Laporan Perjalanan Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, Eka Prasetya dari Tiongkok (91)

Eka Prasetya • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 10:09 WIB
Para jurnalis peserta program CIPCC memetik buah persik dari perkebunan persik di Distrik Pinggu, Beijing.(Foto Eka Prasetya)
Para jurnalis peserta program CIPCC memetik buah persik dari perkebunan persik di Distrik Pinggu, Beijing.(Foto Eka Prasetya)

Di Pinggu, Untuk Pertama Kalinya Saya Mencicipi Buah Persik

Radarbadung.jawapos.com- Jurnalis Jawa Pos Radar Bali, mendapat kesempatan mengikuti kegiatan China International Press Communication Center (CIPCC) yang berpusat di Beijing, Tiongkok. 

Berikut catatan perjalanannya dari negeri tirai bambu.

Ada pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan akan datang ketika mengikuti rangkaian kunjungan China International Press Communication Center (CIPCC) di Distrik Pinggu, Beijing, pada awal Agustus lalu.

Bukan mengunjungi pusat riset pertanian, bukan pula melihat mesin-mesin modern di lahan jagung.

Melainkan memetik dan menyantap buah persik langsung dari pohonnya.

Bagi sebagian orang, pengalaman itu mungkin terdengar biasa.

Namun bagi saya, yang usianya sudah mendekati kepala empat, hari itu menjadi kali pertama menikmati buah persik. 

Bahkan secara langsung dari kebunnya. Dan rasanya, pengalaman itu jauh lebih membekas.

Sore itu, bus yang kami tumpangi perlahan memasuki kawasan pinggiran Distrik Pinggu.

Di kanan dan kiri jalan, hamparan kebun persik membentang sejauh mata memandang.

Pepohonan yang tidak terlalu tinggi dipenuhi buah-buah berwarna merah muda kekuningan.

Sebagiannya tampak masih menggantung di balik dedaunan, sementara lainnya sudah siap dipetik.

Setelah beberapa menit perjalanan, bus berhenti di salah satu kebun. Beberapa petani telah menunggu kedatangan kami.

Mereka menyambut rombongan jurnalis dari Asia Pasifik, Afrika, Karibia, dan Eropa dengan senyum ramah.

Tak lama kemudian, masing-masing peserta ditawari sebuah kantong plastik. Melalui penerjemah, kami diberi tahu bahwa kantong itu disediakan untuk menampung buah persik yang ingin dipetik.

Tidak ada batasan. Kami dipersilakan memetik sebanyak yang diinginkan, baik untuk dimakan di tempat atau dibawa pulang.

Sebagian besar rekan jurnalis langsung bersemangat memasuki kebun. Mereka sibuk memilih buah yang terlihat paling ranum.

Ada yang memenuhi kantongnya hingga satu atau dua kilogram. Bahkan ada pula yang membawa pulang nyaris sekitar sepuluh kilogram buah persik.

Saya justru tidak mengambil kantong plastik itu. Cukup satu buah.

Saya berjalan perlahan di antara pepohonan, memilih satu buah yang tampak matang, lalu memetiknya sendiri.

Saat kulitnya disentuh, permukaannya terasa lembut dengan lapisan bulu-bulu halus yang menjadi ciri khas buah persik.

Gigitan pertama langsung menghadirkan rasa manis yang berpadu sedikit asam. Teksturnya lembut dan berair.

Sekilas rasanya mengingatkan saya pada apel, tetapi dengan sensasi yang sedikit sepat di akhir.

Mungkin bukan buah terenak yang pernah saya makan.

Namun, menikmati buah itu beberapa detik setelah dipetik dari pohonnya menghadirkan pengalaman yang tidak bisa digantikan oleh buah yang dibeli di supermarket.

Suasana kebun semakin ramai. Tawa para peserta terdengar bersahutan ketika mereka saling membandingkan ukuran buah hasil petikannya.

Banyak pula yang sibuk mengabadikan momen, mengambil foto selfie atau video.

Siti Zanariah binti Noor, jurnalis asal Malaysia, mengaku sangat menikmati pengalaman tersebut.

“Menyenangkan bisa petik langsung dan makan buah di perkebunannya. Apalagi proses tanamnya organik, jadi tidak perlu khawatir bahan kimia,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Olivia Hutchinson, jurnalis dari Jamaika. Baginya, buah persik bukanlah buah yang mudah ditemukan di negaranya.

“Senang bisa memakan buah ini secara langsung di tempatnya tumbuh. Di Jamaika, ini tergolong buah premium. Tapi di sini bisa menjadi buah yang dikonsumsi sehari-hari," katanya.

Sebelum meninggalkan kebun, ternyata masih ada kejutan lain. Setiap peserta mendapat satu kotak buah persik premium.

Di dalamnya terdapat enam hingga tujuh buah berukuran besar dengan berat sekitar dua kilogram.

Kotak-kotak itu memenuhi bagasi bus. Perjalanan pulang pun terasa sedikit berbeda.

Bus dipenuhi aroma manis buah persik yang baru dipanen.

Barulah saat itulah saya benar-benar menyadari betapa pentingnya komoditas ini bagi Pinggu.

Sepanjang perjalanan menuju pusat kota, hampir di setiap sisi jalan terlihat pedagang menjajakan buah persik.

Ada yang menjual di kios sederhana, ada pula yang hanya menggelar dagangan di tepi jalan.

Persik seolah menjadi identitas distrik tersebut.

Bukan sekadar hasil panen, melainkan bagian dari denyut ekonomi masyarakat setempat.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
Tiongkok Beijing buah leci jurnalis china