Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya dari Tiongkok (73)

Eka Prasetya • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 13:57 WIB
Suasana di Pelabuhan Teluk Beibu, Provinsi Guangxi, Tiongkok. Perlahan pelabuhan ini mulai menerapkan system otomatis dalam pengelolaan kargo.(Foto Eka Prasetya)
Suasana di Pelabuhan Teluk Beibu, Provinsi Guangxi, Tiongkok. Perlahan pelabuhan ini mulai menerapkan system otomatis dalam pengelolaan kargo.(Foto Eka Prasetya)

Berkunjung ke Teluk Beibu, Melihat Pelabuhan Masa Depan Serba Otomatis

Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.

 Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Suara mesin berat nyaris tak terdengar. Tak ada sopir yang lalu-lalang mengemudikan truk kontainer. Bahkan operator derek tidak terlihat berada di atas crane raksasa yang menjulang di tepi laut.

Pemandangan itu menyambut rombongan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik saat berkunjung ke Smart Port Innovation Center di Pelabuhan Teluk Beibu, Kota Qinzhou, Provinsi Guangxi, Tiongkok, pada pekan lalu.

Dari sebuah gedung kendali yang menghadap ke kawasan dermaga, aktivitas bongkar muat peti kemas berlangsung tanpa hiruk-pikuk yang lazim ditemukan di pelabuhan konvensional.

Sebagian besar pekerjaan dijalankan oleh sistem otomatis yang terhubung melalui jaringan digital.

"Semua peralatan berwarna biru yang terlihat di area terminal ini merupakan sistem yang sepenuhnya otomatis," ujar Tian Qiyu, penerjemah sekaligus perwakilan dari Guangxi Qinzhou Free Trade Port Area Honggang Terminal Co., Ltd.

Di bawah gedung observasi, kendaraan pintar tanpa pengemudi bergerak mengikuti jalurnya masing-masing.

Kendaraan tersebut mengangkut peti kemas dari dermaga menuju area penyimpanan tanpa dikendalikan manusia secara langsung.

Pelabuhan di Teluk Beibu ini terdiri dari dua sisi. Sisi pertama dengan peralatan serba oranye, masih dikendalikan secara manual. Petugas masih berada di crane, truk masih dikendalikan sopir.

Sementara di sisi lainnya, dengan peralatan serba biru, kini telah berjalan secara otomatis. Saya melihat langsung ketika dua truk tanpa sopir berjalan berdekatan.

Kedua kendaraan itu tidak saling senggol apalagi menabrak. Meski keduanya berjalan berdekatan. Adapun tenaga manusia, lebih banyak untuk perawatan peralatan.

Menurut Tian, seluruh aktivitas di terminal otomatis diatur oleh sistem operasi pelabuhan yang berfungsi layaknya otak digital.

Sistem itu mengumpulkan data operasional, menganalisis kebutuhan pekerjaan, lalu mendistribusikan instruksi secara otomatis kepada setiap peralatan yang terhubung.

Peran manusia kini lebih banyak bergeser menjadi pengawas. Para operator memantau jalannya aktivitas dari ruang kendali yang berada sekitar satu kilometer dari dermaga.

Mereka hanya turun tangan apabila sistem membutuhkan intervensi pada kondisi tertentu.

Transformasi digital tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Pelabuhan Teluk Beibu berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Terminal Kontainer Otomatis Qinzhou yang menjadi salah satu fasilitas utama di kawasan itu memiliki kapasitas desain mencapai 2,6 juta TEU per tahun.

Sepanjang 2025, empat dermaga otomatis yang beroperasi di kawasan tersebut telah menangani sekitar 2,205 juta TEU.

Sementara secara keseluruhan, Pelabuhan Teluk Beibu mencatatkan throughput kargo sebesar 358 juta ton pada 2025.

Angka itu menempatkannya sebagai pelabuhan pesisir terbesar kesembilan di Tiongkok. Untuk penanganan kontainer, volumenya telah melampaui 10 juta TEU dan menempati posisi kedelapan secara nasional.

Pelabuhan Teluk Beibu sendiri bukan hanya satu pelabuhan. Kawasan ini merupakan jaringan tiga pelabuhan utama yang memiliki fungsi berbeda.

Pelabuhan Qinzhou berfokus pada kontainer, industri elektronik, tekstil, produk manufaktur, hingga komoditas energi dan petrokimia.

Fangchenggang menjadi pintu masuk utama bagi bahan baku industri berat seperti batu bara, bijih besi, dan bauksit yang memasok kebutuhan Tiongkok bagian barat daya.

Sementara Pelabuhan Beihai melayani perdagangan regional, industri berbasis energi baru, bahan baku kertas, hingga sektor pariwisata dan kapal pesiar yang berkembang di kawasan pesisir Guangxi.

Di balik operasional tersebut, Smart Port Innovation Center berperan sebagai pusat inovasi dan pengembangan teknologi pelabuhan.

Di sinilah berbagai sistem berbasis kecerdasan buatan, jaringan 5G, big data, hingga otomasi alat berat dikembangkan dan diuji.

Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah integrasi antara jalur kereta api dan pelabuhan.

Tian menjelaskan, sebelum Juni 2023 kawasan stasiun logistik kereta api dan pelabuhan dipisahkan oleh sistem pengawasan yang berbeda.

Akibatnya, proses perpindahan barang membutuhkan prosedur tambahan.

Kini pagar pembatas antara keduanya telah dihilangkan dan sistem pengawasan disatukan.

Hasilnya, proses perpindahan kontainer dari kereta ke kapal atau sebaliknya menjadi lebih cepat.

"Dari sisi waktu saat ini lebih efisien sekitar 15 persen," kata Tian.

Efisiensi itu menjadi penting karena Pelabuhan Teluk Beibu diproyeksikan memainkan peran yang semakin besar dalam koridor perdagangan baru Tiongkok.

Dalam beberapa tahun ke depan, pelabuhan ini akan terhubung langsung dengan Terusan Pinglu, proyek kanal raksasa yang sedang dibangun di Guangxi.

Ketika terusan tersebut beroperasi, jalur distribusi dari wilayah pedalaman Tiongkok bagian barat dan barat laut menuju laut akan menjadi jauh lebih singkat.

Bagi negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, perkembangan ini berpotensi mempercepat arus perdagangan karena barang yang masuk melalui Guangxi dapat langsung didistribusikan ke kawasan industri di pedalaman Tiongkok tanpa harus melalui jalur yang lebih panjang seperti sebelumnya.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, kunjungan ke Smart Port Innovation Center memperlihatkan bagaimana pelabuhan tidak lagi hanya identik dengan dermaga, crane, dan tumpukan kontainer.

Pelabuhan masa depan kini juga berbicara tentang algoritma, kecerdasan buatan, dan ruang kendali yang mengatur ribuan pergerakan barang setiap hari dari balik layar komputer. Entah kapan hal serupa bisa diterapkan di Bali.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
Tiongkok Beijing jurnalis china pelabuhan