tersebut, pertunjukan dimulai.
Malam itu, tiga lakon klasik dipentaskan. Pertama adalah “The Crossroad”, kisah tentang Jiao Zan, seorang jenderal Dinasti Song yang diasingkan setelah membunuh pejabat korup.
Dalam perjalanan menuju tempat pembuangan, sebuah kesalahpahaman di penginapan memicu duel sengit dalam gelap antara dua pendekar yang sesungguhnya berada di pihak yang sama.
Cahaya lilin akhirnya membuka kebenaran dan mengakhiri pertarungan yang seharusnya tak pernah terjadi.
Lakon kedua, “The Goddess of Heaven Scatters Flowers”, menghadirkan nuansa spiritual Buddhisme Mahayana.
Dewi Kahyangan turun menebarkan bunga sebagai simbol penghormatan atas ajaran kebijaksanaan yang disampaikan Vimalakirti kepada para murid Buddha.
Sementara pertunjukan terakhir, “The Great Immortal Herb Robbery”, diangkat dari legenda terkenal “The Tale of the White Snake”.
Ceritanya mengikuti perjuangan Bai Suzhen yang mempertaruhkan nyawa demi mencuri tanaman obat dari gunung para dewa untuk menghidupkan kembali suaminya, Xu Xian.
Adegan demi adegan dipenuhi lompatan akrobatik, duel bersenjata, hingga gerakan kungfu yang memukau.
Pementasan itu membuat para penonton takjub. Davone Manyvanh, jurnalis dari Laos mengaku takjub dengan pertunjukan itu.
“Sangat menyenangkan bisa menyaksikan langsung,” ujarnya.
Hal serupa diungkapkan Siti Zanariah bin Noor, jurnalis dari Malaysia.
“Lakon pertama mungkin sulit dipahami. Tapi lakon kedua dan ketiga benar-benar luar biasa,” katanya.
Manajer Panggung Opera, Gafar Porazar menuturkan, ada lebih dari 300 lakon yang berkaitan dengan Peking Opera.
Ia menyebut kekuatan terbesar seni pertunjukan ini bukan semata cerita yang dibawakan.
Hal yang membuat Peking Opera berbeda adalah para aktornya.
“Mereka bukan hanya bisa bernyanyi, berakting, memakai kostum, dan merias wajah. Mereka juga seniman bela diri dan akrobat,” katanya.
Latihan fisik menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan para aktor.
Sedikitnya delapan jam setiap hari diisi dengan latihan kungfu, akrobat, tari, vokal, hingga seni peran.
Bagi budaya Tiongkok, lanjut Gafar, seorang aktor tidak hanya memerankan manusia.
Ia juga harus mampu menghadirkan angin, matahari, bulan, bahkan kekuatan alam ke atas panggung.
“Itulah yang membuat Peking Opera begitu kuat. Saya belum menemukan bentuk teater lain di dunia yang mampu memadukan keindahan, fisikalitas, musik, sejarah, dan disiplin tubuh secara begitu utuh selama ribuan tahun,” ujarnya.
Dari pementasan itu, saya memahami beberapa hal.
Peking Opera ternyata bukan sekadar hiburan. Ia adalah sejarah yang terus dipentaskan.***
Editor : Donny TabelakSumber : Radar Badung