Membaca Jejak 2.000 Tahun Leluhur Zhuang di Dinding Tebing Guangxi
Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Relief sosok manusia berwarna merah memenuhi dinding tinggi di dalam ruangan museum.
Sebagian digambarkan berdiri tegak dengan kedua tangan terangkat ke atas. Sebagian lain tampak lebih kecil, mengelilingi figur utama yang berada di tengah.
Di bawahnya terlihat gambar hewan, sementara di atas kepala beberapa figur manusia tergambar benda berbentuk lingkaran yang menyerupai gendang.
Sekilas, lukisan itu tampak sederhana. Namun, lukisan itu sudah berusia lebih dari dua milenium.
Dibalik goresan itu diyakini tersimpan kisah tentang leluhur etnis Zhuang – salah satu etnis minoritas di Tiongkok - yang hingga kini masih menyisakan banyak misteri.
Replika seni cadas itu menjadi salah satu koleksi utama yang menyambut rombongan jurnalis Asia Pasifik peserta program China International Press Communication Center (CIPCC) saat mengunjungi Museum Etnis Zhuang di Kota Chongzuo, Provinsi Guangxi, Tiongkok, beberapa waktu lau.
Museum ini memiliki posisi penting di Guangxi. Kota Chongzuo dikenal sebagai salah satu wilayah dengan populasi etnis Zhuang terbesar di Tiongkok.
Karena itu, museum tersebut didedikasikan untuk merekam perjalanan sejarah, budaya, kehidupan sosial, hingga perkembangan masyarakat Zhuang dari masa ke masa.
Namun dari seluruh koleksi yang dipamerkan, perhatian pengunjung paling banyak tertuju pada replika Lanskap Budaya Seni Cadas Zuojiang Huashan.
Situs asli lukisan tersebut berada di tebing-tebing karst yang menjulang di sepanjang Sungai Mingjiang dan Sungai Zuojiang, dekat perbatasan Tiongkok dan Vietnam.
Karena lokasinya dilindungi secara ketat dan sulit dijangkau, museum menghadirkan replika berukuran jumbo yang memungkinkan pengunjung melihat detail lukisan dari jarak dekat.
Bagi masyarakat Guangxi, seni cadas Huashan bukan sekadar peninggalan arkeologi.
Dari gambar-gambar itulah mereka berusaha memahami asal-usul leluhur mereka.
Para peneliti meyakini lukisan-lukisan itu dibuat oleh masyarakat Luo Yue, kelompok kuno yang diyakini sebagai leluhur langsung etnis Zhuang saat ini.
Lukisan tersebut diperkirakan dibuat antara abad ke-5 sebelum Masehi hingga abad ke-2 Masehi.
Pada 2016, kawasan itu diakui UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia karena nilai sejarah dan budayanya yang luar biasa.
Data yang ditampilkan museum menunjukkan terdapat sedikitnya 38 situs seni cadas yang ditemukan di sepanjang aliran Sungai Mingjiang, Zuojiang, dan Lijiang.
Di antara ribuan gambar yang ditemukan, motif manusia mendominasi.
Tercatat ada 3.315 gambar manusia, terdiri dari 1.152 figur yang digambarkan menghadap ke depan dan 2.163 figur tampak dari samping.
Tinggi figur manusia rata-rata mencapai 1,8 meter, sementara yang terbesar mencapai 3,58 meter.
Sebagian besar gambar pada situs Huashan memperlihatkan sosok manusia menghadap ke depan dengan posisi tangan terangkat dan lutut sedikit menekuk.
Di bagian bawah sering ditemukan gambar hewan, sementara di atas kepala figur manusia kerap tergambar gendang perunggu.
Museum mencatat setidaknya terdapat 368 motif gendang perunggu dalam keseluruhan situs seni cadas tersebut.
Bagi masyarakat, gendang perunggu bukan sekadar alat musik.
Benda itu merupakan simbol kekuasaan, kemakmuran, dan sarana ritual yang sangat penting.
Selain gendang, para arkeolog juga menemukan 174 gambar pedang yang tersebar di berbagai situs.
Ada pula gambar lonceng perunggu yang diyakini digunakan sebagai penanda ternak, terutama domba.
Motif hewan justru relatif sedikit. Dari 113 gambar hewan yang ditemukan, hanya satu yang menyerupai burung. Selebihnya diduga merupakan anjing.
Meski telah diteliti selama puluhan tahun, banyak pertanyaan tentang seni cadas Huashan yang belum terjawab.
Salah satunya adalah bagaimana masyarakat kuno mampu melukis tebing-tebing karst yang menjulang puluhan meter di atas permukaan sungai.
Para ahli menduga mereka menggunakan tangga atau perancah bambu untuk mencapai lokasi lukisan.
Masyarakat Luo Yue tampaknya memiliki standar tertentu saat memilih lokasi melukis.
Mereka memperhatikan keberadaan sungai, ketinggian tebing, dan tekstur batu sehingga semuanya terlihat konsisten.
Misteri lain yang belum terpecahkan adalah tujuan pasti pembuatan lukisan tersebut.
Berdasarkan berbagai penelitian, gambar-gambar itu diduga berkaitan dengan ritual persembahan kepada dewa bumi, dewa sungai, permohonan kesuburan, hingga perayaan kemenangan dalam peperangan.
Yang juga mengundang kekaguman adalah daya tahannya. Setelah lebih dari 2.000 tahun terpapar cuaca, warna merah pada lukisan masih terlihat jelas.
Para peneliti menemukan bahwa pigmen tersebut dibuat dari campuran batu oker merah, bahan organik, serta unsur-unsur alami yang memiliki ketahanan tinggi terhadap korosi.
Bagi masyarakat Zhuang masa kini, keberadaan seni cadas Huashan menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini. Karena itu, upaya konservasi terus dilakukan.
"Sejak ditemukan, pemerintah Tiongkok dan Partai Komunis Tiongkok terus melakukan konservasi dan perlindungan terhadap lokasi tersebut. Penelitian juga terus berjalan. Masyarakat desa di sekitar kawasan turut terlibat menjaga situs ini," kata Huang Xuanyu, penerjemah yang mendampingi kunjungan.
Selain seni cadas Huashan, museum juga menyimpan beragam artefak yang menggambarkan kehidupan masyarakat Zhuang.
Pengunjung dapat melihat koleksi pakaian tradisional, kain tenun brokat Zhuang dengan motif geometris khas, peralatan pertanian, rumah panggung tradisional, hingga alat musik rakyat yang digunakan dalam berbagai festival adat.
Sebagian alat musik dibuat dari bahan-bahan yang dekat dengan kehidupan masyarakat pedesaan, seperti bambu, labu, tempurung kelapa, hingga tanduk hewan.***
Sumber : Radar Badung