Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya dari Tiongkok (70)

Eka Prasetya • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 09:19 WIB
Pementasan drama “Princess Wencheng” di Lembah Cijue Lin, Provinsi Xizang (Tibet), Tiongkok. Drama epic kolosal ini melibatkan lebih dari 800 orang penari.(Foto Eka Prasetya)
Pementasan drama “Princess Wencheng” di Lembah Cijue Lin, Provinsi Xizang (Tibet), Tiongkok. Drama epic kolosal ini melibatkan lebih dari 800 orang penari.(Foto Eka Prasetya)

Menyaksikan "Princess Wencheng", Saat Lanskap Alam Tibet Ikut Menjadi Bagian dari Panggung

Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Deretan toko penyewaan selimut menjadi pemandangan pertama yang menyambut kami saat memasuki Taman Kreatif Pariwisata Budaya Tiongkok-Tibet di Lembah Cijue Lin, Kota Lhasa, Provinsi Xizang (Tibet), Tiongkok.

Selimut yang disewakan pun bukan selimut biasa. Ukurannya nyaris sebesar bed cover, cukup untuk membungkus tubuh dari kepala hingga kaki.

Awalnya saya sempat bertanya-tanya. Mengapa orang rela menyewa selimut hanya untuk menonton pertunjukan seni?

Jawabannya baru saya temukan dua jam kemudian. Saat malam semakin larut, angin dingin dari Gunung Bumpa bertiup tanpa ampun ke tribun penonton.

Suhu yang terus turun membuat tangan mulai membeku, telinga mulai nyeri. Hembusan angin khas dataran tinggi Tibet menembus jaket yang saya kenakan.

Saat itulah saya menyadari, selimut tebal yang sejak awal dijajakan di pintu masuk ternyata bukan sekadar pelengkap, melainkan penyelamat bagi ribuan penonton yang datang setiap malam.

Malam itu saya bersama para jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik menyaksikan salah satu pertunjukan paling spektakuler yang pernah saya saksikan secara langsung, yakni “Princess Wencheng”.

Begitu pertunjukan dimulai, mata saya langsung tertuju pada Gunung Bumpa yang menjulang di belakang panggung.

Berbeda dengan pertunjukan teater pada umumnya, gunung itu bukan sekadar latar belakang. Gunung tersebut benar-benar menjadi bagian dari panggung.

Tata cahaya diproyeksikan langsung ke lerengnya. Cahaya, kabut, dan permainan visual membuat gunung seolah hidup mengikuti alur cerita.

Di atas panggung, ratusan penari mulai memenuhi arena. Tak lama kemudian, puluhan kuda berlari melintasi panggung.

Disusul kawanan domba yang menjadi bagian dari adegan. Seluruh elemen itu berpadu dengan langit malam Tibet yang bertabur bintang.

Saya berkali-kali berdecak kagum. Begitu pula rekan-rekan jurnalis lain yang duduk di samping saya.

Tak sedikit yang spontan mengangkat ponsel untuk merekam setiap adegan.

“Princess Wencheng” bukan sekadar pertunjukan tari. Opera kolosal berdurasi sekitar dua jam itu mengangkat kisah nyata pada abad ke-7, ketika Putri Wencheng dari Dinasti Tang menikah dengan Raja Songtsen Gampo dari Kerajaan Tubo atau Tibet kuno.

Pernikahan tersebut dikenang sebagai simbol perdamaian sekaligus awal pertukaran budaya antara dataran Tiongkok dan Tibet.

Kisah sejarah itulah yang dihidupkan kembali melalui pertunjukan berskala raksasa.

Lebih dari 800 penari dan aktor terlibat dalam setiap pementasan.

Puluhan hewan asli, mulai dari kuda hingga domba, ikut menjadi bagian dari cerita.

Bahkan alam dijadikan panggung utama. Langit malam. Gunung. Lembah. Semuanya menyatu dalam pertunjukan.

Pertunjukan tersebut dipentaskan pertama kali pada 2013. Sejak saat itu, "Princess Wencheng" telah dipentaskan lebih dari seribu kali dan menjadi salah satu ikon wisata malam Kota Lhasa.

Selama musim panas, sekitar April hingga Oktober, pertunjukan digelar setiap malam.

