Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali dari Tiongkok (65)

Eka Prasetya • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 09:19 WIB
Suasana di Potala Palace, Tibet. Istana tersebut menjadi lokasi ziarah umat Buddha.(FOTO EKA PRASETYA)
Suasana di Potala Palace, Tibet. Istana tersebut menjadi lokasi ziarah umat Buddha.(FOTO EKA PRASETYA)

Mengunjungi Potala Palace, Istana Megah yang Menjadi Rumah Spiritual di Tibet

Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Langkah demi langkah terasa semakin berat. Belasan anak tangga yang biasanya mudah dilalui mendadak terasa panjang.

Napas mulai memburu. Kepala sedikit berdenyut. Di ketinggian sekitar 3.700 meter di atas permukaan laut, udara Kota Lhasa, Provinsi Xizang (Tibet), Tiongkok, memang tidak bisa dianggap remeh.

Karena itulah, saya bersama para jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik membawa tabung oksigen portabel.

Sehingga saat kehabisan nafas dan mulai tersengal, ada bantuan yang bisa diandalkan.

Sebagian rekan – termasuk saya - mulai merasakan gejala altitude sickness. Ada yang mengeluh pusing, ada pula yang napasnya mulai terasa pendek.

Sementara saya, merasakan dada berdebar kencang dan mulai menusuk.

Kondisi itu membuat rombongan memutuskan mengambil jalur kunjungan singkat.

Waktu kami memang hanya sekitar dua setengah jam, tetapi faktor kesehatan jauh lebih menentukan.

Pagi itu kawasan Potala Palace sudah dipenuhi ribuan orang. Antrean pengunjung mengular.

Sebagian datang sebagai wisatawan yang ingin melihat kemegahan istana paling ikonik di Tibet.

Namun, lebih banyak lagi yang datang sebagai peziarah.

Mereka berjalan perlahan sambil memutar tasbih di tangan. Ada yang membawa botol kecil berisi minyak persembahan.

Ada pula yang menggenggam uang pecahan kecil. Wajah-wajah khusyuk jauh lebih banyak terlihat dibandingkan ekspresi wisatawan yang sibuk mencari sudut terbaik untuk berfoto.

Potala Palace memang bukan sekadar objek wisata. Bagi umat Buddha Tibet, tempat itu merupakan pusat spiritual yang telah menjadi tujuan ziarah selama berabad-abad.

Dari kejauhan, Potala Palace tampak seperti benteng raksasa yang tumbuh dari puncak Bukit Merah atau Marpo Ri, tepat di jantung Kota Lhasa.

Dinding putih yang mengapit bangunan merah di bagian tengah menjadikannya mudah dikenali, bahkan dari jarak beberapa kilometer.

Bangunan yang berdiri megah setinggi 13 lantai itu merupakan salah satu mahakarya arsitektur paling mengagumkan di dunia. Kompleks istana terbagi menjadi dua bagian utama.

Istana Putih (Phodrang Karpo) yang mendominasi bagian luar. Istana itu dahulu menjadi pusat pemerintahan sekaligus kediaman resmi Dalai Lama.

Sementara itu, Istana Merah (Phodrang Marpo) menjadi kawasan paling sakral karena digunakan khusus untuk aktivitas keagamaan.

Di dalamnya terdapat aula doa, kuil-kuil, ribuan naskah suci Buddha, hingga stupa emas tempat relik para Dalai Lama terdahulu disemayamkan.

Potala pertama kali dibangun pada abad ke-7 oleh Raja Songtsen Gampo sebagai benteng kerajaan.

Namun, kompleks megah yang berdiri saat ini mulai dibangun pada 1645 atas perintah Dalai Lama ke-5, Lozang Gyatso.

Hingga 1959, bangunan itu menjadi kediaman musim dingin para Dalai Lama.

Kini, Potala Palace telah beralih fungsi menjadi museum negara sekaligus pusat ziarah umat Buddha.

Pada 1994, UNESCO menetapkannya sebagai Situs Warisan Dunia karena nilai sejarah, budaya, dan arsitekturnya yang luar biasa.

Di balik dinding batu yang pada bagian dasarnya mencapai ketebalan lima meter itu, tersimpan lebih dari 1.000 ruangan, sekitar 10.000 altar kecil, dan sekitar 200.000 koleksi patung serta karya seni keagamaan.

Karena keterbatasan waktu, kami tidak mungkin menjelajahi seluruh kompleks. Dari 16 aula yang dibuka untuk umum, kami hanya mengunjungi enam aula.

