Menyusuri Detian-Ban Gioc, Ketika Air Terjun Menyatukan Dua Negara
Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Suara air terjun terdengar dari kejauhan. Aliran sungai yang membelah Tiongkok dan Vietnam tampak tenang.
Namun beberapa ratus meter kemudian, air itu jatuh berundak-undak dari tebing setinggi puluhan meter, membentuk salah satu air terjun lintas batas negara terbesar di dunia.
Di sinilah Air Terjun Detian-Ban Gioc berada. Objek wisata ini tak hanya menawarkan keindahan, tapi juga simbol kerja sama dua negara yang terpisah garis perbatasan.
Beberapa waktu lalu, rombongan jurnalis dari berbagai negara Asia Pasifik peserta China International Press Communication Center (CIPCC) berkesempatan mengunjungi Kawasan Kerja Sama Pariwisata Lintas Batas Air Terjun Detian (Ban Gioc) Tiongkok-Vietnam di Kota Chongzuo, Provinsi Guangxi, Tiongkok.
Dari anjung pandang utama, hamparan pegunungan karst berdiri kokoh mengelilingi air terjun. Di bawahnya, Sungai Guichun—atau Quay Son dalam bahasa Vietnam—mengalir sebagai sungai perbatasan yang selama puluhan tahun menjadi penanda wilayah dua negara.
Namun kini, sungai itu tidak lagi hanya berfungsi sebagai batas. Ia menjadi penghubung.
Masyarakat setempat menyebutnya sebagai mother river, sungai induk yang menghidupi warga di kedua sisi perbatasan.
Di sepanjang tepian sungai, aktivitas warga Tiongkok dan Vietnam berlangsung berdampingan.
Sebagian bahkan masih memiliki hubungan keluarga karena perkawinan campur yang telah berlangsung selama beberapa generasi.
Sekitar sepertiga penduduk yang tinggal di wilayah sekitar merupakan warga keturunan Vietnam yang memiliki ikatan kekerabatan lintas negara.
Kerja sama ini tidak lahir dalam semalam. Gagasan membangun kawasan wisata bersama mulai muncul pada 2009.
Setelah melalui berbagai pembahasan, Tiongkok dan Vietnam mencapai kesepakatan pada 2015 untuk membentuk China-Vietnam Cross-Border Tourism Cooperation Zone.
Masing-masing negara kemudian menyiapkan wilayah seluas dua kilometer persegi dari garis perbatasan untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata bersama.
Setelah menjalani masa uji coba pada 2023, kawasan ini mulai beroperasi penuh pada 2024.
Hasilnya, kini terdapat kawasan wisata lintas batas pertama yang memungkinkan wisatawan menikmati dua negara dalam satu perjalanan.
Konsep yang diusung pun sederhana namun revolusioner.
Melalui model "satu tiket untuk dua negara", wisatawan dapat menjelajahi area wisata di kedua sisi perbatasan tanpa harus melalui prosedur lintas negara yang rumit seperti umumnya.
Bagi warga perbatasan, kemudahan itu bahkan lebih terasa. Mereka memiliki kartu izin khusus yang memungkinkan keluar-masuk kawasan dalam waktu terbatas.
Meski tidak dapat menetap di negara tetangga, akses tersebut membuat hubungan sosial dan ekonomi antarwarga tetap terjaga.
Dari tepian sungai, perahu-perahu bambu hilir mudik membawa wisatawan mendekati air terjun.
Dengan membayar sekitar 30 yuan atau setara Rp 75 ribu, pengunjung dapat merasakan sensasi berada tepat di bawah percikan air yang jatuh dari ketinggian.
Sementara tiket masuk kawasan dibanderol sekitar 115 yuan atau setara Rp 250 ribu.
Saat rombongan CIPCC berkunjung, kawasan wisata tampak ramai. Wisatawan datang dari kedua sisi perbatasan, meski jumlah pengunjung dari Tiongkok terlihat lebih mendominasi.
Di berbagai sudut kawasan, warga Tiongkok dan Vietnam bekerja berdampingan.
Ada yang menjadi petugas wisata, pengemudi perahu, pedagang suvenir, hingga pekerja jasa lainnya.
Toko-toko juga memasang dua papan nama. Satu dalam huruf mandarin, satu lagi dalam bahasa Vietnam.
Pariwisata menjadi sumber penghidupan baru bagi masyarakat yang sebelumnya lebih bergantung pada pertanian dan perdagangan perbatasan.
Air Terjun Detian sendiri memiliki ketinggian mencapai 70 meter.
Sebagian besar alirannya berada di wilayah Tiongkok, sementara sisi lainnya masuk ke wilayah Vietnam yang dikenal dengan nama Thác Bản Giốc atau Air Terjun Ban Gioc.
Keindahan alam yang berpadu dengan lanskap pegunungan karst dan hamparan sawah hijau membuat kawasan ini kerap disebut sebagai salah satu air terjun terindah di Asia.
Bagi Maneenat Onpanna, jurnalis asal Thailand yang turut dalam kunjungan tersebut, kawasan ini menunjukkan bagaimana pariwisata dapat menjadi jembatan kerja sama antarnegara.
"Tempat ini juga bisa menjadi contoh yang baik serta proyek unggulan bagi kerja sama pariwisata antara Tiongkok dan negara-negara ASEAN," ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan Easmin Akter, jurnalis dari Bangladesh. Menurut dia, kemudahan akses yang diberikan di kawasan tersebut menjadi sesuatu yang menarik.
"Air terjun ini merupakan sebuah tempat yang luar biasa. Karena di sini wisatawan Vietnam tidak memerlukan visa. Orang-orang datang ke sini dan mereka bisa tinggal di kawasan ini selama enam jam," katanya.
Di lokasi ini, garis batas justru menjadi ruang perjumpaan. Air yang mengalir dari pegunungan tidak mengenal paspor maupun kewarganegaraan.
Wisatawan terus berdatangan sehingga menggerakkan perekonomian masyarakat.***
Editor : Donny TabelakSumber : Radar Badung