Sebaliknya, ketika musim dingin tiba, opera berhenti dipentaskan karena cuaca ekstrem di dataran tinggi Tibet.

Harga tiketnya tidak murah. Kursi reguler dibanderol mulai 380 RMB hingga 480 RMB atau sekitar Rp980 ribu sampai Rp1,2 juta.

Sementara kursi premium berkisar antara 580 RMB hingga 880 RMB atau sekitar Rp 1,5 juta hingga Rp 2,2 juta. Meski demikian, ribuan kursi hampir selalu terisi.

Pertunjukan tersebut juga telah menciptakan ribuan lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal sekaligus menjadi salah satu penggerak industri pariwisata di Lhasa.

Sosok di balik kemegahan itu adalah sutradara Mei Shuaiyuan. Ia dikenal sebagai kreator berbagai pertunjukan kolosal berlatar alam terbuka di Tiongkok. Dalam "Princess Wencheng", Mei memilih menceritakan kisah sang putri dari sudut pandang masyarakat Tibet.

Menurutnya, Putri Wencheng menghabiskan sebagian besar hidupnya di Tibet sehingga masyarakat setempat memiliki cara sendiri dalam mengenang dan menghormatinya.

Untuk menjaga keautentikan budaya Tibet, Mei menggandeng Bai Ji sebagai asisten sutradara sekaligus direktur artistik.

Bai Ji merupakan sutradara asal Tibet dan Wakil Ketua Asosiasi Tari Tibet. Perannya memastikan setiap gerakan tari, kostum, hingga unsur budaya yang ditampilkan tetap sesuai dengan tradisi masyarakat setempat.

Yang menarik, tim produksi tidak pernah menganggap pertunjukan itu sebagai karya yang selesai. Sejak dipentaskan perdana pada 2013, evaluasi dilakukan hampir setiap tahun.

Tata cahaya diperbarui. Teknologi panggung ditingkatkan. Alur cerita disempurnakan.

Bahkan setiap figuran dan pemeran pendukung ditata secara detail agar tidak ada adegan yang terasa sia-sia.

Keseriusan itu terlihat jelas sepanjang pertunjukan. Hampir tidak ada ruang bagi kesalahan.

Salah satu momen yang paling mengundang decak kagum adalah ketika efek salju buatan mulai turun.

Butiran putih berjatuhan perlahan dari langit-langit kursi penonton. Dipadukan dengan sorotan cahaya berwarna kebiruan, suasana berubah layaknya musim dingin sungguhan. Penonton serentak bersorak.

Sebagian mengulurkan tangan mencoba menangkap serpihan salju.

Saya sendiri sempat lupa bahwa semua itu hanyalah bagian dari pertunjukan. Efek visual tersebut terasa begitu nyata.

Kekaguman serupa juga dirasakan Saurabh Kumar, jurnalis asal India yang telah banyak menyaksikan pertunjukan seni di berbagai negara.

“Saya sudah menyaksikan banyak sekali jenis pertunjukan, tapi yang ini benar-benar beda, kolosal, dan luar biasa. Saya tidak pernah menyaksikan pementasan seperti ini sebelumnya,” ujarnya.

Menurut Saurabh, tim produksi sebenarnya bisa saja membuat pertunjukan kolosal yang biasa.

“Tapi sepertinya 'biasa' bukan hal yang berlaku untuk China. Mereka membuat pementasan ini benar-benar luar biasa,” katanya sambil tersenyum.

Sementara itu, jurnalis asal Indonesia, Nadia Ayu Soraya, tak mampu menyembunyikan emosinya setelah pertunjukan usai.

“Saya berkali-kali merinding saat menyaksikan pementasan ini. Hampir menangis menontonnya. Benar-benar tidak terlupakan,” tuturnya.

Saya paham betul dengan apa yang rekan-rekan saya rasakan. Karena sepanjang dua jam pertunjukan, saya pun berkali-kali dibuat terpukau.

Dua jam berlalu begitu cepat. Yang tersisa bukan hanya kisah cinta Putri Wencheng dan Raja Songtsen Gampo.

Melainkan pengalaman menyaksikan bagaimana sejarah, budaya, teknologi, dan bentang alam Tibet dipadukan menjadi sebuah pertunjukan kolosal yang sulit dicari tandingannya.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
Tiongkok Beijing jurnalis china jawa pos radar bali