Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya dari Tiongkok (69)

Eka Prasetya • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 17:50 WIB
Jongjue Jie, guru seni lukis thangka menuntaskan salah satu karyanya. Seni lukis berusia berabad-abad tersebut masih eksis hingga kini.(Foto Eka Prasetya)
Jongjue Jie, guru seni lukis thangka menuntaskan salah satu karyanya. Seni lukis berusia berabad-abad tersebut masih eksis hingga kini.(Foto Eka Prasetya)

Menyaksikan Proses Pembuatan Thangka di Tibet, Seni Lukis Dari Abad ke-7 Masehi

Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Ujung kuas itu nyaris tak terlihat. Hanya beberapa helai bulu yang dirangkai menjadi satu, lalu bergerak perlahan di atas selembar kain putih yang direntangkan pada bingkai kayu.

Satu garis emas tipis muncul. Lurus, presisi, nyaris tanpa cela.

Di ruangan itu nyaris tak terdengar suara apa pun. Para pelukis bekerja dalam diam.

Sesekali mereka mendekatkan wajah ke kanvas, memastikan setiap sapuan kuas berada tepat di tempatnya.

Saya bersama rombongan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik hanya bisa memperhatikan dari balik bahu mereka. Tak seorang pun berani mengganggu konsentrasi para seniman.

Di galeri Thangka di Kota Lhasa, Provinsi Xizang (Tibet), Tiongkok, itu saya sadar bahwa melukis Thangka ternyata bukan sekadar pekerjaan seni. Namun lebih menyerupai ibadah.

Di salah satu sudut ruangan, seorang pelukis muda tengah menyempurnakan wajah Buddha. Tangannya bergerak sangat pelan. Kuas kecil sesekali berhenti beberapa detik sebelum kembali menyentuh kain.

Sementara di sisi lain, seorang seniman lain sibuk mengisi kelopak bunga satu demi satu. Warna hijau, merah muda, dan emas berpadu membentuk komposisi yang begitu hidup.

Tak ada gerakan tergesa. Tak ada kesan mengejar waktu. Semuanya berlangsung dengan kesabaran yang nyaris tak masuk akal.

Pemandangan itulah yang menyambut kami saat memasuki ruang kerja para pelukis Thangka. Dari dekat, saya melihat para pelukis melakukan pekerjaannya masing-masing.

Ada yang khusus membuat sketsa. Ada yang khusuk mewarnai. Ada pula yang hanya mengerjakan detail garis emas yang begitu halus hingga harus menggunakan kuas yang hanya terdiri dari beberapa helai bulu.

Bagi masyarakat Tibet, Thangka bukan sekadar lukisan. Karya tersebut merupakan media spiritual yang telah diwariskan selama ratusan tahun.

Thangka diyakini ditemukan pada abad ke-7 masehi. Kesenian itu erat kaitannya dengan masuknya agama Buddha ke Tibet.

Dalam bahasa Tibet, Thangka berarti sesuatu yang dipamerkan atau pesan yang digulung.

Lukisan dibuat di atas kain katun atau sutra, kemudian dibingkai menggunakan kain brokat agar mudah digulung dan dibawa dari satu tempat ke tempat lain.

Namun fungsi utamanya bukan sebagai dekorasi. Thangka menjadi media meditasi, sarana beribadah, sekaligus alat mengajarkan ajaran Buddha Mahayana maupun Vajrayana.

Karena itu, setiap gambar memiliki makna. Setiap warna mempunyai simbol.

Bahkan posisi tangan, mata, hingga ukuran tubuh tokoh yang dilukis sudah diatur secara ketat dalam kitab-kitab spiritual. Tak ada ruang bagi imaji kontemporer.

"Kami tidak boleh menggambar sesuka hati," ujar Jongjue Jie, seorang master Thangka yang telah menekuni seni tersebut selama 32 tahun.

Jie mengaku bagian paling sulit bukanlah mewarnai. Melainkan membuat sketsa awal. Terutama ketika harus menggambar mata.

“Yang paling sulit adalah membuat mata agar terlihat hidup,” katanya.

