Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

The Art of War Sun Tzu, Strategi Pendiri Bangsa, dan Geopolitik Indonesia

Donny Tabelak • Senin, 13 April 2026 | 13:18 WIB
Agus Widjajanto. Penulis adalah praktisi hukum, pemerhati sosial, budaya dan politik.
Agus Widjajanto. Penulis adalah Praktisi Hukum, Pemerhati Sosial Politik, Budaya dan Sejarah Bangsa. 

Oleh: Agus Widjajanto

Radarbadung.jawapos.com- Karya legendaris The Art of War karya Sun Tzu telah dibaca jutaan orang di berbagai belahan dunia, mulai dari kalangan militer, pengusaha, politikus, hingga akademisi.

Buku klasik ini tidak hanya dipahami sebagai panduan berperang dalam arti sempit, melainkan sebagai kerangka berpikir strategis yang relevan lintas zaman dan lintas disiplin ilmu.

Inti ajaran Sun Tzu menekankan pada kemampuan memenangkan pertempuran tanpa harus melakukan peperangan, melainkan melalui kecerdikan, perhitungan matang, dan penguasaan situasi.

Beberapa prinsip utamanya meliputi:
 
- Mengenal Musuh: Memahami kekuatan dan kelemahan lawan, termasuk membaca motif, kepentingan, serta potensi langkah yang akan diambil.

- Menggunakan Taktik: Menggunakan strategi yang tidak terduga untuk menciptakan efek kejutan yang melemahkan posisi lawan.

- Menghindari Konfrontasi Langsung: Menghindari bentrokan langsung dengan kekuatan yang lebih besar, dan mencari kelemahan mereka sebagai pintu masuk kemenangan.

- Menggunakan Diplomasi: Memenangkan hati dan pikiran lawan sehingga konflik dapat diredam tanpa eskalasi kekerasan.

- Menggunakan Intelijen: Setiap langkah didasarkan pada data dan informasi akurat, bukan sekadar asumsi.
 
Dalam konteks modern, strategi ini bisa diaplikasikan di berbagai bidang.

Dalam bisnis, misalnya, untuk mengalahkan kompetitor bukan lewat perang harga, tapi inovasi dan diferensiasi. 

Dalam politik, untuk memenangkan kepercayaan publik melalui narasi yang kuat.

Serta dalam keamanan, untuk mencegah ancaman melalui deteksi dini.

Relevansi dalam Dinamika China dan Taiwan
 
Prinsip Sun Tzu sangat terlihat dalam hubungan China daratan dan Taiwan, terutama terkait kunjungan ketua oposisi ke Beijing.

Ini adalah contoh nyata bagaimana strategi non-militer menjadi instrumen utama perebutan pengaruh.
 
China mempelajari kekuatan dan kelemahan Taiwan serta oposisi di sana.

Mereka menggunakan taktik untuk mempengaruhi opini publik, menciptakan dinamika politik, serta menghindari konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat.

Melalui kunjungan ini, China berupaya membangun jembatan komunikasi, sekaligus menguji respons kekuatan global lainnya.
 
Secara historis dan kultural, China dan Taiwan adalah satu rumpun yang dipisahkan oleh ideologi politik.

Strategi jangka panjang Beijing tampaknya diarahkan pada penyatuan tanpa perang terbuka, melainkan lewat infiltrasi pengaruh, integrasi ekonomi, dan pendekatan psikologis, di tengah situasi global yang kompleks.
 
Inspirasi bagi Soekarno dan Soepomo
 
Teori The Art of War ternyata juga sangat relevan dengan cara berpikir para pendiri bangsa Indonesia.

Soekarno dan Soepomo memahami bahwa perjuangan kemerdekaan bukan hanya soal kekuatan fisik, tapi strategi, diplomasi, dan kecerdasan dalam membaca situasi global.
 
Soepomo, sebagai ahli hukum, mengaplikasikan strategi ini dalam merancang bentuk negara.

Sementara Soekarno, dengan gagasan "Trikontinental"-nya, piawai memanfaatkan persaingan dunia pada masa Perang Dingin sebagai ruang manuver politik agar Indonesia tetap berdaulat.
 
Prinsip yang diadopsi antara lain: mengenali kekuatan diri dan lawan, menggunakan taktik diplomasi yang tak terduga, serta menghindari konfrontasi langsung dengan kekuatan yang lebih besar.
 
Desain Negara: Demokrasi Musyawarah
 
Negara Indonesia didesain bukan sebagai demokrasi liberal ala Barat maupun sistem sosialis Marxisme, melainkan berakar dari budaya asli Nusantara, yaitu Musyawarah dan Mufakat.
 
Soepomo menggagas konsep negara integralistik yang mencerminkan struktur "Negara Desa Adat".

Di desa ada Rembuk Desa yang melibatkan sesepuh, pemuka agama, pemuda, dan cendekiawan.

Konsep inilah yang diterjemahkan menjadi lembaga tinggi negara seperti MPR sebagai wadah bermusyawarah skala nasional.
 
Sayangnya, nilai luhur ini dinilai mulai tergerus oleh arus modernisasi yang terlalu menonjolkan individualisme.

Akibatnya, fondasi kolektivitas bangsa melemah, kehilangan arah, dan tidak memiliki cetak biru jangka panjang yang kokoh.
 
Potensi Geopolitik Indonesia
 
Secara geografis, Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis.

Wilayah perairan dan selat-selat vital seperti Malaka, Sunda, Makassar, dan Lombok merupakan urat nadi perdagangan dunia.

Sebagian besar arus perdagangan dan transportasi minyak dunia melewati jalur-jalur ini.
 
Potensi ini setara bahkan lebih besar daripada kekuatan strategis Selat Hormuz yang dikuasai Iran.

Jika jalur di Indonesia terganggu, dampaknya bisa melumpuhkan ekonomi global.

Inilah peluang emas yang harus dibaca dan dimanfaatkan dengan strategi besar ala Sun Tzu, agar Indonesia benar-benar menjadi kekuatan utama dunia.***

Editor : Donny Tabelak
#amerika serikat #soekarno #china #Agus Widjajanto #selat hormuz