Menyaksikan Hampir Seribu Akordion Berkumpul di Satu Museum
Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Alunan musik menyerupai harmonica terdengar bahkan sebelum kaki benar-benar memasuki gedung museum. Ritmenya riang, sesekali berpadu dengan denting alat musik tradisional Asia Tengah.
Begitu masuk ke dalam museum, ratusan akordion dari menyambut. Alat musik itu memenuhi rak di tiap dinding. Bahkan hingga hampir menyentuh langit-langit ruangan.
Bukan puluhan, melainkan hampir seribu akordion tersusun rapi dalam satu bangunan.
Pemandangan itu yang saya saksikan bersama sejumlah jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) saat mengunjungi Alexander Accordion Museum, salah satu museum akordion terbesar sekaligus paling unik di Tiongkok.
Museum itu terletak di Liuxing Street Scenic Area, Kota Yining, Provinsi Xinjiang, Tiongkok.
Museum tersebut lahir dari kegigihan seorang kolektor bernama Alexander Sergeyevich Zazulin, warga keturunan Rusia yang lahir dan besar di Yining.
Selama lebih dari tiga dekade, ia menghabiskan waktu dan dana pribadinya untuk berburu akordion dari berbagai penjuru dunia.
Perjalanannya membawanya hingga ke Rusia, Jerman, Italia, Prancis, Polandia, dan Inggris demi menemukan instrumen-instrumen langka yang kini memenuhi museum itu.
Berkat dedikasinya, Alexander juga dikenal sebagai pewaris warisan budaya takbenda seni memainkan Bayan, akordion tombol khas Rusia.
Di dalam museum, pengunjung seakan diajak menelusuri perjalanan sejarah alat musik tersebut.
Koleksinya mencapai lebih dari 800 hingga 1.000 akordion yang berasal dari lebih dari 20 negara dengan puluhan merek ternama.
Ada akordion kayu berusia lebih dari satu abad, akordion elektronik modern, hingga instrumen mungil yang ukurannya hanya sebesar telapak tangan.
Sebaliknya, beberapa koleksi lain berukuran besar dengan bobot mencapai lebih dari 16 kilogram.
Tidak semua instrumen memiliki bentuk yang sama. Museum ini juga menyimpan berbagai jenis akordion yang berkembang di Eropa dan Asia Tengah, mulai dari Garmon, Khromka, Bayan, hingga Piano Accordion yang menggunakan tuts layaknya piano.
Masing-masing memiliki karakter suara dan teknik permainan berbeda. Garmon dan Khromka identik dengan musik rakyat Rusia dan Asia Tengah, sementara Bayan dikenal mampu memainkan komposisi klasik yang rumit.
Adapun Piano Accordion menjadi jenis yang paling populer di berbagai belahan dunia karena lebih mudah dipelajari oleh pemain piano.
Namun, daya tarik museum ini tidak berhenti pada koleksi instrumennya. Setiap hari, panggung kecil di dalam museum menjadi ruang pertunjukan musik langsung yang dibawakan kelompok seniman lokal dari berbagai etnis di Xinjiang.
Alunan Bayan berpadu dengan petikan Dombra, alat musik tradisional masyarakat Kazakh, menghasilkan harmoni yang mencerminkan keberagaman budaya di Lembah Ili.
Rombongan jurnalis CIPCC pun berkesempatan menyaksikan pertunjukan tersebut.
Lagu-lagu khas Xinjiang dimainkan secara bergantian, membuat suasana museum berubah menjadi ruang pertunjukan yang hangat dan penuh tepuk tangan.
Di antara penonton, Ali Ibrahim, wisatawan asal Arab Saudi, mengaku baru pertama kali mendengar perpaduan musik seperti itu.
"Rasanya sangat hidup. Ada perpaduan Asia, Tiongkok, dan Rusia. Memberikan warna yang baru. Ini pertama kali saya mendengarnya," ujarnya.
Bagi banyak pengunjung, Alexander Accordion Museum mungkin hanya terlihat sebagai tempat menyimpan alat musik.
Namun, di balik ratusan akordion yang berjajar dari lantai hingga mendekati langit-langit, museum ini sesungguhnya menyimpan pesan bahwa musik mampu melintasi batas bahasa, etnis, maupun negara.***
Editor : Donny TabelakSumber : Radar Badung