Fokus utama kami adalah memasuki Istana Merah untuk melihat stupa makam Dalai Lama ke-5 yang menjadi salah satu peninggalan paling dihormati di Potala.

Sebagai catatan, melancong ke Potala Palace tidak bisa dilakukan secara spontan.

Pengunjung wajib memesan tiket setidaknya sekitar 10 hari sebelum jadwal kunjungan.

Artinya, wisatawan tidak bisa datang begitu saja lalu membeli tiket di lokasi.

Pada musim panas, tiket kunjungan singkat dibanderol 100 RMB (sekitar Rp 250 ribu).

Sementara paket kunjungan lengkap mencapai 200 RMB (sekitar Rp 500 ribu). Memasuki musim dingin, harga tiket kunjungan lengkap turun menjadi 100 RMB.

Pelajar serta pengunjung berusia di atas 60 tahun mendapatkan potongan harga sebesar 50 persen.

Selama musim dingin, tepatnya mulai 1 November hingga 30 April, Potala Palace juga tutup setiap hari Senin.

Dalam kunjungan itu, aktivitas para peziarah paling menarik perhatian saya.

Di hampir setiap ruangan, saya melihat orang-orang mengeluarkan uang tunai pecahan kecil dari dompet mereka.

Nilainya bervariasi, mulai 1 RMB hingga 10 RMB.

Belakangan saya mengetahui, banyak warga Tiongkok sengaja menukarkan saldo dompet digital mereka menjadi uang tunai sebelum memasuki Potala Palace.

Lembaran uang itu kemudian diletakkan di sekitar altar atau dimasukkan ke kotak donasi yang tersedia di berbagai sudut istana.

Bagi mereka, persembahan itu merupakan bentuk penghormatan sekaligus ungkapan syukur.

Selain uang, banyak peziarah membawa botol kecil berisi minyak mentega.

Cairan tersebut dituangkan ke lampu-lampu persembahan yang menyala hampir tanpa henti di dalam aula.

Aroma khas mentega memenuhi ruangan, berpadu dengan harum dupa yang terbakar perlahan.

Suasana terasa begitu hening. Tak ada suara gaduh. Semua larut dalam doa.

Selama berkunjung, ada aturan yang wajib dipatuhi.

Saat berada di dalam Potala Palace, semua orang harus berjalan mengikuti arah jarum jam. Tidak boleh berbalik arah. Tidak boleh melawan arus.

Seluruh jalur kunjungan memang telah dirancang membentuk satu putaran sehingga semua pengunjung bergerak searah.

Pemandu kami, Ping Ping, menjelaskan bahwa tradisi tersebut dikenal dengan istilah kora.

“Kora berarti mengelilingi objek suci sebagai bentuk penghormatan sekaligus meditasi,” ujarnya.

Menurut dia, berjalan searah jarum jam dipercaya mengikuti aliran energi spiritual dari patung, stupa, maupun benda-benda suci di dalam istana.

“Berjalan melawan arah dianggap tidak sopan dan mengganggu harmoni spiritual,” lanjutnya.

Aturan lain yang tak kalah ketat adalah larangan mengambil foto maupun video di dalam istana.

Awalnya saya mengira aturan itu hanya untuk melindungi koleksi museum.

Ternyata alasannya berbeda. Menurut Ping Ping, umat Buddha Tibet memandang benda-benda suci di dalam Potala sebagai bagian dari kehidupan spiritual.

Mengambil foto dipercaya seperti “menangkap” entitas suci lalu menyimpannya ke dalam telepon genggam.

“Memotret juga mengganggu kekhusyukan peziarah yang sedang beribadah,” katanya lagi.

Tanpa kamera, suasana di dalam istana memang terasa berbeda.

Yang terdengar hanya langkah kaki para pengunjung serta lantunan doa “Om Mani Padme Hum” yang diucapkan pelan.

Perjalanan ke Potala Palace membuat jurnalis asal Myanmar, That Wei San, begitu emosional. Beberapa kali ia berhenti di depan altar.

Lalu perlahan bersujud. Ia menempelkan kedua telapak tangan, menundukkan kepala, kemudian berdoa.

Ia menikmati Potala Palace dengan cara berbeda. Bukan sebagai jurnalis, bukan pula sebagai turis, melainkan sebagai seorang peziarah.

Momen itu membuat saya sadar. Potala Palace memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang.

Bagi sebagian orang, bangunan itu adalah mahakarya arsitektur dunia atau tempat wisata.

Namun bagi sebagian lainnya, Potala merupakan tempat paling suci yang mungkin hanya sekali seumur hidup bisa mereka kunjungi.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
Tiongkok Beijing jurnalis china jawa pos radar bali