Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya dari Tiongkok (86)

Eka Prasetya • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 12:53 WIB
Proses produksi produk makanan di Zixingyuan (Beijing) Food Technology Co., Ltd. Produk mereka bersiap masuk ke pasar Indonesia.(Foto Eka Prasetya)
Proses produksi produk makanan di Zixingyuan (Beijing) Food Technology Co., Ltd. Produk mereka bersiap masuk ke pasar Indonesia.(Foto Eka Prasetya)

Melihat Pabrik Makanan di Beijing, Bersiap Kirim Produk Pangan ke Indonesia

Radarbadung.jawapos.com-Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Dari luar, bangunan itu tampak seperti kawasan industri modern pada umumnya. Berderet rapi di Distrik Pinggu, Beijing, dengan dinding putih yang memantulkan cahaya matahari musim panas.

Dari balik bangunan itu lahir jutaan makanan halal yang kini tak hanya memenuhi meja makan warga Beijing, tetapi juga telah menyeberangi lautan menuju Malaysia hingga Amerika Serikat.

Hari itu, Selasa (15/7), kami para jurnalis peserta program China International Press Communication Center (CIPCC) diajak melihat dari dekat operasional pabrik tersebut.

Kami diajak menyaksikan bagaimana makanan tradisional Tiongkok diproduksi dengan teknologi modern tanpa kehilangan identitas budayanya.

Begitu memasuki area produksi, kesan pertama yang muncul adalah sunyi. Tidak terdengar hiruk-pikuk pekerja seperti yang lazim ditemui di banyak pabrik makanan.

Jalur konveyor berjalan tanpa henti. Lengan-lengan mekanis memindahkan bahan baku, mengemas produk, hingga menyusunnya secara presisi.

Manusia masih tetap hadir, tetapi perannya berubah. Mereka lebih banyak mengawasi layar monitor, melakukan pengecekan kualitas, dan memastikan setiap produk memenuhi standar keamanan pangan. Mereka hanya turun tangan ketika diperlukan.

Modernisasi rupanya bukan berarti menghilangkan peran manusia, melainkan menggeser manusia ke posisi yang lebih strategis.

Perusahaan yang kami kunjungi merupakan anak usaha Ziguangyuan Group. Pada 2021, grup tersebut menginvestasikan 255 juta RMB (sekitar Rp 663 miliar) untuk membangun Zixingyuan sebagai pusat produksi makanan halal modern. Setahun kemudian, pabrik mulai beroperasi secara penuh.

Kini skalanya benar-benar masif. Sepanjang 2025, perusahaan memproduksi sekitar 100 juta cup Naipizi, yoghurt tradisional khas Beijing.

Selain itu, mereka juga menghasilkan 40 juta Huoxiangbao atau roti panggang khas Tiongkok; 2.500 ton Zenggao, kue ketan kukus dengan kurma merah; 2 juta ekor ayam suwir siap saji,  serta 2.000 ton daging sapi berbumbu.

Semuanya diproduksi di satu kompleks pabrik yang dirancang khusus sebagai fasilitas makanan halal.

Deputy General Manager Zixingyuan, Lu Xingjiu, menjelaskan bahwa pabrik mereka memproduksi empat kelompok utama.

Mulai dari produk daging siap olah dan berbumbu, makanan berbahan tepung, berbagai saus dan bumbu masak untuk jaringan restoran, hingga produk susu yang kini menjadi andalan perusahaan.

"Produk yoghurt (napizi) kami dibuat dari susu sapi segar dengan kandungan protein lebih dari 3,2 persen. Setelah melalui proses homogenisasi bertekanan tinggi, rasa susunya menjadi lebih kaya dan lembut," jelas Lu.

Popularitasnya ternyata sangat tinggi. Pada masa penjualan terbaik, perusahaan mampu menjual hingga 530 ribu cup dalam sehari.

Produk itu bahkan mendapat predikat "Beijing Gift", penghargaan dari Biro Kebudayaan dan Pariwisata Kota Beijing bagi produk yang dinilai merepresentasikan identitas ibu kota Tiongkok.

Kami sempat mencoba produk tersebut. Rasanya disebut benar-benar enak bahkan berkualitas premium.

“Ini yogurt terenak yang pernah saya makan selama di Tiongkok,” ungkap Patience Mawa, jurnalis dari Vanuatu.

Yang menarik, ekspansi perusahaan tidak berhenti di pasar domestik.

Saat ini produk mereka telah dikirim ke Malaysia dan Amerika Serikat. Bahkan, perusahaan tengah membidik pasar ASEAN, termasuk Singapura dan Indonesia.

Untuk pasar Malaysia, Zixingyuan bahkan mengembangkan varian khusus berupa milk-ice yogurt.

Produk itu dirancang agar biaya logistik lebih efisien tanpa mengurangi cita rasa. Sesampainya di negara tujuan, toko cukup menghangatkannya sebentar, menambahkan bahan pelengkap, lalu minuman siap disajikan.

Di Malaysia, produk tersebut dipasarkan melalui merek Heiyou (Black You).

Strategi pemasarannya pun mengikuti perkembangan zaman, memanfaatkan influencer media sosial dan jaringan toko ritel.

Saat ini, yoghurt produksi Zixingyuan telah dipasarkan di sekitar 320 gerai di Malaysia.

Namun, satu hal yang paling menarik perhatian saya bukanlah besarnya kapasitas produksi ataupun luasnya pasar ekspor.

Di tengah keberhasilan itu, perusahaan justru terus menggelontorkan dana besar untuk penelitian.

Lu mengungkapkan, sepanjang tahun lalu perusahaan mengalokasikan 28 juta RMB (sekitar Rp 72,8 miliar) hanya untuk riset dan pengembangan.

Investasi itu dilakukan untuk menciptakan produk baru, memperbaiki kualitas rasa, meningkatkan efisiensi produksi, hingga menyesuaikan produk dengan selera konsumen di berbagai negara.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
Tiongkok Beijing jurnalis china jawa pos radar bali