Jejak Kampung Biola Beijing, Sentra Produksi yang Ekspor ke Belasan Negara
Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok. Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Bahkan sebelum bus yang kami tumpangi benar-benar berhenti, kawasan itu sudah memberi petunjuk tentang identitasnya.
Di tengah jalan berdiri sebuah monumen berbentuk notasi balok. Bukan patung tokoh, bukan pula gerbang megah seperti yang lazim ditemui di kawasan industri.
Monumen sederhana itu seolah menjadi penanda bahwa kami sedang memasuki sebuah tempat yang hidup dari musik.
Beberapa menit kemudian, bus berbelok memasuki kompleks Beijing Huadong Musical Instrument Co., Ltd., di Distrik Pinggu, Beijing.
Bersama puluhan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari Asia Pasifik, Afrika, Karibia, dan Eropa, kami melihat dari dekat bagaimana sebuah alat musik yang kerap mengisi panggung konser dunia dilahirkan.
Begitu pintu aula terbuka, alunan biola langsung menyambut kami.
Nada-nadanya memenuhi ruangan dengan lembut. Tak lama berselang, suasana berubah lebih hangat ketika seorang jurnalis asal Albania maju ke depan.
Tanpa ragu ia mengambil sebuah biola, lalu memainkan beberapa lagu.
Musik seketika menjadi bahasa yang tak membutuhkan penerjemah. Tak ada lagi sekat negara, bahasa, maupun budaya.
Kami hanya berdiri mengelilinginya, menikmati melodi yang mengalun.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju ruang produksi. Di sinilah saya mulai memahami bahwa membuat sebuah biola ternyata jauh lebih rumit daripada yang dibayangkan.
Setiap tahap dikerjakan dengan penuh ketelitian. Mulai dari memilih kayu, membentuk badan biola, memasang leher, menghaluskan permukaan, hingga proses pengecatan yang menentukan karakter suara sekaligus keindahan instrumen.
Para pekerja menjelaskan bahwa kayu yang digunakan sebagian didatangkan dari Jerman karena memiliki karakter serat yang dianggap ideal untuk menghasilkan resonansi suara. Di salah sudut ruangan, seorang perajin tampak bekerja sendirian.
Tangannya bergerak perlahan menghaluskan permukaan biola menggunakan alat-alat sederhana. Hampir tak terdengar suara selain gesekan amplas yang ritmis.
Setiap detail diperhatikan dengan cermat. Sedikit saja meleset, kualitas suara yang dihasilkan bisa berubah.
Bagi mereka, membuat biola bukan sekadar pekerjaan industri, tetapi juga seni yang membutuhkan kesabaran.
Untuk instrumen kelas standar, proses produksinya bisa berlangsung sekitar lima hari.
Namun untuk biola premium yang dikerjakan secara manual dengan tingkat presisi tinggi, waktu pembuatannya sedikitnya mencapai tiga bulan, bahkan setahun!.
Tidak ada jalan pintas. Semakin tinggi kualitas yang diinginkan, semakin panjang pula waktu yang harus dihabiskan.
Usai melihat proses produksi, kami diajak menuju ruang pameran. Puluhan biola, cello, hingga kontrabas tersusun rapi di dinding.
Ukurannya beragam, dari yang mungil untuk anak-anak yang baru belajar hingga instrumen profesional yang biasa digunakan pemain konser.
Harganya pun berbeda jauh. Biola ukuran kecil untuk pelajar dijual sekitar 350–450 yuan.
Sementara instrumen premium dibanderol mulai 10 ribu yuan, bahkan bisa lebih tinggi tergantung kualitas material dan tingkat pengerjaannya.
Manajer Beijing Huadong Musical Instrument, Ma Yanxia, menjelaskan bahwa perusahaan tersebut berdiri pada 1988.
Sejak awal, mereka mendapat pendampingan sejumlah maestro pembuat biola atau luthier ternama seperti Dai Hongxiang dan Wang Chonggui, yang meletakkan fondasi kualitas produksi hingga sekarang.
Saat ini Huadong mampu memproduksi sekitar 55 ribu biola setiap tahun, dengan nilai produksi mencapai 40 juta RMB atau sekitar Rp104 miliar.
Perusahaan itu juga menjadi pelopor industri pembuatan biola di Pinggu sekaligus kawasan Tiongkok bagian utara.
Namun yang paling menarik adalah pasar mereka.
Sekitar 80 persen produksinya diekspor ke lebih dari belasan negara, di antaranya Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Spanyol, Iran, Korea Selatan, hingga Jepang.
Ekspor yang terus berkembang itulah yang kemudian melahirkan sebuah julukan unik bagi kawasan ini.
"Satu dari setiap tiga biola di dunia berasal dari Donggaocun," ujar Ma.
Kalimat itu terdengar mengejutkan. Sulit membayangkan sebuah kawasan kecil di Pinggu mampu menjadi salah satu pusat produksi biola dunia.
Keberhasilan industri tersebut alhasil membuat Donggaocun dikenal sebagai "Kampung Halaman Biola" di Tiongkok.***
Sumber : Radar Badung