Saat Waktu di Ponsel Mendadak Mundur Tiga Jam di Perbatasan Kazakhstan
Radarbadung.jawapos.com-Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Pesan SMS mendadak masuk ke ponsel saya. Pesan itu menyebutkan bahwa saya harus membeli paket roaming Kazakhstan, jika tidak, maka operator selular akan menggunakan paket normal.
Pesan itu sempat membuat saya panik. Karena saya hanya paket roaming Tiongkok.
Tak hanya itu, saya menyadari pada saat yang sama, jam di ponsel juga mundur tiga jam dari waktu normal.
Hal itu yang saya alami saat berkunjung ke kawasan perbatasan Horgos International Border Cooperation Centre (ICBC).
Kawasan itu merupakan lokasi perbatasan yang dikelola oleh dua negara, yakni Tiongkok dan Kazakhstan. Lokasinya berada di timur laut Tiongkok.
Perlu waktu sekitar 1,5 jam berkendara dari Kota Yinning, Provinsi Xinjiang, untuk menuju lokasi ini.
Saat kami para jurnalis peserta program China International Press Communication Center (CIPCC) berkunjung ke lokasi itu, kami langsung disambut bangunan-bangunan megah yang berdiri di salah satu pintu gerbang perdagangan paling sibuk di Asia Tengah.
Di sekitarnya berdiri kantor bea cukai yang menjadi titik pengawasan lalu lintas barang antara dua negara.
Namun, Khorgos bukan sekadar pos perbatasan. Kawasan ini menjadi salah satu simpul penting Belt and Road Initiative (BRI) atau Jalur Sutra Modern yang digagas Tiongkok.
Dari titik inilah berbagai komoditas hasil industri Tiongkok bergerak menuju negara-negara Asia Tengah hingga Eropa melalui jalur darat.
Mobil listrik dan berbagai produk energi terbarukan menjadi komoditas yang kini paling banyak melintasi perbatasan tersebut.
Jalur logistik Khorgos pun terus berkembang menjadi penghubung utama perdagangan lintas benua.
“Setiap hari ada 2.500 unit mobil listrik yang diekspor lewat jalur ini. Kebanyakan dikirim ke Kazakhstan, Uzbekistan, dan Kyrgyzstan,” ungkap Byan, pemandu sekaligus penterjemah yang mendampingi kami para jurnalis.
Kawasan ICBC Khorgos sendiri merupakan sebuah zona ekonomi khusus yang menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan perbatasan internasional pada umumnya.
Luas kompleksnya mencapai sekitar 5,6 kilometer persegi atau sekitar 560 hektare.
Area tersebut terbagi menjadi dua bagian oleh garis batas resmi negara. Sekitar 343 hektare berada di sisi Tiongkok, sedangkan 217 hektare lainnya berada di wilayah Kazakhstan.
Yang membuat kawasan ini istimewa adalah sistem bebas visanya.
Warga Tiongkok dan Kazakhstan, maupun wisatawan yang telah berada di dalam kawasan ICBC, dapat melintasi garis perbatasan hanya dengan menunjukkan paspor atau pas lintas batas.
Mereka tidak perlu mengurus visa selama tetap berada di dalam zona kerja sama tersebut.
Bahkan, pengunjung diperbolehkan berada di kawasan netral itu hingga 30 hari.
Pemeriksaan imigrasi secara penuh baru dilakukan apabila seseorang hendak melanjutkan perjalanan ke wilayah kedaulatan Tiongkok atau Kazakhstan di luar kompleks ICBC.
Pengalaman langsung saya rasakan saat memasuki kawasan tersebut.
Proses pemeriksaannya berlangsung sederhana. Petugas imigrasi hanya meminta paspor, kemudian menanyakan berapa lama kunjungan akan dilakukan.
Setelah dijawab kurang dari 24 jam, petugas langsung mempersilakan masuk.
Ketika keluar dari kawasan, paspor kembali diperiksa sebelum pengunjung meninggalkan area perbatasan.
Meski prosedurnya relatif mudah, sensasi berpindah negara tetap terasa nyata.
Hanya dengan berjalan kaki melintasi koridor di dalam kompleks, waktu pada ponsel otomatis berubah mengikuti zona waktu Kazakhstan yang menggunakan UTC+5. Sebaliknya, Tiongkok menerapkan satu waktu nasional, yakni Waktu Beijing atau UTC+8.
Tak lama berselang, pesan singkat dari operator seluler juga muncul. Layanan roaming internasional aktif secara otomatis karena jaringan telekomunikasi telah berganti ke operator Kazakhstan.
Pengalaman sederhana itu menjadi penanda bahwa batas negara di Khorgos benar-benar berada hanya beberapa langkah kaki.
Selain menjadi pusat perdagangan internasional, kawasan ini juga berkembang sebagai destinasi wisata belanja.
Mal-mal di sisi Tiongkok dipenuhi produk elektronik, pakaian, hingga berbagai kerajinan lokal dengan status duty-free.
Sementara itu, stan-stan di sisi Kazakhstan menawarkan beragam produk khas Asia Tengah.
Mulai cokelat Kazakhstan, parfum, produk berbahan kulit, minyak bunga matahari, hingga berbagai barang konsumsi lain yang menjadi incaran wisatawan.
Selama di Tiongkok, saya sendiri sudah mengunjungi dua kota perbatasan. Yakni kawasan perbatasan Pingxiang di Provinsi Guangxi yang menghubungkan Tiongkok dengan Vietnam, serta Khorgos di Provinsi Xinjiang yang menghubungkan Kazakhstan dan Tiongkok
Bagi saya, Khorgos menghadirkan wajah perbatasan yang berbeda.
Alih-alih dipenuhi pagar tinggi dan suasana mencekam, kawasan ini justru menjadi ruang pertemuan dua negara yang hidup dari aktivitas perdagangan, pariwisata, dan interaksi masyarakat lintas batas.***
Editor : Donny TabelakSumber : Radar Badung