Radarbadung.jawapos.com- Aiptu Agus Riyanto, seorang anggota Bhabinkamtibmas Polsek Kembangan, Jakarta Barat, menunjukkan dedikasi luar biasa dengan mendirikan sekolah non-formal gratis bagi anak-anak dari keluarga pemulung.
Sekolah yang diberi nama Taman Pendidikan Alquran (TPA) Maju Bersama dan Sekolah Anak Percaya ini berlokasi di Jalan Sawah Balong, Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat.
Inisiatif ini bermula dari keprihatinan Agus melihat banyak anak usia sekolah di kawasan kumuh tersebut yang terpaksa tidak bersekolah dan harus membantu orang tua mereka mengumpulkan barang bekas.
Awalnya, Agus mulai mengajar secara sederhana di sebuah gubuk kosong. "Timbul motivasi saya untuk mengajak mereka belajar bersama. Awalnya di lapak-lapak bedeng seperti ini, tapi dulu masih semrawut," kata Aiptu Agus Riyanto.
Melihat tingginya animo dan respons positif dari orang tua, pada tahun 2019, Agus bersama warga bergotong royong mendirikan bangunan sekolah yang lebih layak.
Uniknya, sekolah ini dibangun di atas lahan bekas tempat sampah dan kandang kambing.
"Karena anak-anak banyak yang berminat, akhirnya kami bangunkan tempat belajar di lahan ini," tambahnya.
TPA Maju Bersama melayani sekitar 80 anak dengan rentang usia 4 hingga 13 tahun.
Selain pelajaran dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung, sekolah ini juga menyediakan program PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) atau sekolah paket untuk anak-anak yang putus sekolah atau tidak bisa melanjutkan sekolah formal.
Aiptu Agus menegaskan bahwa pendidikan di sekolah ini sepenuhnya gratis.
"Jadi kami sebagai Bhabinkamtibmas mendirikan sekolah untuk anak-anak yang putus sekolah slum area, daerah kumuh, dan mereka ini anak-anak yang tidak punya kesempatan untuk sekolah formal.
Kemudian kita dirikan sekolah, kita ajarkan mereka agar ke depan mereka bisa mendapatkan ijazah dan bisa berguna untuk mencari pekerjaan," jelas Aiptu Agus Riyanto.
Seorang warga setempat yang anaknya bersekolah di sana, Ane,24, mengungkapkan rasa syukurnya.
"Semenjak ada pembelajaran ini, jadi pada ikut. hasilnya juga sudah banyak murid. Sudah pada bisa menulis, membaca, membaca Iqra juga," ujar Ane.
Ia menambahkan, anaknya sengaja disekolahkan di sana karena tidak dipungut biaya dan jaraknya dekat dari rumah.
Operasional sekolah ini dibantu oleh guru-guru relawan dan menariknya, sumber pendanaan juga berasal dari pemanfaatan sampah yang dikumpulkan anak-anak.
Botol-botol bekas yang mereka bawa dijual untuk membiayai kebutuhan sekolah, menjadikan sekolah ini mandiri dan berkelanjutan.***