Menyusuri Sera Monastery, Kampus Para Biksu Menempa Logika
Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
DI Sera Monastery, suara perdebatan biasanya terdengar setiap sore.
Bukan perdebatan penuh emosi, melainkan adu logika yang menjadi bagian dari tradisi pendidikan para biksu Tibet selama berabad-abad.
Sayangnya, saya bersama para jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik datang sedikit terlalu pagi.
Jarum jam baru menunjukkan waktu menjelang jam 12.00 siang ketika rombongan memasuki kompleks biara yang berada di pinggiran Kota Lhasa, Provinsi Xizang (Tibet), Tiongkok. Padahal, sesi debat para biksu baru dimulai sekitar pukul 15.00 waktu setempat.
Meski gagal menyaksikan tradisi yang telah mendunia itu, kunjungan ke salah satu biara terbesar di Tibet tersebut tetap membuka gambaran tentang bagaimana para biksu ditempa.
Bukan hanya menjadi pemuka agama, tetapi juga menjadi pemikir.
Didirikan pada 1419, Sera Monastery merupakan salah satu dari tiga biara besar aliran Gelug di Tibet. Dua lainnya adalah Drepung Monastery dan Ganden Monastery.
Ketiganya memiliki peran berbeda. Ganden Monastery lebih menitikberatkan pada praktik tantra.
Drepung Monastery sejak dahulu dikenal sebagai pusat administrasi politik dan ekonomi Tibet.
Sementara Sera Monastery menjadi “kampus” yang mengajarkan logika, dialektika, dan seni berdebat.
Karena itulah, nama Sera Monastery begitu identik dengan tradisi debat para biksu.
Menurut pemandu kami, Ping Ping, sesi debat yang berlangsung setiap sore bukanlah pertunjukan untuk wisatawan.
Debat tersebut merupakan bagian dari metode belajar yang sudah diwariskan turun-temurun.
“Perdebatan mereka sangat filosofis. Satu persoalan sederhana saja bisa dibahas berjam-jam,” ujarnya.
Ia memberi contoh sebuah botol air minum. Bagi orang awam, botol itu hanyalah wadah untuk menyimpan air.
Namun, bagi para biksu, sebuah botol dapat menjadi pintu masuk untuk membahas logika, hakikat keberadaan, sebab-akibat, hingga makna kehidupan. Semua diperdebatkan dengan argumentasi yang runtut.
Tradisi debat itu berawal dari proses pendidikan yang panjang.
Para calon biksu umumnya mulai tinggal di biara sejak usia tujuh hingga delapan tahun.
Mereka kemudian menjalani pendidikan selama sekitar 15 hingga 20 tahun.
Bukan hanya mempelajari kitab-kitab suci Buddha.
Mereka juga belajar logika, filsafat Buddhis, meditasi, hingga dialektika. Kemampuan berpikir kritis menjadi bagian penting dari proses pendidikan tersebut.
Karena itulah, debat menjadi metode utama untuk menguji pemahaman para biksu terhadap ajaran Buddha
Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka akan ditempatkan di berbagai lokasi sesuai kebutuhan.
Sebagian mengajar di biara lain. Sebagian lagi bertugas di Potala Palace sebagai administrator, pengawas stupa makam Dalai Lama, hingga pemimpin berbagai upacara keagamaan.
Selain menjadi pusat pendidikan, Sera Monastery juga menjadi tujuan ziarah umat Buddha.
Kompleks biara dipenuhi aula-aula yang menyimpan berbagai benda bersejarah.
Di dalamnya terdapat ribuan patung Buddha berlapis emas yang tersusun rapi di sepanjang ruangan. Salah satu yang paling dihormati adalah patung Buddha Maitreya.
Di beberapa ruangan juga tersimpan manuskrip-manuskrip kuno yang ditulis menggunakan tinta emas.
Menurut penjelasan Ping Ping, sebagian manuskrip tersebut diyakini berasal dari awal abad ke-15, tidak lama setelah Sera Monastery didirikan.
Usianya telah melampaui enam abad. Namun, kondisinya masih terawat dengan baik.
Saat mengunjungi salah satu aula, perhatian saya justru tertuju kepada beberapa warga yang datang sambil membawa patung Buddha berukuran kecil. Awalnya saya mengira patung-patung itu merupakan persembahan.
Ternyata bukan. Ping Ping menjelaskan bahwa masyarakat Tibet memiliki tradisi membawa arca atau patung Buddha ke biara sebelum ditempatkan di altar rumah.
Di Sera Monastery, patung-patung tersebut akan didoakan oleh para biksu. Biasanya patung itu ditinggalkan selama lima hingga tujuh hari.
Setelah ritual selesai, pemiliknya kembali datang untuk membawa pulang.
“Masyarakat percaya kalau patung langsung ditempatkan di rumah tanpa didoakan terlebih dahulu, patung itu masih 'kosong',” kata Ping Ping.
Seperti saat berkunjung ke Potala Palace, kami diwajibkan berjalan mengikuti arah jarum jam.
Seluruh jalur kunjungan memang telah diatur searah. Tidak ada pengunjung yang berjalan melawan arus.
Aturan lain juga berlaku sama ketatnya. Seluruh pengunjung dilarang mengambil foto maupun video di dalam bangunan.
Meski gagal menyaksikan debat para biksu, saya tetap merasa memperoleh pelajaran penting dari kunjungan ke Sera Monastery.
Tempat ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak selalu berlangsung di ruang kelas modern.
Di balik bangunan yang telah berdiri lebih dari enam abad itu, para biksu ditempa melalui disiplin, meditasi, pembacaan kitab suci, dan latihan berpikir kritis yang berlangsung bertahun-tahun.
Mereka belajar bukan untuk memenangkan perdebatan. Melainkan untuk memahami kebenaran melalui logika dan perenungan.***
Editor : Donny TabelakSumber : Radar Badung