Oleh: Agus Widjajanto
Radarbadung.jawapos.com- Situasi perang di Timur Tengah antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang memasuki minggu kedua, serta potensi penutupan Selat Hormuz yang mengancam suplai minyak global dan berisiko menyebabkan resesi dunia, menjadi bukti bahwa kolonialisme masih ada dalam bentuk yang berbeda di era modern.
Kolonialisme dalam Sejarah dan Perkembangannya
Sejarah kolonial di dunia adalah proses panjang dan kompleks yang melibatkan penjajahan serta eksploitasi wilayah di Amerika, Afrika, dan Asia oleh negara-negara Eropa seperti Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris, Perancis, dan Jerman.
- Kolonialisme Eropa (15–19 Masehi): Digerakkan oleh tiga motif utama – mencari sumber daya alam, memperluas wilayah kekuasaan, dan menyebarkan agama Kristen.
Dampaknya berupa eksploitasi sumber daya, praktik perbudakan, dan perubahan mendasar pada budaya daerah jajahan.
- Contoh Kasus: Kolonialisme Spanyol di Amerika Latin, Inggris di India, serta Belanda di Indonesia yang meninggalkan dampak yang masih terasa hingga kini.
Kolonial klasik mulai pada abad ke-12 dengan puncaknya pada abad ke-15 hingga ke-17, dimana Eropa bersaing mencari rempah-rempah (lada, cengkeh, pala, kayu manis) dan bahan pangan (gula, kopi, teh) di seluruh dunia. Setelah Revolusi Industri, target sumber daya bergeser ke emas dan minyak bumi sebagai pendorong ekonomi dan kekuatan industri.
Kolonialisme Modern: Penjajahan yang Lebih Halus
Berbeda dengan kolonial klasik yang bersifat fisik dan teritorial, kolonialisme modern menggunakan cara yang lebih tersembunyi namun tidak kalah berpengaruh:
- Ekonomi: Mengendalikan negara lain melalui utang, investasi, dan perdagangan yang tidak seimbang.
- Politik: Intervensi dengan alasan hak asasi manusia (HAM), demokrasi, dan penanggulangan terorisme.
- Budaya: Menyebarkan nilai-nilai Barat melalui media dan pendidikan untuk mempengaruhi pola pikir masyarakat.
- Contoh Kasus: Intervensi Amerika Serikat di Irak dan Afghanistan, pengaruh ekonomi Cina di Afrika, serta penggunaan media massa global sebagai alat propaganda yang mengurangi kebebasan pers lokal.
Kolonialisme modern sering disebut sebagai "penjajahan internal" karena tidak lagi menguasai wilayah secara langsung, melainkan mengendalikan rezim pemerintahan untuk menguasai sumber daya alam, ekonomi, dan kebijakan negara.
Baca Juga: Pemkot Denpasar Minta Warga Hindari Mudik di Hari Pengerupukan 18 Maret
Indonesia Pasca-Kemerdekaan: Masih dalam Cengkeraman Warisan Kolonial?
Meskipun secara de facto dan de jure Indonesia telah merdeka sejak 17 Agustus 1945 dan diakui secara internasional pada 18 Agustus 1945, berbagai fenomena menunjukkan bahwa kita masih berjuang untuk meraih kemerdekaan yang sesungguhnya:
- Ketimpangan Ekonomi dan Sosial: Fenomena ribuan pelamar untuk tiga lowongan pekerjaan administrasi menunjukkan kesenjangan yang sangat besar antara jumlah pencari kerja dan kesempatan kerja.
Selain itu, ketimpangan antara kaya dan miskin masih menjadi masalah serius.
- Kondisi Peradilan: Putusan pengadilan yang membatalkan status perkawinan orang tua angkat menjadi contoh bahwa kita masih jauh dari cita-cita negara hukum sesuai dengan Pembukaan UUD 1945 Alenia IV yang menjamin perlindungan bagi segenap rakyat.
- Warisan Utang Kolonial: Pada Konferensi Meja Bundar (KMB) tahun 1949, Indonesia sepakat mengambil alih utang pemerintah Hindia Belanda sebesar 4,3 miliar gulden.
