Mengunjungi Jiase Farm, Saat Pertanian Dikelola dengan Satelit dan AI
Radarbadung.jawapos.com-Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.
Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.
Sejauh mata memandang, hamparan jagung muda membentang memenuhi lanskap Distrik Pinggu, Beijing.
Warna hijaunya begitu kontras dengan langit biru musim panas pada siang hari di awal Agustus.
Di tengah lahan itu, berdiri sebuah papan besar bertuliskan Harvest & Plow Farm.
Tidak ada suara traktor. Tidak pula terlihat petani memanggul cangkul atau selang penyiram seperti yang lazim dijumpai di lahan pertanian Indonesia.
Yang saya lihat justru sebuah lengan logam raksasa bergerak perlahan melintasi hamparan jagung.
Bersama puluhan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) dari Asia Pasifik, Afrika, Karibia, dan Eropa, kami diajak mengunjungi Jiase Farm, kawasan pertanian modern yang dikelola Beijing Jiase Huinong Technology Development Co., Ltd.
Di sinilah saya mulai memahami bahwa bagi Tiongkok, pertanian tidak lagi hanya mengandalkan tenaga manusia. Ia semakin bertumpu pada data, teknologi, dan efisiensi.
Lahan yang kami kunjungi memiliki luas sekitar 70 hektare. Seluruhnya ditanami jagung yang tumbuh seragam.
Tak lama setelah kami berkumpul di tepi kebun, sebuah alat irigasi mulai bergerak.
Bentuknya menyerupai jembatan panjang yang melintang di atas tanaman.
Setiap ruas lengannya memiliki panjang sekitar 20 meter. Perlahan, alat itu berputar sambil menyemburkan air secara merata ke seluruh lahan.
Perangkat tersebut dikenal sebagai corner arm system, sistem irigasi otomatis yang mampu menjangkau sudut-sudut lahan yang selama ini sulit diairi oleh sistem irigasi putar biasa.
Gerakannya nyaris tanpa suara. Tidak ada operator yang mengendalikan dari dekat.
Mesin bekerja mengikuti jalur yang telah diprogram sebelumnya. Menurut pengelola, penggunaan sistem tersebut bukan semata mengikuti perkembangan teknologi. Ada alasan ekonomi yang melatarbelakanginya.
Biaya tenaga kerja di Tiongkok terus meningkat.
Sementara sistem irigasi otomatis mampu mengurangi kebutuhan tenaga manusia sekaligus menghemat penggunaan air hingga sekitar 15 persen.
Di sudut lain lahan, tampak beberapa mesin pertanian berukuran besar terparkir rapi. Ada mesin penanam benih dan mesin pemupukan.
Saat kami datang, keduanya memang sedang tidak beroperasi. Bibit jagung telah selesai ditanam, sementara jadwal pemupukan berikutnya belum tiba.
Namun keberadaan mesin-mesin itu memperlihatkan bahwa hampir seluruh siklus budidaya telah didukung mekanisasi.
Yang menarik, modernisasi pertanian di Jiase Farm ternyata tidak berhenti pada penggunaan mesin.
General Manager Beijing Jiase Huinong Technology Development Co., Ltd., Zhang Minjing, menjelaskan bahwa teknologi terbesar justru bekerja di balik layar.
Seluruh lahan dipantau melalui kamera pengawas (CCTV). Kondisi tanah dipantau secara berkala.
Pertumbuhan tanaman dianalisis menggunakan teknologi remote sensing berbasis satelit.
Sementara irigasi dan pemupukan dijalankan melalui sistem integrated water and fertilizer management, sehingga pemberian air maupun nutrisi dapat disesuaikan dengan kebutuhan tanaman.
Semua data tersebut kemudian dikumpulkan dalam satu platform digital.
Di sana, sistem akan menganalisis berbagai informasi untuk memprediksi potensi serangan hama, munculnya penyakit tanaman, hingga memberikan peringatan dini terhadap ancaman cuaca ekstrem.
“Berdasarkan analisis data tersebut, para ahli pertanian kami kemudian memberikan panduan teknis langsung kepada petani agar hasil panen dan efisiensi produksi dapat terus meningkat,” jelas Zhang.
Keputusan di lahan tidak lagi semata mengandalkan pengalaman. Data kini ikut menentukan kapan menyiram, kapan memupuk, hingga kapan petani harus waspada terhadap ancaman hama.
Perusahaan yang kami kunjungi memang masih sangat muda. Baru berdiri pada Januari 2025.
Meski demikian, ambisinya terbilang besar. Perusahaan mengembangkan model "1 Hub + 1 Demonstration Farm", yakni menggabungkan pusat layanan pertanian dengan lahan percontohan yang menjadi laboratorium penerapan teknologi.
Melalui digitalisasi, pengadaan bersama, integrasi layanan, hingga sistem kontrak penjualan hasil panen, perusahaan mengklaim mampu menekan biaya produksi petani sekitar 100 RMB (Rp 260 ribu) hingga 140 RMB (Rp 364 ribu) untuk setiap hektare lahan.
Produktivitasnya pun cukup tinggi. Produksi jagung biji mencapai 9 hingga 12 ton per hektare.
Selain mengembangkan lahan di berbagai wilayah Tiongkok, perusahaan juga mulai memperluas kerja sama ke kawasan Asia Tenggara.
Zhang mengatakan fokus mereka saat ini adalah membangun pertukaran pertanian dua arah dengan negara-negara tropis.
"Negara-negara Asia Tenggara memiliki iklim yang sangat mirip dengan Hainan. Karena itu kami mengekspor teknologi pertanian dan sistem produksi standar ke kawasan tersebut, sekaligus mengimpor produk pertanian berkualitas seperti buah-buahan ke Tiongkok melalui Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan," katanya.
Indonesia termasuk negara yang masuk dalam perhatian mereka. Bukan sebagai pasar tunggal, melainkan sebagai mitra dalam pertukaran teknologi sekaligus perdagangan hasil pertanian.
Di tengah kebun itu saya kembali menyadari satu hal. Modernisasi pertanian ternyata bukan sekadar mengganti cangkul dengan mesin.
Ia adalah perpaduan antara teknologi, data, riset, dan cara berpikir baru tentang bagaimana pangan diproduksi secara lebih efisien.***
Sumber : Radar Badung