Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya dari Tiongkok (89)

Eka Prasetya • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 16:56 WIB
Suasana Jingwa Center, Beijing. Lokasi ini menjadi salah satu pusat riset produk pertanian.(FOTO EKA PRASETYA)
Suasana Jingwa Center, Beijing. Lokasi ini menjadi salah satu pusat riset produk pertanian.(FOTO EKA PRASETYA)

Berawal dari Laboratorium ke Meja Makan, Melihat Cara Beijing Mengubah Riset Menjadi Pangan Bernutrisi

Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok. 

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Selama dua bulan terakhir berada di Beijing, saya berulang kali mendengar satu kata yang terus diulang dalam berbagai kunjungan.

Kata itu adalah inovasi. Kata itu muncul saat membahas kecerdasan buatan, media, manufaktur, hingga pertanian.

Namun, saya baru benar-benar memahami maknanya ketika rombongan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC) tiba di Beijing Jingwa Agricultural Science and Technology Innovation Center, atau yang lebih dikenal sebagai Jingwa Center, di Distrik Pinggu, Beijing.

Kami mendapat kesempatan mengunjungi lokasi tersebut pada awal Agustus lalu.

Di tempat ini, inovasi ternyata bukan sekadar menghasilkan teknologi baru.

Yang jauh lebih penting adalah memastikan hasil riset benar-benar sampai ke tangan masyarakat, bahkan hadir di meja makan mereka.

Jingwa Center berdiri di Kota Yukou, Pinggu.

Lembaga ini bukan perusahaan, melainkan pusat inovasi sains dan teknologi pertanian yang didirikan pada 2021 atas dukungan Pemerintah Kota Beijing dan Komite Kota Beijing Partai Komunis Tiongkok (CPC).

Pendirinya pun bukan nama sembarangan.

Ada China Agricultural University (CAU), Beijing Academy of Agriculture and Forestry Sciences (BAAFS), Beijing Capital Agribusiness & Foods Group (BCAF), New Hope Group, hingga raksasa teknologi JD.com. 

Kolaborasi itu mempertemukan akademisi, pemerintah, industri, dan dunia bisnis dalam satu ekosistem.

Tujuannya sederhana, tetapi tidak mudah. Yakni memastikan hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium.

Di dalam pusat inovasi itu, kami diajak melihat berbagai produk pangan hasil pengembangan para peneliti.

Salah satu yang menarik perhatian adalah ayam suwir siap konsumsi.

Sekilas tampilannya tak berbeda dengan produk serupa yang banyak dijumpai di pasaran.

Namun, pengelola menjelaskan bahwa produk tersebut dirancang melalui penelitian yang berfokus pada nilai gizi sekaligus tekstur.

Hasilnya, daging ayam menjadi lebih lembut sehingga mudah dikunyah oleh balita maupun lanjut usia tanpa mengurangi kandungan nutrisinya.

Di sudut lain, berbagai produk pangan fungsional juga dipamerkan.

Mulai dari suplemen berbasis probiotik hingga berbagai produk yang dikembangkan untuk menjaga kesehatan saluran pencernaan.

Berbeda dengan suplemen yang biasa saya temui, salah satu produk probiotik itu justru dikonsumsi layaknya camilan.

Bentuknya berupa bubuk halus dalam kemasan kecil. 

Tanpa perlu dicampur air, bubuk itu langsung dituangkan ke mulut. Rasanya manis, ringan, cenderung creamy seperti susu.

Respons spontan datang dari Maneenat Onpanna, salah seorang jurnalis peserta CIPCC asal Thailand.

"Bubuk prebiotiknya enak, bisa dikonsumsi langsung. Awalnya saya kira harus dilarutkan dengan air dulu, baru dikonsumsi," ujarnya.

Di balik berbagai produk tersebut, Jingwa Center mengusung sebuah konsep yang mereka sebut sebagai Golden Triangle Model atau Model Segitiga Emas.

Model ini mempertemukan tiga unsur utama.

Pemerintah berperan menciptakan kebijakan dan ekosistem yang mendukung inovasi. 

Lembaga penelitian menghasilkan teknologi baru.

Sementara dunia industri bertugas mengubah hasil penelitian menjadi produk yang benar-benar dibutuhkan pasar.

Melalui pola tersebut, kesenjangan yang selama ini sering terjadi antara laboratorium dan dunia usaha berusaha dipersempit.

Sebuah penelitian tidak lagi berhenti sebagai jurnal ilmiah.

Ia harus berubah menjadi solusi nyata yang bisa dimanfaatkan masyarakat.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
Tiongkok tirai bambu jurnalis china jawa pos radar bali