Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Kopi Arabika Pupuan Tembus Rp 150 Ribu Per Kilo, Pasokan Minim Ditengah Lonjakan Permintaan

Juliadi Radar Bali • Jumat, 22 Mei 2026 | 10:17 WIB
Pemandangan hamparan pertanian kopi di Kecamatan Pupuan, Tabanan. Jenis Arabika di wilayah ini kini diburu dan harganya tembus Rp 150 ribu per kilogram, namun luasan tanamannya masih sangat terbatas. (Foto Juliadi) 
Pertanian kopi di Kecamatan Pupuan, Tabanan. Jenis Arabika di wilayah ini kini diburu dan harganya tembus Rp 150 ribu per kilogram, namun luasan tanamannya masih sangat terbatas. (Foto Juliadi) 

Radarbadung.jawapos.com– Harga kopi jenis Arabika asal Kecamatan Pupuan, Tabanan, kini mencapai titik tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Saat ini, harga kopi biji kering (green bean) Arabika dibanderol hingga Rp 150 ribu per kilogram.

Angka ini melonjak cukup tinggi dibandingkan harga sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp 120 ribu per kilogram.

Kepala Desa Pujungan yang juga berprofesi sebagai petani kopi, I Made Rimayasa, mengungkapkan kenaikan harga yang signifikan ini sebenarnya sudah terjadi sejak sekitar tiga bulan lalu.

Menurutnya, harga Rp 150 ribu tersebut berlaku untuk kualitas kopi Arabika kering yang sudah siap digiling.

"Kenaikan harga ini sudah berlangsung tiga bulan terakhir. Sekarang harga kopi Arabika kering siap giling mencapai Rp 150 ribu per kilogram," ungkap Rimayasa saat dikonfirmasi, Kamis (21/5).

Kenaikan harga ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari tingginya permintaan pasar, terutama untuk kebutuhan ekspor, hingga kelangkaan pasokan.

Kelangkaan ini tak lepas dari fakta bahwa luas lahan pertanian kopi Arabika di seluruh Provinsi Bali sangatlah minim, tercatat hanya sekitar 0,01 persen dari total lahan pertanian.

Selain faktor ketersediaan dan permintaan, ketidakstabilan kondisi geopolitik global serta pergerakan nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS juga turut memengaruhi harga jual.

"Intinya, kebutuhan pasar akan kopi jenis ini saat ini memang sangat tinggi, sementara pasokannya terbatas," jelasnya.

Rimayasa menuturkan, secara umum petani di Pupuan menanam dua jenis kopi, yaitu Arabika dan Robusta. Namun, komposisinya sangat timpang.

Sebagian besar petani memilih membudidayakan kopi Robusta, sedangkan luasan tanaman Arabika masih sangat kecil dan terbatas di titik-titik tertentu saja.

Penyebab utama minimnya jumlah kopi Arabika adalah faktor alam dan kondisi geografis.

Tanaman kopi Arabika memiliki syarat tumbuh yang spesifik, yaitu hanya bisa berproduksi dengan baik dan menghasilkan kualitas terbaik jika ditanam di ketinggian di atas 1.000 meter dari permukaan laut.

"Karena syarat ketinggian itulah, di wilayah Pupuan sendiri yang mampu menanam hanya warga Desa Pujungan.

Di wilayah Tabanan lainnya, tanaman ini banyak ditemukan di Kecamatan Penebel, tepatnya di Desa Jatiluwih, Desa Mangesta, dan Desa Wangaya Gede," paparnya.

Saat ini, Rimayasa sendiri memiliki lahan tanaman kopi Arabika seluas dua hektare.

Namun, ia menyebutkan tanaman miliknya tersebut belum memasuki masa panen, sehingga ia harus menunggu momen tepat untuk mendapatkan keuntungan dari lonjakan harga ini.

Sementara itu, nasib sebaliknya justru dialami oleh petani kopi jenis Robusta.

Jika Arabika meroket, harga Robusta justru mengalami penurunan. Dari harga sebelumnya yang mencapai Rp 65 ribu per kilogram, kini harga kopi Robusta turun menjadi Rp 56 ribu per kilogram.

Penurunan harga ini terjadi karena pasokan yang melimpah.

Pasalnya, hasil panen kopi Robusta dari tahun 2025 lalu masih banyak yang disimpan dalam stok dan baru dilelangkan atau dijual pada tahun ini.

"Kebiasaan petani di sini, jika harga sedang turun atau kurang menguntungkan, mereka memilih menahan hasil panennya untuk tidak dijual dulu. Baru saat harga sedang bagus seperti Arabika saat ini, mereka akan menjualnya," pungkas Rimayasa.***

Editor : Donny Tabelak
#tabanan #Jatiluwih #pupuan #kopi arabika #pertanian