Di Kaki Pegunungan Karst, Desa Buhua Menjual Ketenangan Bagi Wisatawan
Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Sulit membayangkan jika sebuah kawasan dulunya hanya lahan pertanian tebu dan pisang.
Kini, di Desa Buhua, Kota Chongzuo, Provinsi Guangxi, Tiongkok, berdiri puluhan unit penginapan premium yang menyatu dengan bentang alam pedesaan.
Kompleks yang dikenal sebagai Wild Homestay Cluster itu memiliki 48 kamar yang tersebar dalam sejumlah bangunan rendah berbentuk unik.
Meski tarif menginap mencapai sekitar 2.000 yuan per malam atau setara Rp 4,5 juta, tingkat hunian di kawasan tersebut kerap penuh, terutama saat musim liburan di Tiongkok.
Pemandangan yang terlihat ialah sederet bangunan unik berbentuk menyerupai jamur yang tersebar di tengah bentang alam pedesaan.
Tidak ada gedung tinggi. Tidak ada hotel menjulang. Yang ada hanyalah Wild Homestay Cluster, kompleks penginapan pedesaan yang sengaja dirancang menyatu dengan alam.
Beberapa waktu lalu, rombongan jurnalis Asia Pasifik peserta program China International Press Communication Center (CIPCC) berkesempatan mengunjungi kawasan tersebut. Sesampainya di lokasi, kesan pertama yang muncul bukanlah kemewahan, melainkan ketenangan.
Bangunan-bangunan penginapan tampak tersembunyi di antara pepohonan pisang, tanaman tebu, dan lanskap hijau.
“Kalau berbuah, pisang ini bisa dimakan gratis oleh pengunjung,” Huang Miaomiao, penerjemah sekaligus perwakilan manajemen Wild Homestay Cluster.
Arsitekturnya dibuat rendah, mengikuti kontur alam sekitar.
Satu-satunya bangunan bertingkat yang terlihat justru berada di area kolam renang utama.
Dari lantai dua kolam renang itulah panorama terbaik tersaji.
Di kejauhan tampak gugusan pegunungan karst yang membentang hingga wilayah perbatasan Tiongkok dan Vietnam.
Lanskap khas Guangxi yang selama ini lebih banyak dikenal melalui foto-foto promosi pariwisata hadir nyata di depan mata.
Bagi para wisatawan, pemandangan itu menjadi salah satu alasan utama mengapa mereka rela merogoh kocek cukup dalam untuk menginap di sana.
Harga kamar di kompleks tersebut berkisar antara 2.200 hingga 2.600 yuan per malam, atau sekitar Rp 4,5 juta hingga Rp 5,3 juta. Dengan total 48 kamar yang tersebar dalam empat merek homestay berbeda, tarif itu tergolong premium untuk ukuran kawasan pedesaan.
Namun tingginya harga tidak membuat peminat berkurang. Menjelang musim liburan musim panas maupun libur nasional di Tiongkok, tingkat hunian kerap mencapai kapasitas penuh.
"Kami memiliki empat merek homestay yang dikelola secara terpisah. Masing-masing memiliki konsep berbeda. Ada yang lebih menonjolkan suasana artistik, ada juga yang mengusung desain modern dan minimalis," kata Huang.
Menurut Huang, kekuatan utama kawasan tersebut terletak pada kombinasi antara desain akomodasi dan panorama alam yang eksklusif. Ia menyebut model homestay seperti itu menjadi satu-satunya yang ada di Provinsi Guangxi.
Selain menikmati suasana pedesaan, para tamu juga dapat menggunakan berbagai fasilitas yang tersedia, termasuk kolam renang yang menghadap langsung ke pegunungan karst.
"Setiap homestay memiliki kolam renang. Saya memperhatikan tamu-tamu asing sangat menyukai fasilitas ini. Bahkan ketika hujan, mereka tetap ingin berenang," ujarnya sambil tersenyum.
Meski wisatawan domestik masih mendominasi, pengunjung mancanegara mulai berdatangan.
Menurut Huang, wisatawan dari Malaysia dan Indonesia termasuk yang paling sering berkunjung dari kawasan Asia Tenggara.
Mereka datang bukan sekadar mencari tempat menginap. Yang dicari adalah sesuatu yang semakin langka di kota-kota besar, yakni ketenangan.
"Tujuan utama kami adalah menciptakan lingkungan yang harmonis antara manusia dan alam. Saat ini banyak orang menghadapi tekanan pekerjaan yang besar. Mereka membutuhkan tempat untuk melepaskan diri dari hiruk-pikuk kota dan menenangkan pikiran," kata Huang.
Filosofi itulah yang menjadi dasar pengembangan kawasan tersebut. Wild Homestay Cluster mulai dikembangkan pada 2022 dan beroperasi penuh pada 2024.
Proyek ini merupakan bagian dari program revitalisasi pedesaan yang didorong Pemerintah Chongzuo.
Alih-alih membangun hotel besar, pengembang memilih memanfaatkan aset-aset desa yang sebelumnya tidak produktif.
Rumah-rumah dan lahan yang menganggur ditata ulang menjadi kawasan wisata yang terintegrasi dengan lingkungan sekitar.
Model yang diterapkan dikenal sebagai pola "koperasi dan petani". Melalui pendekatan tersebut, masyarakat desa tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi ikut merasakan manfaat ekonominya.
Menurut Huang, sekitar 90 persen pekerja di kompleks homestay merupakan warga lokal.
Kehadiran kawasan wisata itu membuka lapangan kerja baru, mulai dari staf penginapan, petugas kebersihan, pengelola fasilitas, hingga pekerja sektor pendukung lainnya.
"Selain itu, usaha lain seperti rumah makan dan toko-toko di sekitar desa juga ikut berkembang," ujarnya.
Transformasi itu mengubah wajah Desa Buhua dalam waktu relatif singkat. Lahan yang dahulu hanya menghasilkan tebu dan pisang kini menghasilkan sumber ekonomi baru melalui sektor pariwisata.
Di tengah derasnya urbanisasi yang membuat banyak desa kehilangan penduduk mudanya, Buhua menawarkan cerita berbeda.
Desa ini justru mencoba mempertahankan kehidupan pedesaan dengan cara menjual keindahan alam, ketenangan, dan pengalaman hidup yang semakin sulit ditemukan di kota.***
Sumber : Radar Badung