Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya dari Tiongkok (64)

Eka Prasetya • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 06:27 WIB
Peserta program CIPCC mencoba terapi massage kepala tradisional ala Tibet.(Foto Eka Prasetya)
Peserta program CIPCC mencoba terapi massage kepala tradisional ala Tibet.(Foto Eka Prasetya)

Menyaksikan Harmoni Tradisi dan Medis Modern di Tibet. Dari Terapi Bekam Hingga Massage

Radarbadung jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok. 

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Bangunan Nyingchi Tibetan Hospital di Kota Linzhi, Provinsi Xizang (Tibet), Tiongkok, terlihat megah. 

Di balik kemegahan tersebut, manajemen rumah sakit ternyata menyimpan warisan pengobatan yang telah bertahan selama berabad-abad. 

Rumah sakit tersebut menjadi ruang pelestarian ilmu kedokteran tradisional Tibet.

Pengobatan tradisional berjalan selaras dan seiring dengan pengobatan modern.

Para jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik berkesempatan mengunjungi rumah sakit tersebut dalam rangkaian The 5th Trans-Himalayan Conference.

Kunjungan itu berlangsung pada Sabtu (18/7).

Setibanya di lokasi, rombongan langsung diarahkan menuju lantai dua, tempat berbagai koleksi tanaman herbal dan sejarah perkembangan pengobatan tradisional Tibet dipamerkan.

Deretan bahan obat dari akar, batang, daun, bunga, hingga mineral tersusun rapi di ruang pameran.

Masing-masing dilengkapi penjelasan mengenai manfaatnya dalam pengobatan tradisional Tibet yang telah berkembang selama ribuan tahun.

Namun, perhatian saya tertuju pada sebuah manuskrip kuno yakni Gyud-zhi.

Naskah ini dikenal sebagai kitab paling penting dalam sistem pengobatan tradisional Tibet dan menjadi fondasi bagi para tabib dalam memahami berbagai penyakit serta metode penyembuhannya.

Gyud-zhi terdiri atas empat bagian utama. Tsagyu atau Root Tantra memuat prinsip-prinsip dasar ilmu kedokteran, keseimbangan energi tubuh, hingga teknik diagnosis melalui denyut nadi dan pengamatan lidah.

Bagian kedua, Shegyu atau Explanatory Tantra, menjelaskan anatomi, embriologi, psikologi, serta fungsi organ tubuh.

Sementara itu, Managagyu atau Instructional Tantra berisi panduan praktis untuk menangani berbagai jenis penyakit menggunakan pendekatan pengobatan Tibet.

Adapun Chimagyu atau Subsequent Tantra mengulas secara rinci farmakologi, mulai dari formulasi ramuan herbal hingga teknik pembuatan obat tradisional.

Nilai historis, budaya, sekaligus ilmiah yang dimiliki manuskrip tersebut membuat Gyud-zhi diakui sebagai salah satu warisan penting dunia.

Sejak 2023, naskah kuno ini resmi masuk dalam daftar Memory of the World UNESCO atau Warisan Ingatan Dunia.

Tak hanya mengenal sejarahnya, para peserta CIPCC juga diberi kesempatan merasakan langsung praktik pengobatan tradisional Tibet yang hingga kini masih diterapkan di rumah sakit tersebut.

Salah satunya adalah jurnalis asal Malaysia, Siti Zanariah Binti Nor Zin.

Ia memilih menjalani terapi pijat kepala karena sejak berada di Tibet ia mengeluhkan sakit kepala yang diduga dipicu altitude sickness.

Diduga akibat berada di kawasan dataran tinggi Xizang.

Selama proses terapi berlangsung, beberapa kali Zana bersendawa.

Menurut terapis, hal itu merupakan bagian dari proses pelepasan "angin" dari dalam tubuh sesuai konsep pengobatan tradisional Tibet.

"Ini pertama kalinya saya mencoba pengobatan tradisional Tibet. Kebetulan saya punya sakit kepala selama dua sampai tiga hari terakhir, mungkin karena altitude sickness. Tadi juga angin keluar semua, jadi lebih enak rasanya," ujar Siti.

Pengalaman berbeda dirasakan jurnalis asal Filipina, Janelle Lorzano.

Ia mencoba terapi bekam khas Tibet yang diawali dengan pengolesan ramuan herbal pada bagian punggung sebelum proses bekam dilakukan.

Setelah terapi selesai, praktisi kesehatan menjelaskan bahwa pasien tidak dianjurkan langsung mandi.

Alasannya, pori-pori dan pembuluh darah masih berada dalam kondisi terbuka sehingga tubuh memerlukan waktu untuk kembali beradaptasi.

"Bagi saya rasanya luar biasa. Tubuh saya terasa lebih segar," kata Janelle.

Kunjungan itu langsung membawa ingatan saya tentang manuskrip lontar usadha bali.

Kekayaan intelektual masyarakat Bali itu seolah ditinggalkan, bahkan ditinggalkan.

Padahal usadha dan pengobatan modern bisa berjalan seiring. 

Seperti di Tibet, pengobatan tradisional dan modern saling melengkapi tanpa melemahkan.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
Tiongkok medis jurnalis china jawa pos radar bali