Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya dari Tiongkok (84)

Eka Prasetya • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 14:46 WIB
Suasana di Masjid Besar Shaanxi di Prefektur Otonom Ili Kazakh, Provinsi Xinjiang, Tiongkok.(Foto Eka Prasetya)
Suasana di Masjid Besar Shaanxi di Prefektur Otonom Ili Kazakh, Provinsi Xinjiang, Tiongkok.(Foto Eka Prasetya)

Melihat Jejak Akulturasi Muslim di Masjid Besar Shaanxi Xinjiang

Radarbadung.jawapos.com-Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Jika tidak melihat tulisan kaligrafi Arab di dalam masjid, banyak orang mungkin akan mengira bangunan itu adalah kuil tradisional Tiongkok.

Atapnya bertingkat dengan lengkungan khas arsitektur Han, menara azannya menyerupai paviliun bergaya pagoda, sementara ukiran kayu memenuhi hampir setiap sudut bangunan.

Tak ada kubah besar ataupun menara tinggi seperti lazimnya masjid di Timur Tengah.

Pemandangan itulah yang menyambut sejumlah jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) saat mengunjungi Shaanxi Mosque atau Masjid Raya Shaanxi di Kota Yining, Prefektur Otonom Ili Kazakh, Provinsi Xinjiang, Tiongkok.

Masjid berusia lebih dari dua setengah abad itu menjadi salah satu bukti akulturasi budaya Tionghoa dan Islam yang masih terjaga hingga sekarang. Dari luar, bangunan tersebut benar-benar menyerupai kuil tradisional Han.

Struktur utamanya dibangun menggunakan kayu dan bata tanpa kubah bulat.

Atap bergaya gable-and-hip khas istana Tiongkok tampak mendominasi, dipadukan dengan ukiran kayu yang rumit dan detail.

Menara azannya pun tidak menjulang seperti kebanyakan masjid ala Timur Tengah.

Bentuknya justru menyerupai paviliun bertingkat yang identik dengan pagoda klasik Tiongkok.

Namun, begitu memasuki aula utama, nuansanya berubah. Kaligrafi Arab menghiasi dinding-dinding ruangan, berpadu harmonis dengan ornamen bunga dan ukiran khas seni Tionghoa.

Masjid tersebut didirikan pada masa Dinasti Qing oleh para pedagang dan perantau Muslim etnis Hui yang berasal dari Provinsi Shaanxi.

Mereka datang ke wilayah Ili melalui jalur perdagangan menuju Xinjiang, kemudian menetap dan membentuk komunitas di Kota Yining.

Jauh dari kampung halaman, para pedagang itu bergotong royong mengumpulkan dana untuk membangun tempat ibadah sekaligus pusat aktivitas masyarakat Muslim Hui.

Sebagai penanda asal-usul para pendirinya, masjid itu kemudian diberi nama Shaanxi Mosque.

Arsitekturnya pun sengaja dibuat menyerupai Masjid Raya Xi'an di Provinsi Shaanxi. Bukan sekadar mengikuti gaya bangunan, tetapi juga sebagai wujud kerinduan terhadap tanah kelahiran yang ditinggalkan ribuan kilometer jauhnya.

Di atas lahan sekitar 6.000 meter persegi, kompleks masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat salat.

Di dalamnya juga terdapat ruang pendidikan keagamaan, perpustakaan, serta ruang administrasi yang hingga kini masih dimanfaatkan oleh pengurus dan masyarakat.

Pengurus Masjid Raya Shaanxi, Ma Jirong, mengatakan masjid tersebut telah berdiri selama lebih dari 270 tahun dan masih mempertahankan karakter arsitektur aslinya.

Menurut dia, nama Shaanxi dipilih karena para pekerja sekaligus pendiri masjid berasal dari provinsi tersebut.

Karena itu, mereka menghadirkan bangunan yang mencerminkan budaya kampung halaman.

"Masjid ini memang tidak memiliki kemiripan dengan masjid yang terinspirasi dari Timur Tengah. Nuansa kuil Tiongkok justru lebih kuat terlihat dari bagian luarnya," ujarnya.

Meski demikian, identitas Islam tetap terasa ketika memasuki ruang utama.

Berbagai kaligrafi yang terinspirasi dari ayat-ayat suci Al-Qur'an menghiasi interior masjid dan menjadi pembeda paling mencolok dengan bangunan tradisional Han pada umumnya.

Ma Jirong menambahkan, renovasi terakhir dilakukan pada 2015. Saat itu, lebih dari 80 persen material asli bangunan tetap dipertahankan sebagai upaya menjaga nilai sejarah dan keaslian arsitektur masjid.

“Sampai sekarang, masjid ini masih menjadi salah satu lokasi ibadah umat Islam di kota ini, terutama saat Jumat dan hari-hari besar lain,” demikian Ma Jirong.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
Tiongkok muslim masjid jurnalis china