Menyaksikan Ketelatenan Industri Walet di Guangxi: Bermula dari Sehelai Sarang ke Botol Premium
Radarbadung.jawapos.com-Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Sebotol produk sarang burung walet yang dijual seharga 60 yuan (sekitar Rp 150 ribu) ternyata proses panjang yang menuntut kesabaran luar biasa.
Bukan mesin canggih atau teknologi otomatis yang menjadi kunci utama, melainkan ketelitian tangan manusia.
Pemandangan itu saya saksikan saat bersama jurnalis peserta program China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik mengunjungi fasilitas pengolahan sarang burung walet milik China-Malaysia Jinguyan (Guangxi) Biotechnology Co., Ltd di Kota Qinzhou, Provinsi Guangxi, Tiongkok, beberapa waktu lalu.
Di sebuah ruangan steril yang terang benderang, sejumlah pekerja duduk berjajar di depan meja stainless steel.
Mengenakan pakaian kerja putih, masker, dan sarung tangan, mereka menunduk fokus pada sarang burung walet yang berada di hadapan mereka.
Dengan pinset kecil di tangan, satu per satu bulu halus dan kotoran yang menempel dibersihkan secara manual.
Tidak ada gerakan tergesa. Semua dilakukan perlahan dan penuh kehati-hatian.
Saya sempat mengira pekerjaan itu bisa diselesaikan dengan cepat.
Nyatanya, seorang pekerja dalam jam kerja normal selama delapan jam sehari rata-rata hanya mampu membersihkan sekitar 10 sarang burung walet.
Jumlah itu terdengar sedikit. Namun setelah melihat langsung prosesnya, angka tersebut terasa masuk akal. Sedikit kesalahan dapat merusak bentuk sarang yang bernilai tinggi tersebut.
Dari ruang pembersihan itulah perjalanan produk sarang walet dimulai. Setelah melalui berbagai tahapan pengolahan, produk kemudian dipasarkan dalam beragam bentuk.
Ada yang tetap mempertahankan bentuk asli sarang walet, ada pula yang diolah menjadi minuman siap konsumsi dalam kemasan botol.
Saat permintaan pasar sedang tinggi, kapasitas produksi minuman sarang walet di fasilitas tersebut bisa mencapai 4.000 botol per hari. Setiap botol dijual sekitar 60 yuan atau setara Rp 150 ribu.
Di luar fasilitas produksi, Kota Qinzhou di Provinsi Guangxi, kini berkembang menjadi salah satu pusat pengolahan dan distribusi sarang burung walet terpenting di Tiongkok bagian barat daya.
Posisinya yang berada di kawasan Pelabuhan Teluk Beibu menjadikan kota ini sebagai penghubung strategis antara negara-negara penghasil sarang walet di Asia Tenggara dengan pasar konsumen Tiongkok yang sangat besar.
Long Hui, pendamping sekaligus penerjemah dari China-Malaysia Jinguyan (Guangxi) Biotechnology Co., Ltd, menjelaskan bahwa bahan baku sarang walet yang diolah saat ini sebagian besar masih berasal dari Malaysia.
“Untuk saat ini produk kami dipasarkan di dalam negeri karena mayoritas konsumennya memang berada di Tiongkok. Impor masih didominasi dari Malaysia karena kualitasnya sangat baik,” ujarnya.
Namun perusahaan tersebut mulai melirik negara-negara lain sebagai sumber pasokan baru.
“Kami juga sedang menjajaki peluang impor dari Vietnam, Kamboja, termasuk Indonesia,” tambahnya.
Pernyataan itu menarik perhatian. Sebab Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu produsen sarang burung walet terbesar di dunia.
Jika kerja sama tersebut berkembang, peluang ekspor Indonesia ke pasar Tiongkok berpotensi semakin besar.
Popularitas sarang walet ternyata tidak hanya terlihat di Tiongkok.
Siti Zanariah Binti Nor Zin, jurnalis asal Malaysia yang turut mengikuti kunjungan tersebut, mengatakan konsumsi sarang walet sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat di negaranya.
“Di Malaysia biasanya dijadikan jus, kemudian dikonsumsi. Itu cara paling murah untuk menikmatinya,” ujarnya sambil tersenyum.
Di Tiongkok, nilai sarang walet bahkan melampaui sekadar makanan atau minuman kesehatan. Produk ini memiliki makna budaya yang kuat.
Wang Anqui, warga Tiongkok yang ditemui dalam kesempatan berbeda, mengaku hidangan berbahan sarang burung walet hampir selalu hadir dalam momen-momen penting keluarga.
“Hidangan sarang burung walet sangat diminati. Meski harganya mahal, saat perayaan Imlek banyak keluarga berusaha menyediakannya karena dianggap melambangkan harapan akan rezeki dan keberuntungan pada tahun yang akan datang,” kata wanita yang akrab disapa Claire itu.
Selain faktor tradisi, banyak masyarakat Tiongkok juga meyakini sarang walet memiliki manfaat kesehatan, terutama bagi kalangan lanjut usia.
Di era industri modern yang serba otomatis, kunjungan ke pabrik pengolahan sarang walet di Qinzhou menghadirkan pemandangan yang berbeda.
Dari kunjungan itu saya memahami bahwa harga mahal sarang burung walet bukan hanya soal kelangkaan bahan baku. Tetapi juga tentang kesabaran, ketelitian, dan sentuhan tangan yang tersembunyi di balik setiap helainya.***
Editor : Donny TabelakSumber : Radar Badung