Mengunjungi Kuil Jingyuan, Napak Tilas Jejak Kavaleri Penjaga Perbatasan Xinjiang ktur
Radarbadung.jawapos.com-Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Bentuknya sekilas lebih menyerupai benteng pertahanan daripada sebuah tempat ibadah.
Tembok-tembok tebal mengelilingi kompleks seluas sekitar 15 ribu meter persegi itu.
Dari kejauhan, bangunannya tampak kokoh dan sederhana. Namun, begitu melangkah melewati gerbang utama, suasana berubah menjadi tenang.
Deretan aula ibadah, menara lonceng, museum, hingga panggung pertunjukan berdiri rapi dalam satu kawasan yang menjadi saksi perjalanan panjang sebuah etnis penjaga perbatasan Kekaisaran Qing.
Sejumlah jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) berkesempatan mengunjungi Kuil Jingyuan, salah satu kuil Buddha bersejarah di Lembah Sungai Ili, Kabupaten Otonom Qapqal Xibe, Provinsi Xinjiang, Tiongkok. Lokasinya sekitar 30 menit berkendara dari Kota Yining.
Kuil tersebut bukan hanya tempat ibadah. Kini kuil juga menjadi jejak sejarah salah satu etnis minoritas di Tiongkok mempertahankan identitas budaya mereka, setelah pindah dari kampung halaman mereka berabad-abad silam.
Memasuki kawasan kuil, pengunjung akan langsung utama tata ruang yang tertata simetris dengan poros utara–selatan.
Kompleksnya terdiri atas tiga tingkatan halaman, mulai dari halaman depan, tengah, hingga halaman belakang.
Di sisi kanan dan kiri berdiri menara lonceng serta menara drum, sementara aula utama menjadi pusat kegiatan keagamaan.
“Tata letaknya sangat menyerupai Forbidden City di Beijing. Mungkin leluhur masyarakat Xibe terinspirasi dari sana,” ungkap Byan, pemandu sekaligus penterjemah yang mendampingi kami siang itu.
Kini, kawasan tersebut tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah.
Sejumlah fasilitas pendukung seperti museum dan panggung pertunjukan juga dibuka sebagai destinasi wisata budaya sehingga masyarakat dapat mengenal lebih dekat sejarah suku Xibe.
Di museum itulah kisah panjang komunitas Xibe dipaparkan. Suku Xibe berasal dari Provinsi Jilin di timur laut Tiongkok.
Pada pertengahan abad ke-18, setelah Dinasti Qing berhasil menaklukkan Kekhanan Dzungar di wilayah barat, pemerintah kekaisaran menghadapi tantangan baru berupa pengamanan kawasan perbatasan Xinjiang yang sangat luas.
Untuk memperkuat pertahanan, Kaisar Qing memerintahkan sekitar 4.000 prajurit suku Xibe beserta keluarga mereka bermigrasi dari Shenyang menuju Lembah Sungai Ili pada 1764.
Mereka harus menempuh ribuan kilometer melewati gurun, padang rumput, hingga pegunungan selama hampir satu setengah tahun.
Dalam perjalanan panjang tersebut, jumlah rombongan terus bertambah.
Kelahiran serta bergabungnya prajurit dan masyarakat lain membuat populasi mereka meningkat menjadi sekitar 5.000 orang ketika akhirnya menetap di kawasan yang kini menjadi Kabupaten Otonom Qapqal Xibe.
Setibanya di Xinjiang, mereka membentuk sistem kavaleri militer untuk menjaga benteng-benteng perbatasan Kekaisaran Qing.
Selain bertugas sebagai pasukan penjaga wilayah, masyarakat Xibe juga membangun saluran irigasi yang dikenal sebagai Paban Canal, membuka lahan pertanian di Lembah Ili, sekaligus mendirikan berbagai fasilitas sosial dan keagamaan, termasuk Kuil Jingyuan.
Pembangunan kuil dimulai pada penghujung abad ke-19, sekitar 1892 hingga 1898.
Warisan budaya itu masih dijaga hingga sekarang. Setiap tanggal 18 bulan keempat dalam kalender lunar, yang biasanya jatuh pada Mei atau awal Juni, masyarakat Xibe memperingati hari perpindahan leluhur mereka dari Shenyang menuju Xinjiang melalui festival budaya yang berlangsung meriah.
Tak hanya melihat koleksi museum, rombongan jurnalis CIPCC juga diajak mencoba olahraga memanah di area kuil.
Aktivitas itu bukan tanpa alasan. Memanah merupakan identitas yang melekat kuat pada masyarakat Xibe sejak ratusan tahun lalu.
Menurut Byan, suku Xibe dikenal sebagai salah satu pasukan kavaleri paling disegani pada masanya karena memiliki kemampuan memanah yang sangat tinggi.
“Hingga sekarang tradisi itu masih dipertahankan. Di Qapqal Xibe, memanah sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Bahkan banyak pelatih nasional dan atlet panahan nasional Tiongkok berasal dari daerah ini,” ujarnya.***
Editor : Donny TabelakSumber : Radar Badung