Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya dari Tiongkok (75)

Eka Prasetya • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 07:51 WIB
Truk tanpa supir alias truk otonom yang melintas di Pos Lintas Batas Pingxiang. Truk ini mulai beroperasi di Tiongkok, untuk menggenjot perdagangan antara Tiongkok dengan negara-negara ASEAN. (Foto Eka Prasetya)
Truk tanpa supir alias truk otonom yang melintas di Pos Lintas Batas Pingxiang. Truk ini mulai beroperasi di Tiongkok, untuk menggenjot perdagangan antara Tiongkok dengan negara-negara ASEAN. (Foto Eka Prasetya)

Menyusuri Gerbang Dagang di Perbatasan Negeri Tirai Bambu. Dari Buah Tropis Hingga Truk Tanpa Sopir

Radarbadung.jawapos.com-Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Sebuah truk kontainer perlahan bergerak menuju gerbang pemeriksaan perbatasan. Tidak ada sopir di balik kemudinya.

Kendaraan berwarna putih itu melaju tenang di jalurnya, berhenti sejenak ketika sensor mendeteksi objek di depannya, lalu kembali bergerak setelah jalur dinyatakan aman.

Truk kemudian mundur dengan perlahan. Secara presisi, kontainer truk langsung menuju lokasi bongkar muat. Tidak perlu sopir dan kernet.

Di kawasan perbatasan Pingxiang, Kota Chongzuo, Provinsi Guangxi, pemandangan seperti itu bukan lagi demonstrasi teknologi masa depan. Ia sudah menjadi bagian dari aktivitas perdagangan sehari-hari.

Belum lama ini, rombongan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari kawasan Asia Pasifik berkesempatan mengunjungi Pingxiang Integrated Free Trade Zone Declaration Centre, salah satu simpul perdagangan tersibuk antara Tiongkok dan Vietnam.

Di sinilah ribuan truk melintas setiap hari, membawa berbagai komoditas yang menghubungkan China, Vietnam, dan kawasan ASEAN yang lebih luas.

Pingxiang memiliki posisi geografis yang istimewa. Kota perbatasan ini berada di jalur strategis yang menghubungkan Nanning, ibu kota Provinsi Guangxi di Tiongkok, dengan Hanoi, ibu kota Vietnam. Jarak Hanoi dari perbatasan sekitar 160 kilometer, sementara Nanning berjarak sekitar 200 kilometer.

Pos lintas batas dan kawasan kepabeanan seluas 1,1 kilometer persegi yang dibangun sejak 2009 itu kini berkembang menjadi salah satu gerbang perdagangan darat terpenting antara Tiongkok dan Asia Tenggara.

Setiap pagi pukul 08.00 hingga pukul 19.00, arus kendaraan nyaris tak pernah berhenti.

Buah-buahan segar menjadi salah satu komoditas yang paling sering terlihat melintas. Durian, buah naga, dan mangga dari negara-negara ASEAN masuk ke pasar Tiongkok melalui kawasan ini.

Sebaliknya, jeruk menjadi salah satu komoditas utama yang bergerak dari Tiongkok menuju negara-negara Asia Tenggara.

Di pusat perdagangan buah Tiongkok-ASEAN yang berada tidak jauh dari kawasan tersebut, ribuan ton buah segar diproses dan didistribusikan setiap hari.

"Tahun lalu rata-rata kendaraan yang melintas sekitar 1.600 unit per hari. Padahal kapasitas clearance sebenarnya hanya sekitar 800 kendaraan per hari," ujar Deng Junrong, Head of Engineering Project Department Xiangfa Company.

Menurut dia, volume perdagangan terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 9 Juni lalu saja, tercatat 1.422 kendaraan masuk dari Vietnam ke Tiongkok dan 1.258 kendaraan bergerak ke arah sebaliknya.

Karena itu, kawasan perbatasan tersebut kini tengah mengembangkan terminal baru yang diharapkan dapat beroperasi selama 24 jam.

Namun bukan hanya volume perdagangan yang menarik perhatian para jurnalis. Perhatian kami justru tertuju pada kendaraan tanpa awak yang mondar-mandir di area kepabeanan.

Truk otonom buatan Sany Automobile itu menjadi salah satu simbol transformasi teknologi logistik di kawasan perbatasan tersebut.

Perusahaan Sany (dibaca Sanyi) selama ini lebih dikenal sebagai produsen alat berat seperti ekskavator dan crane.

Kini mereka juga mengembangkan kendaraan logistik tanpa pengemudi untuk mendukung sistem perdagangan lintas batas yang semakin sibuk.

Saat mode otomatis diaktifkan, kendaraan dapat bergerak sendiri menuju titik bongkar muat maupun area pemeriksaan.

Sistem keselamatannya bekerja cukup ketat. Jika terdapat objek atau kendaraan lain dalam radius sekitar 15 meter, truk akan berhenti secara otomatis.

Di gerbang pemeriksaan, kendaraan dibantu 12 sensor yang memastikan pergerakan tetap aman meski harus melewati jalur yang relatif sempit.

Beberapa jurnalis bahkan diberi kesempatan mencoba langsung sensasi menaiki kendaraan tanpa sopir tersebut.

Salah satunya Beberg Arif, jurnalis asal Pakistan.

"Di dalam ada kamera 360 derajat. Ini pengalaman yang aneh sekaligus menyenangkan," ujarnya sambil tertawa.

Menurut dia, rasa khawatir sempat muncul ketika kendaraan mulai bergerak tanpa pengemudi.

Namun perasaan itu perlahan hilang setelah melihat sistem keselamatan bekerja secara nyata.

"Saya lihat langsung ketika ada kendaraan yang terlalu dekat, kendaraan otomatis berhenti dan menunggu jarak aman. Baru setelah itu bergerak lagi. Biasanya berkendara dengan tanpa pengemudi ada perasaan khawatir, tapi ini tidak," katanya.

Di balik lalu lintas kendaraan yang sibuk, Pingxiang sesungguhnya sedang membangun sesuatu yang lebih besar daripada sekadar pos perbatasan.

Kawasan ini menjadi bagian penting dari upaya Tiongkok mempercepat perdagangan lintas batas melalui integrasi teknologi, sistem kepabeanan pintar, dan logistik digital.

Hasilnya terlihat jelas di lapangan. Truk-truk bergerak lebih cepat. Proses pemeriksaan menjadi lebih efisien. Arus perdagangan meningkat dari tahun ke tahun.

Di tempat ini, durian dari Asia Tenggara bisa bergerak menuju pasar Tiongkok dalam hitungan jam. Jeruk dari Tiongkok melaju ke negara-negara ASEAN melalui jalur yang sama.

Diantara lalu lintas komoditas tersebut, truk tanpa awak menjadi gambaran tentang masa depan logistik yang kini mulai berjalan di dunia nyata. Bukan lagi sekadar konsep dalam presentasi teknologi, melainkan kendaraan yang benar-benar

bekerja di salah satu gerbang perdagangan tersibuk Asia.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
Tiongkok jurnalis china jawa pos radar bali truk kontainer