Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya dari Tiongkok (76)

Eka Prasetya • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 17:00 WIB
Kondisi di Desa Mingshi, Provinsi Guangxi, Tiongkok. Kawasan dilindungi ini merupakan salah satu atraksi turis di Tiongkok.(Foto Eka Prasetya)
Kondisi di Desa Mingshi, Provinsi Guangxi, Tiongkok. Kawasan dilindungi ini merupakan salah satu atraksi turis di Tiongkok.(Foto Eka Prasetya)

Melihat Desa Mingshi yang Menemukan Kesejahteraan Lewat Eco-tourism

Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Jalanan berkelok membelah hamparan sawah hijau ketika kendaraan yang membawa rombongan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) melaju menuju Desa Mingshi, Kecamatan Kanxu, Kabupaten Daxin, Kota Administrasi Chongzuo, Provinsi Guangxi, Tiongkok.

Di kejauhan, deretan bukit karst menjulang.

Bentuknya tidak beraturan, sebagian menyerupai menara batu yang tumbuh dari tengah sawah, sebagian lainnya berdiri berlapis-lapis membentuk siluet khas kawasan perbukitan kapur.

Pemandangan itu seketika mengingatkan pada kawasan karst Rammang-Rammang di Sulawesi Selatan.

Bedanya, di Mingshi, bentang alam tersebut dipadukan dengan persawahan, sungai yang tenang, dan aktivitas wisata yang berkembang di tengah kehidupan masyarakat desa.

Kawasan yang dikenal sebagai Mingshi Pastoral Scenic Area itu merupakan salah satu destinasi wisata nasional berperingkat 4A di Tiongkok. Namun, daya tariknya bukan hanya karena keindahan alam.

Di tempat ini, pertanian dan pariwisata tumbuh berdampingan.

Rombongan jurnalis dari kawasan Asia Pasifik diajak mengunjungi sebuah resort yang berdiri di tengah area persawahan.

Dari lokasi tersebut, pegunungan karst tampak begitu dekat seolah menjadi dinding alami yang mengelilingi desa.

Tidak terlihat gedung-gedung tinggi atau pembangunan yang mendominasi lanskap.

Yang tampak justru petak-petak sawah, sungai yang mengalir tenang, dan gugusan bukit karst yang menjadi latar kehidupan masyarakat setempat.

Desa Mingshi sendiri berada di kawasan perbatasan Tiongkok dan Vietnam. Selain dikenal karena lanskap karstnya, wilayah ini juga menjadi rumah bagi enam kelompok etnis yang hidup berdampingan.

Masyarakatnya masih mempertahankan budaya agraris, terutama tradisi bercocok tanam padi yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat etnis Zhuang.

Untuk melihat lebih dekat kehidupan di kawasan tersebut, para jurnalis diajak menaiki shuttle car listrik yang berkeliling menyusuri jalur wisata desa.

Sepanjang perjalanan, terlihat bagaimana aktivitas ekonomi tumbuh dari kehadiran wisatawan.

Di beberapa titik, warga menjual aneka suvenir dan produk kerajinan lokal. Di tepian sungai, sejumlah perahu wisata bergerak perlahan membawa pengunjung menikmati panorama karst dari permukaan air. Ada pula yang duduk santai sambil memancing.

Menariknya, sebagian besar perahu tersebut menggunakan mesin listrik sehingga tidak menimbulkan kebisingan maupun polusi berlebihan.

Keberadaan wisatawan menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat tanpa harus mengubah karakter utama desa sebagai kawasan pertanian.

Sawah tetap ditanami. Sungai tetap terjaga. Pegunungan karst tetap menjadi pusat perhatian.

Namun pada saat yang sama, masyarakat memperoleh sumber pendapatan tambahan dari sektor wisata. Model inilah yang menarik perhatian banyak peserta CIPCC.

Jurnalis asal Türkiye, Mert Sagit, mengaku terkesan dengan lanskap yang ditemuinya di Mingshi.

“Saya sudah berkunjung ke banyak negara, tapi saya tidak pernah melihat tempat seperti ini. Tempat ini, menurut saya, seperti surga di bumi,” ujarnya.

Kekaguman serupa juga disampaikan Saurabh Kumar, jurnalis asal India.

Menurut dia, hal yang paling menarik bukan sekadar keindahan alam, melainkan bagaimana modernitas dan tradisi dapat berjalan berdampingan tanpa saling menghilangkan.

Ia menilai kawasan yang pada dasarnya merupakan daerah pertanian berhasil dikembangkan menjadi destinasi wisata tanpa mengorbankan keseimbangan ekologis.

“Saya menyukai model pembangunan seperti ini. Kawasan yang tetap berbasis pertanian mampu berkembang menjadi destinasi wisata sekaligus menambah pendapatan masyarakat melalui ekowisata tanpa merusak keseimbangan lingkungan. Ini pertama kalinya saya melihat tempat seperti ini dan saya sangat senang bisa berkunjung ke sini,” ujarnya.

Bagi banyak daerah, termasuk di Bali, pertumbuhan ekonomi sering kali berhadapan dengan upaya menjaga lingkungan. Namun di Mingshi, keduanya tampak berjalan beriringan.

Pegunungan karst yang dahulu hanya menjadi bagian dari lanskap alam kini menjadi aset wisata yang mendatangkan pengunjung dari berbagai daerah.

Sawah yang sejak lama menjadi sumber penghidupan masyarakat tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas desa.

Hasilnya adalah sebuah kawasan yang tidak hanya menawarkan panorama alam, tetapi juga menunjukkan bagaimana pembangunan dapat dilakukan tanpa harus memisahkan manusia dari lingkungan tempat mereka hidup.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
Tiongkok jurnalis sawah desa china