Dari Toples ke Pasar ASEAN, Melihat Pabrik Jamur Raksasa yang Tumbuh di Pedesaan Guangxi
Radarbadung.jawapos.com-Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Ribuan botol berisi media tanam bergerak perlahan di atas jalur produksi otomatis.
Tidak ada tanah, tidak ada hamparan lahan pertanian luas seperti yang lazim dibayangkan ketika berbicara tentang budidaya pangan.
Di dalam ruangan bersuhu dingin itu, jamur-jamur enoki tumbuh seragam, berjajar rapi, dan hampir seluruh prosesnya dikendalikan oleh mesin.
Pemandangan tersebut menyambut rombongan jurnalis Asia Pasifik peserta program China International Press Communication Center (CIPCC) saat mengunjungi Guangxi Hualv Biotechnology di Kota Chongzuo, Provinsi Guangxi, Tiongkok, beberapa waktu lalu.
Perusahaan ini merupakan anak usaha Jiangsu Hualv Biotechnology, salah satu produsen jamur industri terbesar di Tiongkok.
Dari kawasan seluas lebih dari 35 hektare, perusahaan tersebut memproduksi berbagai jenis jamur konsumsi, mulai dari enoki, jamur giok putih, jamur kepiting (crab mushroom), shimeji, hingga jamur tanduk rusa (antler mushroom).
Di dalam fasilitas produksi, suasana lebih menyerupai pabrik teknologi dibandingkan lahan pertanian. Jamur tumbuh subur tanpa sinar matahari.
Botol-botol media tanam bergerak otomatis dari satu tahapan ke tahapan berikutnya.
Komposisi bahan baku dicampur menggunakan sistem otomatis. Proses sterilisasi dilakukan setiap satu setengah jam.
Setelah itu, media tanam memasuki tahap inokulasi atau penanaman bibit yang juga dikerjakan oleh mesin.
Manusia tetap hadir, tetapi sebagian besar berperan mengawasi sistem yang bekerja tanpa henti selama 24 jam.
“Paling penting adalah otomatisasi. Mereka menggunakan fasilitas otomatis untuk membuat bahan baku sehingga efisiensinya meningkat. Dalam proses inokulasi juga otomatis. Kami sudah menyiapkan sistem yang mengatur suhu dan kelembapan ruangan secara otomatis. Bahkan proses pengepakan juga menggunakan robot,” kata Huang Chunying, penerjemah yang mendampingi kunjungan tersebut.
Menurut Huang, teknologi menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas dan produktivitas.
Suhu ruangan dijaga stabil pada kisaran 5 hingga 15 derajat Celsius. Kelembapan, pencahayaan, hingga sirkulasi udara dipantau secara ketat agar jamur tumbuh dalam kondisi ideal.
Budidaya dilakukan menggunakan media tanam khusus yang ditempatkan di dalam botol.
Seluruh komposisi bahan diatur secara otomatis untuk memastikan keseragaman hasil.
Rata-rata jamur membutuhkan waktu sekitar 52 hari hingga siap dipanen.
Setelah sekitar 45 hari berada di dalam ruang budidaya utama, botol-botol tersebut dipindahkan ke area pertumbuhan akhir agar jamur dapat berkembang lebih tinggi sebelum dipanen.
Hasilnya adalah produk dengan bentuk yang seragam dan kualitas yang konsisten.
Dari fasilitas di Guangxi, produksi berlangsung dalam skala yang sulit dibayangkan untuk sebuah komoditas yang selama ini identik dengan pertanian tradisional.
Setiap hari, perusahaan mampu menghasilkan antara 1,5 juta hingga 2 juta kemasan jamur.
Produk-produk tersebut kemudian didistribusikan ke berbagai wilayah di Tiongkok maupun pasar internasional.
Menurut manajemen perusahaan, ekspor saat ini mencapai sekitar 180 ton per hari.
Negara-negara ASEAN menjadi salah satu tujuan utama, termasuk Indonesia, Laos, Kamboja, dan Myanmar.
Selain itu, perusahaan juga mulai memperluas pasar ke Eropa dan menjajaki peluang ekspor ke Amerika Serikat.
Di tingkat pabrik, harga jamur relatif terjangkau. Untuk kemasan 200 gram, harga jual sekitar dua yuan.
Sementara satu kilogram jamur dibanderol sekitar delapan yuan atau sekitar Rp 20 ribu.
Di balik angka produksi yang besar, terdapat jaringan bisnis yang terus berkembang.
Jiangsu Hualv Biotechnology kini mengoperasikan pusat produksi di delapan wilayah, yakni Jiangsu sebagai kantor pusat, Chongqing, Hunan, Hubei, Guangxi, Zhejiang, Guizhou, dan Yunnan.
Secara keseluruhan, kapasitas produksi perusahaan menempatkannya dalam tiga besar industri jamur Tiongkok.
Meski sebagian besar proses produksi telah diotomatisasi, perusahaan tetap mempekerjakan warga lokal, terutama pada bagian pengepakan dan operasional pendukung.
Menurut Huang, rata-rata pekerja menerima gaji antara 4.000 hingga 7.000 yuan (antara Rp 10 juta hingga Rp 17,5 juta per bulan, tergantung jenis pekerjaan dan tingkat keterampilan.
Model pembangunan seperti inilah yang menarik perhatian Beberg Arif, jurnalis asal Pakistan yang turut mengikuti kunjungan tersebut.
Menurut dia, keberhasilan perusahaan tersebut menunjukkan bahwa pertanian modern tidak selalu bergantung pada luasnya lahan subur.
Ia menilai keputusan membawa industri ke wilayah pedesaan menjadi salah satu langkah penting dalam pembangunan ekonomi Tiongkok.
"Hal terbaik yang dilakukan Tiongkok terhadap perekonomiannya adalah membawa industri ini ke wilayah pinggiran, kepada masyarakat lokal di daerah pedesaan. Ini merupakan model yang sangat efisien yang tidak hanya dapat diterapkan di seluruh Tiongkok, tetapi juga memberikan pelajaran berharga bagi revitalisasi pertanian di negara-negara berkembang," katanya.
Pertanian tidak lagi selalu identik dengan sawah, ladang, atau kebun yang membentang luas.
Di Chongzuo, masa depan itu tumbuh dari jutaan botol yang tersusun rapi di dalam ruang bersuhu dingin, dipantau sensor, dijalankan mesin otomatis, lalu dikirim ke berbagai negara setiap hari.***
Editor : Donny TabelakSumber : Radar Badung