Dari Linzhi ke Lhasa, Tujuh Jam Menembus Himalaya dan Melawan “Altitude Sickness”
Radarbadung.jawapoa.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Perjalanan dari Kota Linzhi menuju Kota Lhasa di Provinsi Xijang (Tibet), Tiongkok sebenarnya bisa ditempuh kurang dari satu jam dengan pesawat.
Namun, bagi kami, para jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik, cara tercepat bukanlah pilihan terbaik.
Siang itu, Sabtu (19/7), setelah menyelesaikan kunjungan di Nyingchi Tibetan Hospital, rombongan memilih menempuh perjalanan darat selama sekitar tujuh jam dari Kota Linzhi menuju Lhasa, ibu kota Daerah Otonomi Xizang (Tibet), Tiongkok.
Alasannya sederhana, tetapi sangat penting. Yakni memberi kesempatan tubuh beradaptasi dengan ketinggian agar terhindar dari altitude sickness atau penyakit akibat minimnya kadar oksigen di dataran tinggi.
Keputusan itu ternyata tepat. Linzhi berada di ketinggian sekitar 2.992 meter di atas permukaan laut.
Sementara Lhasa berdiri lebih tinggi lagi, sekitar 3.650 meter.
Jika perpindahan dilakukan terlalu cepat, tubuh berisiko mengalami gangguan akibat berkurangnya kadar oksigen di udara.
Bus yang kami tumpangi perlahan meninggalkan Linzhi. Semakin jauh perjalanan, lanskap di luar jendela berubah menjadi lukisan alam yang sulit digambarkan dengan kata-kata.
Pegunungan batu menjulang tanpa ujung membingkai jalan raya yang mulus.
Di beberapa lereng, kain-kain doa berwarna-warni khas Tibet berkibar ditiup angin pegunungan, seolah menyambut setiap pelintas yang memasuki kawasan Himalaya.
Hamparan biru Danau Basum-tso muncul di antara lekukan gunung.
Airnya begitu jernih hingga memantulkan langit dan puncak-puncak pegunungan di sekelilingnya.
Di punggung pegunungan lainnya, puluhan ekor yak tampak merumput bebas di lereng-lereng curam.
Hewan berbulu tebal yang menjadi ikon Tibet itu terlihat begitu tenang, seolah tipisnya oksigen bukan persoalan bagi mereka.
Berbeda dengan kami. Semakin tinggi kendaraan menanjak, semakin sering bus berhenti.
Bukan karena mesin mengalami gangguan, melainkan agar seluruh penumpang memiliki waktu beradaptasi dengan perubahan ketinggian.
Salah satu pemberhentian dilakukan di Gongbujiangda County, kawasan yang berada di ketinggian sekitar 3.465 meter di atas permukaan laut.
Di titik inilah suasana perjalanan mulai berubah.
Tim pendamping dari Kementerian Luar Negeri Tiongkok membagikan tabung oksigen portabel kepada seluruh peserta.
Sebagian jurnalis mulai mengeluhkan pusing.
Ada yang merasa kepalanya berat, tubuh melayang, bahkan keseimbangan mulai terganggu saat berjalan.
Kami pun mendapat penjelasan singkat mengenai cara menggunakan tabung oksigen tersebut jika sewaktu-waktu gejala altitude sickness muncul.
Awalnya saya menganggap semua itu sebagai langkah antisipasi yang berlebihan.
Saat itu, saya tidak mengalami gejala apapun. Saya merasa altitude sickness bukan hal yang nyata.
Anggapan itu berubah total ketika bus berhenti di Mila Mountain Pass, jalur pegunungan yang menghubungkan Gongbujiangda County dengan Maizhokunggar County.
Ketinggiannya mencapai sekitar 5.000 meter di atas permukaan laut.
Di sinilah saya benar-benar merasakan arti tipisnya oksigen.
Saat sebagian rekan turun dari bus sambil membawa tabung oksigen, saya memilih berjalan santai tanpa membawanya. Saya merasa tubuh masih cukup kuat.
Ternyata saya keliru. Hanya untuk menyeberangi jalan raya dua lajur saja, napas saya langsung tersengal-sengal.
Perjalanan beberapa puluh meter menuju toilet terasa seperti mendaki bukit yang tak kunjung berakhir.
Setelah selesai, saya masih harus berjalan kembali menuju bus. Jarak yang sebenarnya sangat dekat mendadak terasa begitu panjang.
Kepala mulai terasa ringan. Pandangan sedikit berkunang-kunang dan mulai gelap. Tubuh kehilangan tenaga. Saya bahkan nyaris pingsan.
Syukurnya, seorang rekan langsung memberikan tabung oksigen. Saya menghirup oksigen beberapa kali, tubuh akhirnya terasa lebih baik.
Pening di kepala sudah hilang, meski tubuh masih limbung.
Pengalaman singkat itu mengubah cara pandang saya terhadap altitude sickness.
Sejak saat itu, tabung oksigen portabel tidak pernah lagi lepas dari genggaman setiap kali turun dari bus ataupun berjalan di luar ruangan.
Ternyata, membawa oksigen di Tibet bukan sesuatu yang berlebihan.
Setibanya di Lhasa, saya baru menyadari bahwa tabung oksigen portabel dijual hampir di setiap toko.
Harganya sekitar 15 yuan, atau setara Rp40 ribu.
Bahkan hotel tempat kami menginap menyediakan selang oksigen medis lengkap di setiap kamar sebagai fasilitas standar bagi tamu.
Di kota yang berdiri di atas awan itu, oksigen bukan lagi sekadar kebutuhan medis, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pengalaman serupa juga dialami rekan jurnalis asal Türkiye, Mert Sagit.
Selama berada di Tibet, gejala altitude sickness yang dialaminya jauh lebih berat dari yang saya alami.
Dalam sehari, ia bisa menghabiskan dua hingga tiga tabung oksigen portabel hanya untuk menjaga kondisinya tetap stabil.
“Kepala saya terus terasa pusing dan sakit. Mungkin karena altitude sickness. Makanya saya tidak pernah lepas dari tabung oksigen portabel,” ujarnya sambil menggenggam tabung seukuran semprotan racun nyamuk.
Perjalanan tujuh jam dari Linzhi menuju Lhasa akhirnya memberi pelajaran yang tak saya temukan di buku perjalanan mana pun.
Keindahan Himalaya memang memanjakan mata, namun alam juga mengingatkan manusia akan batas kemampuannya.
Bahwa Di ketinggian ribuan meter, bernapas berubah menjadi sebuah kemewahan.***
Editor : Donny TabelakSumber : Radar Badung