Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya dari Tiongkok (61)

Eka Prasetya • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 17:38 WIB
Para jurnalis peserta program CIPCC menunjukkan hasil kerajinan seni potong kertas khas Tiongkok, atau Jianzhi.( Foto Eka Prasetya) 
Para jurnalis peserta program CIPCC menunjukkan hasil kerajinan seni potong kertas khas Tiongkok, atau Jianzhi.( Foto Eka Prasetya) 

Mempelajari Jejak Tradisi Ribuan Tahun dari Selembar Kertas Merah

 Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Selembar kertas merah berukuran tak lebih besar dari buku tulis dibagikan kepada kami.

Di atas meja juga telah tersedia gunting kecil. Sekilas, tak ada yang tampak istimewa.

Namun beberapa menit kemudian, saya menyadari bahwa benda sederhana itu menyimpan perjalanan budaya Tiongkok yang telah bertahan lebih dari dua milenium.

Rabu (16/7/2026) pagi, puluhan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) mengikuti kelas seni potong kertas atau Jianzhi (剪纸) di Lide Building, Renmin University of China, Beijing.

Di kelas inilah kami diajak memahami bahwa warisan budaya tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan megah atau benda berharga.

Kadang, ia hanya berupa selembar kertas yang dipotong dengan penuh kesabaran.

Kelas diawali dengan pengenalan mengenai Jianzhi, salah satu seni rakyat tertua dan paling populer di Tiongkok.

Tradisi ini bahkan telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2009.

Meski tradisi memotong lembaran emas, perak, atau kulit telah dikenal sejak Dinasti Shang sekitar abad ke-16 hingga ke-11 sebelum Masehi, Jianzhi berkembang pesat setelah Cai Lun menyempurnakan teknologi pembuatan kertas pada masa Dinasti Han Timur sekitar tahun 105 Masehi.

Ketika harga kertas menjadi semakin terjangkau, masyarakat mulai memanfaatkannya sebagai hiasan rumah sekaligus media untuk menyampaikan doa dan harapan.

Tak heran jika hampir seluruh karya Jianzhi menggunakan kertas berwarna merah.

Dalam budaya Tiongkok, merah bukan sekadar warna. Ia menjadi simbol keberuntungan, kemakmuran, kebahagiaan, sekaligus penolak hal-hal buruk.

Setiap potongan juga memiliki makna yang tak pernah dibuat secara acak.

Motif naga dan burung phoenix, misalnya, melambangkan keharmonisan, sehingga kerap menghiasi dekorasi pernikahan. 

Buah persik menjadi lambang umur panjang dan kesehatan.

Seni ini berkembang dengan karakter berbeda di berbagai wilayah Tiongkok, namun memiliki gaya yang berbeda.

Di Tiongkok bagian utara, Jianzhi tampil berani melalui garis-garis tebal dengan tema kehidupan petani, ternak, dan cerita rakyat.

Sebaliknya, wilayah selatan seperti Jiangsu dan Guangdong dikenal menghasilkan karya yang jauh lebih rumit.

Potongan bunga, burung, serangga, hingga lanskap alam dibuat dengan detail yang nyaris menyerupai renda.

Namun, di balik segala keindahannya, terdapat satu aturan yang tak boleh dilanggar.

Seluruh pola dalam satu karya harus tetap saling terhubung.

Tidak boleh ada satu bagian pun yang terputus dari struktur utama.

Satu kesalahan kecil saja dapat membuat seluruh karya dianggap gagal.

Mendengar aturan itu, saya sempat berpikir pekerjaan ini akan sangat sulit. Ternyata dugaan itu benar.

Setelah penjelasan selesai, setiap peserta mulai mencoba membuat karya sendiri.

Latihan pertama adalah membentuk seekor panda. Kami hanya mengikuti pola sederhana, tetapi tetap membutuhkan konsentrasi penuh agar gunting tidak melenceng beberapa milimeter.

Begitu lipatan kertas dibuka, panda kecil mulai terlihat.

Latihan berikutnya lebih menantang. Kami diminta membuat siluet beberapa orang yang saling bergandengan tangan.

Tantangan utamanya justru bukan memotong pola, melainkan memastikan seluruh figur tetap tersambung satu sama lain.

Di sinilah "aturan emas" Jianzhi benar-benar diuji. Beberapa peserta tanpa sengaja memutus salah satu tangan sehingga seluruh rangkaian manusia terlepas. Gelak tawa pun terdengar di berbagai sudut ruangan.

Latihan terakhir menjadi bagian yang paling membebaskan. Kami dipersilakan membuat pola abstrak sesuai imajinasi masing-masing.

Tak ada bentuk yang benar ataupun salah. Yang penting, setiap garis tetap saling terhubung.

Di atas meja, kertas-kertas merah mulai berubah menjadi bunga, dedaunan, pola geometris, hingga bentuk-bentuk yang hanya dipahami pembuatnya sendiri.

Emma, instruktur yang mendampingi kelas tersebut, mengatakan Jianzhi adalah seni yang terbuka bagi siapa pun.

Menurut dia, kerajinan ini bahkan banyak ditekuni penyandang disabilitas sebagai sumber penghasilan.

“Kerajinan ini bisa dilakukan oleh semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas. Saya mengenal beberapa orang yang menjadikan Jianzhi sebagai cara mereka mencari nafkah. Saya berharap teman-teman jurnalis juga dapat mempelajarinya dan memperkenalkannya di negara masing-masing,” ujarnya.

Alexandra, jurnalis asal Serbia, mengaku pengalaman tersebut merupakan sesuatu yang benar-benar baru baginya.

“Saya memang tidak ahli dalam kerajinan. Mungkin hasil saya berantakan karena tidak maksimal. Tetapi kelas ini sangat menyenangkan,” katanya sambil tertawa.

Di Tiongkok kuno, Jianzhi pernah menjadi keterampilan yang wajib dimiliki perempuan desa sebagai bekal memasuki kehidupan rumah tangga.

Kini, seni itu telah berkembang menjadi karya profesional yang dipamerkan di galeri, diajarkan di universitas, hingga diwariskan kepada masyarakat dunia.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
Tiongkok Beijing jurnalis china jawa pos radar bali