Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya dari Tiongkok (90)

Eka Prasetya • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 15:31 WIB
Suasana di Yukou Poultry Industri. Perusahaan ini menjadi industri penghasil telur dan ayam terbesar di Tiongkok. Mereka menguasai sekitar 60 persen pangsa pasar penjualan telur di Tiongkok. (FOTO EKA PRASETYA)
Suasana di Yukou Poultry Industri. Perusahaan ini menjadi industri penghasil telur dan ayam terbesar di Tiongkok. Mereka menguasai sekitar 60 persen pangsa pasar penjualan telur di Tiongkok. (FOTO EKA PRASETYA)

Jejak di Balik Separuh Telur yang Dikonsumsi Warga Negeri Tirai Bambu

Radarbadung.jawapos.com-Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok.

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

DI meja makan, telur mungkin hanya menjadi menu sederhana bagi sebagian orang. Direbus untuk sarapan, digoreng sebagai lauk, atau diolah dengan cara lain.

Namun, di Distrik Pinggu, Beijing, saya menyadari bahwa sebutir telur ternyata berasal hasil dari riset panjang yang melibatkan genetika, bioteknologi, hingga jaringan industri yang menjangkau berbagai belahan dunia.

Hal itu saya alami saat mengunjungi Beijing WOD Chen-Long Biotechnology Co., Ltd., yang lebih dikenal sebagai Yukou Poultry Industry, pada awal Agustus lalu.

Kunjungan itu saya ikuti bersama puluhan jurnalis peserta China International Press Communication Center (CIPCC)

Nama Yukou Poultry Industry memang belum begitu akrab di telinga masyarakat Indonesia. Namun di Tiongkok, pengaruhnya sangat besar.

"Satu dari setiap dua telur yang dikonsumsi masyarakat Tiongkok berasal dari ayam yang kami kembangkan," ujar Mrs. Wu, salah seorang peneliti perusahaan saat membuka presentasi.

Beijing WOD Chen-Long Biotechnology bukan sekadar peternakan ayam.

Perusahaan ini merupakan salah satu dari tiga perusahaan pembibitan unggas terbesar di dunia, dengan pendapatan operasional mencapai 1,83 miliar RMB atau sekitar Rp 4,75 triliun sepanjang 2025.

Fokus utamanya bukan menjual telur konsumsi. Mereka justru berada di hulu industri perunggasan. Mengembangkan bibit ayam unggul yang kemudian dipelihara oleh peternak di berbagai wilayah Tiongkok hingga mancanegara.

Menurut Mrs. Wu, peneliti di divisi riset dan pengembangan, perusahaan memulai usahanya pada 1975 sebagai produsen telur.

Perjalanan berikutnya berlangsung bertahap. Pada 1989 mereka mulai memasok anak ayam petelur (day-old layer chicks), kemudian masuk ke bisnis pemuliaan ayam petelur pada 1999.

Tahun 2012 perusahaan mulai mengembangkan ayam pedaging (broiler), hingga akhirnya membangun rantai pasok (supply chain) yang terintegrasi seperti saat ini.

"Kami memproduksi sedikitnya 350 juta anak ayam setiap tahun," ujarnya.

Hal yang membuat saya paling tertarik ialah cara perusahaan ini membangun industri melalui inovasi genetika.

Selama bertahun-tahun mereka berhasil menghasilkan berbagai varietas ayam petelur unggul.

Mulai dari Jing Brown 1, Jing Tint 1, Jing Tint 2, hingga Jing White 1. Keempatnya memiliki karakter berbeda, tetapi satu kesamaan: mampu menghasilkan telur berbobot lebih dari 60 gram per butir.

Di sektor ayam pedaging, inovasi juga terus berkembang. Mereka mengembangkan ayam pedaging berukuran kecil pada 2019, disusul varietas dengan kualitas daging lebih baik pada 2021, hingga ayam pedaging yang tumbuh lebih cepat pada tahun yang sama.

Hal yang tak kalah menarik, perusahaan ini tidak hanya berorientasi pada pasar domestik. Saat ini ayam petelur seri Jing, ayam pedaging WOD, serta berbagai produk pembibitannya telah diekspor ke lebih dari belasan negara.

Mulai dari Tanzania, Ghana, Tajikistan, Mali, Laos, Pakistan, Arab Saudi, Afghanistan, Myanmar, Kamboja, Uni Emirat Arab, hingga Korea Utara.

Secara keseluruhan, perusahaan telah mengekspor lebih dari 72.300 set anak ayam indukan (parent stock chicks), 270.000 butir telur tetas indukan (parent stock hatching eggs), serta 830.000 butir telur tetas komersial (commercial hatching eggs).

Kini, Asia Tenggara menjadi target berikutnya. Mrs. Wu mengatakan perusahaan tengah menjajaki perluasan pasar ke Filipina, Thailand, Myanmar, Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Kamboja.

Produk yang akan ditawarkan meliputi ayam bibit pembibitan (breeding chickens), telur tetas (hatching eggs), serta premix feed, yakni campuran vitamin, mineral, asam amino, dan bahan tambahan lain yang digunakan sebagai suplemen pakan untuk meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas unggas.

Sayangnya, kunjungan kami tidak sampai memasuki area pembibitan maupun kandang. Aturan biosekuriti yang sangat ketat membuat akses ke area tersebut dibatasi. Selain itu, waktu kunjungan juga cukup singkat.

Sebagai gantinya, kami diajak menikmati sejumlah hidangan berbahan dasar ayam hasil pengembangan perusahaan. Dagingnya terasa lebih lembut dengan cita rasa yang ringan.

Mungkin sulit memastikan apakah perbedaannya benar-benar berasal dari faktor genetika atau teknik pengolahan.

Namun setidaknya, pengalaman itu menjadi penutup yang menyenangkan setelah mendengar begitu banyak cerita tentang riset unggas.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
Tiongkok Beijing jurnalis china telur dadar