Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya dari Tiongkok (68)

Eka Prasetya • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 11:56 WIB
Suasana di Nanshan Park, Kota Lasha, Provinsi Xizang (Tibet). Kawasan ini dulunya hanya bukit berbatu, namun berhasil berubah menjadi hutan kota.(FOTO EKA PRASETYA)
Suasana di Nanshan Park, Kota Lasha, Provinsi Xizang (Tibet). Kawasan ini dulunya hanya bukit berbatu, namun berhasil berubah menjadi hutan kota.(FOTO EKA PRASETYA)

Dari Bukit Tandus Menjadi Hutan Kota, Ambisi Tiongkok Mengubah Wajah Tibet

Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Sepanjang perjalanan menuju Nanshan Park, sulit membayangkan kawasan hijau itu dulunya hanya hamparan bukit berbatu.

Pepohonan yang kini tumbuh rapat, kolam yang dipenuhi ikan, hingga rusa yang sesekali muncul di sela-sela semak menjadi pemandangan yang bertolak belakang dengan kondisi belasan tahun silam.

“Kalau dulu, tidak ada yang datang ke sini. Isinya hanya bukit batu,” ujar Ping Ping, pemandu yang mendampingi saya bersama rombongan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik selama berada di Kota Lhasa, Provinsi Xizang (Tibet), Tiongkok.

Kini, cerita itu berubah total. Setiap akhir pekan, ribuan warga memadati taman yang berada di sisi selatan Kota Lhasa tersebut.

Ada yang datang bersama keluarga, berolahraga, membawa hewan peliharaan, hingga mendaki menuju titik tertinggi yang dikenal sebagai Puncak Zǔguó Wànsuì.

Perubahan itu bukan terjadi secara alami.

Perubahan itu merupakan cerminan kecil dari ambisi besar Pemerintah Tiongkok untuk menghijaukan Tibet, kawasan yang selama ini dikenal sebagai “Atap Dunia”.

Selama beberapa hari berada di Lhasa, saya menyadari satu hal yang cukup menarik.

Di berbagai sudut kota, pepohonan tumbuh cukup rapat.

Jalur hijau membelah jalan-jalan utama. Bukit-bukit yang mengelilingi kota pun mulai dipenuhi tumbuhan. 

Padahal, Tibet selama ini identik dengan bentang alam kering, dataran tinggi, dan pegunungan berbatu.

Belakangan saya mengetahui, perubahan tersebut merupakan hasil dari program penghijauan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Pemerintah Tiongkok mulai menjalankan proyek konservasi berskala besar sejak dekade 1990-an.

Program itu bertujuan menjaga kawasan hulu sungai, mengurangi penggurunan, memperbaiki kualitas tanah, sekaligus meningkatkan tutupan hutan di Tibet.

Proyek yang paling ambisius dimulai pada 2021. Proyek Penghijauan Gunung Utara-Selatan Lhasa.

Targetnya tidak main-main. Dalam kurun waktu 10 tahun, pemerintah menargetkan penghijauan seluas sekitar 137.813 hektare di kawasan pegunungan yang mengelilingi Kota Lhasa.

Secara keseluruhan, proyek penghijauan di wilayah tersebut bahkan diarahkan untuk membangun kawasan hutan hingga sekitar 705.333 hektare.

Khusus tahun 2026, sekitar 1.467 hektare hutan baru ditargetkan selesai ditanam.

Nanshan Park menjadi salah satu wajah paling nyata dari proyek tersebut.

Penghijauan sebenarnya telah dimulai lebih awal, tepatnya pada 2012, sebagai proyek percontohan dalam program penghijauan kawasan perkotaan.

Hasilnya kini terlihat jelas. Lebih dari satu juta pohon dari sekitar 120 spesies tumbuh di kawasan yang sebelumnya hanya berupa bukit tandus.

"Kalau sekarang, di sana sudah ada kolam, ikan, burung, bebek, bahkan rusa. Ekosistemnya benar-benar hidup," kata Ping Ping.

Perubahan itu membuat Nanshan Park menjadi salah satu ruang publik favorit warga Lhasa.

Setiap akhir pekan, jumlah pengunjung berkisar antara 2.000 hingga 5.000 orang. Yang menarik, seluruh kawasan dapat dinikmati tanpa dipungut biaya.

Tak heran jika taman itu selalu ramai sejak pagi. Sebagian warga memilih berjalan santai menyusuri jalur pedestrian.

Sebagian lagi mendaki hingga ke Puncak Zǔguó Wànsuì untuk menikmati panorama Kota Lhasa dari ketinggian.

Di salah satu sudut taman, saya bertemu Rami, warga Kota Lhasa. Perempuan itu datang bersama seekor anjing peliharaannya.

Baginya, akhir pekan terasa kurang lengkap tanpa menghabiskan waktu di Nanshan Park.

"Hampir setiap akhir pekan saya datang ke sini. Sekalian mengajak anjing jalan-jalan. Lumayan untuk melepas penat setelah bekerja selama seminggu," ujarnya.

Nanshan Park menunjukkan bahwa taman itu tidak lagi sekadar proyek penghijauan.

Lokasi telah berubah menjadi ruang sosial tempat warga berolahraga, bercengkerama, sekaligus menikmati udara segar.

Sekaligus menjadi cerminan ambisi Tiongkok menjaga kawasan tetap hijau, bukan dengan menggundulinya.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
Tiongkok tibet jurnalis china jawa pos radar bali