Melihat Tembikar Nixing, Kerajinan Warisan Budaya Tak Benda di Negeri Tirai Bambu
Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Gerabah dan tembikar selalu ada di tiap peradaban manusia. Demikian pula di Tiongkok.
Di Tiongkok, salah satu kerajinan tembikar mereka, yakni Tembikar Nixing kini telah dijadikan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).
Saya bersama para jurnalis Asia Pasifik peserta program China International Press Communication Center (CIPCC) sempat melihat dari dekat bagaimana perkembangan tembikar tersebut belum lama ini.
Jejak Tembikar Nixing bisa dilihat di Nixing Pottery Museum atau Museum Tembikar Nixing.
Museum ini terletak di Kota Administrasi Qinzhou, Provinsi Guangxi, Tiongkok.
Museum tersebut menyimpan jejak panjang warisan tembikar Tiongkok yang telah berjalan selama 4.000 tahun atau 4 millenium.
Museum ini juga menyimpan lebih dari 600 replika tembikar dari masa ke masa.
Beberapa diantaranya merupakan replika tembikar yang diberikan kepada para kepala negara.
Ada pula tembikar dengan tanda tangan para kepala negara ASEAN.
Tembikar itu ditandatangani dalam acara China-ASEAN Expo and Business-Investment Summit beberapa tahun silam.
Tembikar Nixing memang Istimewa. Tembikar ini bukan cuma dibuat oleh satu jenis tanah liat.
Tapi dengan dua jenis tanah liat yang diambil dari tepian Sungai Qinjiang di Kota Qinzhou.
Yakni tanah liat merah di tepi barat sungai, dan tanah liat putih di tepi timur. Kedua tanah liat itu dicampur dengan rasio tertentu kemudian disimpan.
Sehingga muncul formula tanah liat yang sangat padat, halus, dan bebas dari kandungan racun.
Tembikar yang dihasilkan pun diklaim sangat aman untuk wadah makanan atau minuman.
Tanah liat kemudian dibentuk sesuai dengan keinginan. Entah itu teko, guci, gelas, piring, atau bentuk lainnya.
Selanjutnya tembikar dibakar pada tungku dengan suhu hingga 1.100 derajat celcius.
Setelah selesai dibakar, tembikar Nixing akan melewati proses pemolesan menggunakan batu khusus.
Hasil akhirnya membuat tembikar menjadi sangat keras.
Namun ketika disentuh, permukaannya sangat halus, lembut, dan mengilap. Tak perlu glasir untuk membuat kelembutan tersebut.
Tembikar Nixing pun sangat diminati sebagai teko dan cangkir.
“Masyarakat Tiongkok meyakini tembikar ini paling ideal untuk minum teh. Karena bisa menyerap aroma dan mempertahankan suhu dengan baik,” ungkap Ruan Hang, Analis di Kantor Kementerian Luar Negeri Provinsi Guangxi.
Biasanya tembikar ini juga sering dihiasi dengan teknik ukiran tangan.
Motif yang dipilih merupakan kaligrafi huruf Tiongkok atau lukisan tradisional.
Hingga kini ada lebih daro 300 orang ahli pembuat gerabah di Provinsi Guangxi.
Selain itu ada 20 ribu pekerja gerabah yang mayoritas menetap di Kota Qinzhou.
Total ada 700 perusahaan dengan nilai ekonomi sekitar 3 miliar yuan atau sekitar Rp 7,87 triliun yang berputar tiap tahunnya.
Produk tersebut juga diekspor ke luar negeri. Termasuk ke Australia, Selandia Baru, dan Indonesia.
“Tembikar ini juga menjadi salah satu hadiah yang selalu diberikan kepada pejabat negara yang berkunjung ke Tiongkok,” imbuh Ruan Hang.
Selain berkunjung ke museum, kami para jurnalis juga sempat merasakan langsung bagaimana membuat kerajinan gerabah.
Normalnya, untuk pembuatan tersebut memakan biaya Rp 175 ribu per sesi, belum termasuk pembakaran produk.
Tapi hari itu, kami merasakan pengalaman itu secara gratis.
Beberapa kawan jurnalis berusaha membuat gelas, ada yang ingin membuat vas, maupun piring.
Saya sendiri memilih bentuk yang sederhana dan relative mudah, yakni membuat mangkok.
Meski kelihatannya mudah, tapi yakinlah proses pembuatan gerabah itu sangat sulit.
Karena jari-jari tangan harus menekan tanah liat. Telapak tangan menjaga bentuk agar tak berubah.
Sementara kaki harus menginjak pedal untuk memutar piring gerabah. Semua harus dilakukan bersamaan. Tentu saja gerabah yang saya buat gagal total.
Namun ada beberapa rekan yang berhasil membuat produk tersebut. Pheng Somany, jurnalis asal Kamboja berhasil membuat produk itu. Ia hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit untuk membuat sebuah mangkok kecil.
“Ini hanya coba-coba saja, kebetulan berhasil. Sepertinya saya beruntung,” kata Somany.
Selain membuat gerabah, kami juga mendapat kesempatan melakukan hand carving atau mengukir di permukaan gerabah.
Kali ini, bagi saya lebih sulit lagi. Maklum, tangan saya tidak punya sentuhan seni.
Saat mengukir, kami diberikan sebilah pisau, selembar kertas karbon, serta selembar kertas putih yang di atasnya terdapat motif.
Caranya, kertas karbon diletakkan di atas permukaan gelas yang akan diukir, selanjutnya di atas kertas karbon letakkan kertas putih yang sudah ada motif.
Gerakkan pensil mengikuti motif yang tergambar di kertas putih. Selanjutnya motif akan terlihat di permukaan tembikar.
Tinggal ukir saja menggunakan pisau mengikuti motif. Kedengarannya gampang, tapi bagi orang yang tak punya jiwa seni seperti saya, itu bukan hal yang mudah.***
Editor : Donny TabelakSumber : Radar Badung