Melawat ke Tibet, Ketika Warga Desa Ubah Bunga Persik Menjadi Potensi Ekonomi
Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Sehelai kain putih lembut disampirkan perlahan ke leher kami sesaat setelah keluar dari ruang kedatangan Bandara Nyingchi Mainling, Kota Linzhi, Provinsi Xizang.
Masyarakat Tibet menyebutnya khada, kain tradisional yang punya makna mendalam.
Bagi masyarakat Tibet, khada merupakan simbol doa, keberuntungan, ketulusan, dan niat baik.
Mereka percaya sehelai kain itu membawa energi positif bagi siapa pun yang menerimanya.
Itulah kesan pertama yang menyambut rombongan jurnalis peserta China International Press Communication Centre (CIPCC), setelah menempuh sekitar empat jam penerbangan dari Beijing Capital International Airport menuju dataran tinggi yang selama puluhan tahun lebih dikenal dunia dengan nama Tibet.
Udara Linzhi terasa jauh lebih sejuk dibanding Beijing.
Hamparan pegunungan hijau mengelilingi kota yang berada di sisi timur Provinsi Xizang itu.
Setelah beristirahat sejenak di hotel, perjalanan kami berlanjut menuju Desa Gala, sebuah desa kecil yang berjarak sekitar 13 kilometer dari pusat Kota Linzhi.
Gala tampak seperti desa pegunungan biasa, bahkan tergolong desa kecil. Penduduknya hanya berjumlah 151 jiwa yang terbagi dalam 33 kepala keluarga.
Sebagian besar menggantungkan hidup dari pertanian, peternakan, serta jasa yang berkaitan dengan sektor wisata.
Desa itu memiliki sekitar 39,33 hektare lahan pertanian dan lebih dari 679 hektare padang rumput yang menjadi tempat penggembalaan ternak.
Meski hanya desa kecil, desa menyimpan kisah perubahan ekonomi yang menarik perhatian banyak orang.
Setiap musim semi, ribuan pohon persik bermekaran serentak, mengubah seluruh lembah menjadi lautan bunga berwarna merah muda.
Fenomena itu melahirkan Peach Blossom Festival, festival bunga persik yang kini menjadi ikon wisata Linzhi.
Tahun ini merupakan penyelenggaraan festival ke-22. Festival tersebut telah menjadi penggerak utama ekonomi desa.
Tahun lalu, sebanyak 120 ribu wisatawan berkunjung ke desa tersebut. Pendapatan per kapita masyarakat pun tumbuh hingga mencapai sekitar 44.300 yuan per tahun.
Kepala Desa Gala, Nimaduoji, mengatakan perubahan itu tidak terjadi dalam semalam.
Awalnya masyarakat tinggal terpencar di lereng-lereng bukit dalam kelompok berisi tiga hingga tujuh keluarga. Baru pada 1962 seluruh warga dipindahkan ke lokasi desa yang sekarang.
"Waktu itu hanya ada 23 kepala keluarga. Sekarang menjadi 33 kepala keluarga," ujarnya.
Ia mengenang, puluhan tahun lalu kehidupan warga bertumpu pada penebangan kayu, mengumpulkan hasil hutan, dan menjual buah persik liar.
Buah persik memang terkenal manis, tetapi nilai ekonominya rendah. Satu keranjang hanya laku sekitar 13 hingga 14 yuan.
Menurut Nimaduoji, titik balik terjadi ketika masyarakat memutuskan menjaga kawasan pegunungan sekaligus mengubahnya menjadi destinasi ekowisata.
Alih-alih terus mengeksploitasi hutan, warga memilih merawat bentang alam yang mereka miliki.
Keputusan itu kemudian berkembang menjadi Peach Blossom Spring Scenic Area, kawasan wisata yang kini menjadi tulang punggung ekonomi Desa Gala.
"Berkat upaya generasi terdahulu menjaga lingkungan, kawasan konservasi berkembang menjadi destinasi wisata berbasis ekologi. Pelestarian lingkungan akhirnya berubah menjadi sumber kesejahteraan masyarakat," katanya.
Kini, penghasilan warga tidak lagi hanya berasal dari sektor pertanian.
Masyarakat memperoleh pemasukan dari penginapan, jasa transportasi wisata, pertanian, peternakan, hingga beragam atraksi budaya yang disiapkan bagi wisatawan.
Para pengunjung dapat menunggang kuda dan yak, mencoba memanah menggunakan whistling arrow, hingga mengangkat batu tradisional yang menjadi simbol kekuatan dalam budaya Tibet.
Menurut Nimaduoji, pengalaman budaya itu menjadi cara terbaik memperkenalkan sejarah dan tradisi masyarakat Nyingchi kepada wisatawan dari berbagai negara.
"Bagi kami, budaya dan sejarah merupakan buku pelajaran terbaik yang harus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang," ujarnya.
Perubahan ekonomi itu ikut mengubah kehidupan sosial masyarakat.
Jika dahulu sebagian besar penghasilan habis untuk membayar berbagai kebutuhan dasar, kini pendapatan keluarga lebih banyak digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup.
Anak-anak yang sebelumnya ikut bekerja membantu orang tua kini dapat bersekolah. Pelayanan kesehatan menjadi lebih mudah dijangkau.
Air bersih pun telah mengalir ke rumah-rumah warga sehingga mereka tidak lagi harus mengangkutnya secara manual dari sumber mata air.
Perubahan itu juga menarik perhatian Presiden China Xi Jinping yang mengunjungi Desa Gala pada 21 Juli 2021.
Dalam kunjungan tersebut, Xi meninjau pusat pelayanan publik, supermarket desa, klinik kesehatan, hingga rumah-rumah warga untuk melihat langsung perkembangan kehidupan masyarakat.
Pada tahun yang sama, pemerintah China juga memberikan penghargaan berupa bantuan dana tunai kepada desa.
Dana tersebut kemudian dibagikan secara merata kepada seluruh warga. Setiap keluarga menerima sekitar 90ribu yuan, atau setara sekitar Rp 234 juta.***
Editor : Donny TabelakSumber : Radar Badung