Kalimat itu terasa masuk akal ketika saya melihat langsung proses pengerjaannya. Satu mata saja dikerjakan berkali-kali dengan kuas yang sangat kecil.

Sedikit saja meleset, ekspresi seluruh lukisan bisa berubah. Tak heran jika para pelukis Thangka membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menguasai teknik tersebut.

Sebelum menjadi sebuah karya utuh, proses pembuatan Thangka dimulai dari kain katun yang direntangkan pada bingkai kayu. Permukaannya kemudian dilapisi campuran lem dan bubuk kapur.

Setelah kering, kain digosok hingga benar-benar halus. Barulah seniman membuat garis-garis kisi sebagai panduan proporsi tubuh. Setelah sketsa selesai, pewarnaan dilakukan secara bertahap.

Pigmen yang digunakan berasal dari bahan-bahan alami.

Mulai dari lapis lazuli untuk menghasilkan warna biru, malachite untuk hijau, cinnabar untuk merah, hingga serbuk emas murni 24 karat yang digunakan membuat garis-garis emas pada bagian akhir.

Tak heran jika warna-warna pada Thangka mampu bertahan hingga ratusan tahun.

Namun prosesnya belum selesai. Setelah lukisan rampung, karya tersebut masih harus dibawa ke biara.

Di sanalah seorang biksu akan menuliskan mantra di bagian belakang lukisan sekaligus memberikan doa pemberkatan. Barulah Thangka dianggap memiliki nilai spiritual.

Untuk menyelesaikan satu lukisan sederhana, seorang seniman membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua bulan.

Sementara karya berukuran besar dengan detail rumit dapat dikerjakan hingga satu tahun.

“Kalau ingin benar-benar menguasai Thangka, minimal tujuh tahun belajar,” ujar Jongjue Jie.

Karena itulah, ia mendirikan sekolah Thangka pada 2011.

Hingga kini, sekitar 70 siswa belajar di tempat tersebut. Menariknya, seluruh siswa mendapat pendidikan secara gratis. 

Mereka tidak hanya diajari melukis. Guru juga menyediakan tempat tinggal dan makanan.

"Tujuan kami agar budaya ini terus diwariskan dari generasi ke generasi," katanya.

Menurutnya, menjaga Thangka sama pentingnya dengan menjaga identitas budaya Tibet.

Apalagi, seni tersebut juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Harga sebuah Thangka berkisar mulai 20 ribu RMB atau sekitar Rp52 juta.

Untuk karya-karya terbaik, nilainya bahkan bisa mencapai 900 ribu RMB atau sekitar Rp 2,35 miliar.

Salah satu siswa, Tashi Tundu mengaku memutuskan terjun sebagai seniman Thangka. Ia mengaku berasal dari keluarga sederhana. Sejak kecil hidup bersama ibu dan neneknya setelah kehilangan ayah.

Ketertarikannya terhadap Thangka bermula ketika masih kecil diajak mengunjungi Sera Monastery. Di sana, ia melihat sebuah lukisan Thangka yang dipajang di dalam aula.

“Saat itu saya langsung ingin belajar melukis seperti itu,” katanya.

Keinginan tersebut akhirnya terwujud ketika diterima belajar di galeri milik Jongjue.

Selama belajar, ia tidak perlu memikirkan biaya pendidikan. Makan dan tempat tinggal seluruhnya ditanggung sekolah dan pemerintah.

Kini cita-citanya ialah ingin menjadi master Thangka. Kemudian membuka jalan bagi murid-murid berikutnya.

“Saya ingin menjadi guru dan punya murid sendiri,” ujarnya.

Ia juga optimistis profesi tersebut mampu memberikan kehidupan yang layak. “Thangka sangat menjanjikan,” katanya.

Melihat para seniman bekerja dari jarak dekat membuat saya memahami mengapa harga sebuah Thangka bisa mencapai miliaran rupiah.

Yang dibeli kolektor ternyata bukan sekadar lukisan. Namun buah kesabaran selama bertahun-tahun, serta keyakinan spiritual yang terus dijaga lintas generasi.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
Tiongkok jurnalis lukisan china jawa pos radar bali