Setelah perundingan ulang pada masa Orde Baru, jumlahnya ditekan menjadi 600 juta gulden dan baru dilunasi pada tahun 2013.
Baca Juga: Antrean Hingga 5 Jam Lebih, Pemudik Keluar Bali Terjebak di Gilimanuk
Pandangan Prof Pieter J. Veth dan Realitas Sejarah
Prof Pieter J. Veth (1814–1895), ahli etnologi dan bahasa Indonesia berkebangsaan Belanda, dalam bukunya "Java, Geografisch etnologisch" menyatakan bahwa Indonesia tidak pernah merdeka dan selalu menjadi negeri jajahan – mulai dari jaman Hindu, Islam, hingga kolonial Belanda. Ia menulis syair yang berbunyi:
"Aan Java' strand verdrongen Zich de volken, steeds daagden nieuwe meesters over't meer Zij volgden op elkaar, gelijk aan't zwerk de wolken. De telg Des land allen was nooit zijn heer"
Yang artinya: "Di pantai tanah Jawa rakyat berdesak-desakan, datang selalu tuan-tuanya di setiap masa, mereka beruntun seperti awan yang berganti, tapi anak pribumi sendiri tak pernah menjadi pemiliknya."
Meskipun pandangannya tidak sepenuhnya benar – karena sejarah menunjukkan bahwa raja-raja kerajaan di Nusantara pada akhirnya adalah pribumi dengan budaya yang bertransformasi – namun fenomena masa kini menunjukkan bahwa pengaruh luar masih sangat kuat dalam berbagai aspek kehidupan.
Kemerdekaan yang Sesungguhnya Menurut Bung Karno
Bung Karno dalam bukunya "Mencapai Indonesia Merdeka" menyatakan bahwa kemerdekaan adalah "jembatan emas" yang harus dilalui dengan hati-hati agar tidak dikendalikan oleh pihak lain.
Ia juga memperingatkan bahwa imperialisme modern menggunakan cara yang berbeda namun tujuan yang sama: menguasai sumber daya dan keuntungan.
Baca Juga: Kalah Judol Rp50 Juta, Sopir Lombok Barat Nekat Gantung Diri di Nusa Penida
Pernyataan Bung Karno tentang pengaruh kaum borjuis kapitalis yang mengendalikan media, pendidikan, dan politik telah terbukti dalam kondisi sekarang.
Oligarki mempengaruhi jalannya kepemimpinan, media digunakan sebagai alat propaganda, dan rakyat seringkali hanya dijadikan obyek pada saat pemilihan umum.
Meskipun Indonesia telah menjadi anggota APEC, G20, dan BRICS, kita masih sangat tergantung pada kebijakan ekonomi negara-negara maju yang memiliki hak veto di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Falsafah Kepemimpinan Leluhur sebagai Solusi
Untuk meraih kemerdekaan yang sesungguhnya, falsafah kepemimpinan nusantara yang masih relevan adalah:
- Den Ajembar: Memiliki jiwa dan pemikiran yang luas sebagai pengayom rakyat.
- Den Momot: Menerima masukan dari berbagai kalangan untuk mengambil keputusan yang tepat.
- Lawan Den Wengku: Mampu mengalahkan ego dan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama.
- Den Koyo Segoro: Memiliki pandangan seluas samudera, mudah memaafkan, dan penuh kasih terhadap sesama.
Bung Karno juga mengingatkan agar kita tidak menjadi tiruan bangsa lain: "Jadilah orang Muslim, Hindu, Buddha, Kristen Nusantara – sebagai orang Indonesia yang beradat istiadat Indonesia, yang mempengaruhi semangat ke-Indonesiaan."
Sejarah mengajarkan kita untuk belajar dari kesalahan masa lalu dan melakukan introspeksi.
Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri mau merubahnya.
Semua tergantung pada kita sebagai anak bangsa – apakah akan menerima keadaan atau berjuang untuk meraih kemerdekaan yang sesungguhnya di seluruh lini kehidupan berbangsa dan bernegara. MERDEKA.***
Editor : Donny Tabelak