Darmo Gandul vs Gatoloco: Aktivisme dan Perang Pikiran Zaman Baru
Donny Tabelak• Rabu, 22 April 2026 | 18:32 WIB
Dalam tradisi Jawa, salah satu alat baca itu adalah Serat Darmo Gandul dan Gatoloco—dua simbol yang bukan sekadar cerita, melainkan pisau analisis untuk membedah watak kekuasaan, moralitas, dan keberpihakan. (Istimewa)
Oleh: Agus Widjajanto
Radarbadung.jawapos.com- Setiap bangsa memiliki cara untuk membaca dirinya sendiri.
Dalam tradisi Jawa, salah satu alat baca itu adalah Serat Darmo Gandul dan Gatoloco—dua simbol yang bukan sekadar cerita, melainkan pisau analisis untuk membedah watak kekuasaan, moralitas, dan keberpihakan.
Di masa lalu, Darmo Gandul adalah sindiran halus terhadap elite yang tampak luhur, berbicara atas nama nilai-nilai luhur, tetapi hidup “menggantung” atau bergantung pada kekuasaan kolonial.
Mereka tidak terlihat sebagai penjajah, justru menjadi jembatan yang menghubungkan penjajah dengan rakyat yang dijajah.
Sementara itu, Gatoloco adalah antitesisnya: liar, kasar, tidak santun, tetapi jujur dan tidak mau tunduk pada kepentingan luar.
Hari ini, konfigurasi itu tidak hilang, ia hanya berganti wajah.
Jika dahulu yang dikritik adalah elite agama dan birokrat kolonial, maka hari ini pola yang sama dapat dibaca dalam sebagian praktik aktivisme modern.
Ada kelompok yang tampil dengan narasi moral tinggi—hak asasi manusia, keadilan, demokrasi—namun dalam praktiknya sering kali menimbulkan pertanyaan: kepada siapa mereka sebenarnya berpihak?
Fenomena ini semakin terlihat dalam kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus. Sejak awal, kasus ini bukan sekadar persoalan hukum, melainkan arena pertarungan narasi.
Sejumlah aktivis dan LSM tampil sangat vokal, bahkan cenderung membela secara total tanpa memberi ruang pada proses pembuktian yang utuh.
Yang menarik bukan sekadar sikap membela—karena advokasi memang bagian dari demokrasi—melainkan pola yang muncul: narasi dibangun lebih dulu, kesimpulan ditarik lebih cepat daripada fakta, dan opini publik digiring sebelum proses hukum selesai.
Di titik ini, pertanyaan menjadi relevan: apakah ini murni dorongan keadilan, atau ada sesuatu yang lebih besar di baliknya?
Dalam kerangka Darmo Gandul, pola semacam ini bisa dibaca sebagai bentuk ketergantungan baru.
Bukan lagi kepada kekuasaan kolonial secara langsung, tetapi pada ekosistem global yang membentuk arah wacana.
Aktivisme tidak lagi sepenuhnya organik, melainkan berpotensi menjadi bagian dari jaringan yang lebih luas yang memiliki agenda, kepentingan, dan arah tertentu.
Kecurigaan publik terhadap kemungkinan adanya keterkaitan dengan pendanaan asing pun bukan tanpa alasan, meski tentu membutuhkan pembuktian jelas.
Dalam geopolitik modern, bantuan dan pendanaan jarang berdiri di ruang hampa; ia membawa nilai, perspektif, bahkan kepentingan.
Ketika sebuah gerakan terlalu konsisten selaras dengan narasi global tertentu, tetapi kurang sensitif terhadap konteks lokal, wajar jika publik mempertanyakan independensinya.
Di sinilah Gatoloco menjadi relevan kembali. Dalam konteks hari ini, “Gatoloco” bukan berarti sosok yang serampangan atau tanpa etika, melainkan representasi keberanian untuk berpikir mandiri.
Ia mungkin tidak populer, tidak dibungkus jargon internasional, bahkan dianggap “tidak progresif”, tetapi ia berdiri tanpa bergantung.
Sebaliknya, “Darmo Gandul” gaya baru justru tampil rapi, sistematis, dan terdengar benar. Ia menguasai bahasa global, memahami cara membangun opini, dan memanfaatkan momentum isu.
Namun satu hal yang membedakan tetap sama seperti dulu: apakah ia berdiri sendiri, atau menggantung pada kekuatan lain?
Bedah Lengkap: Senjata Kritik ala Sosrokartono
Pelajaran yang diwariskan R.M.P. Sosrokartono kepada Soekarno bukan sekadar strategi politik, melainkan kemampuan membaca manusia dan kepentingan di baliknya.
Ia mengajarkan bahwa dalam perang pikiran, musuh paling berbahaya bukan yang terlihat, melainkan pengaruh yang menyamar sebagai kebaikan.
Serat Darmo Gandul & Gatoloco itu adalah senjata kritik paling Sun Tzu dari Sosrokartono.
Tidak frontal, tidak bisa ditangkap Belanda, tapi nusuk ke ulu hati kaum agama dan pemimpin pribumi yang jadi “jongos” penjajah di era pra-kemerdekaan.
1. Asal-usul: Serat Darmo Gandul & Gatoloco
- Bukan karangan asli, tapi dipopulerkan Sosro: Serat ini naskah anonim abad ke-19 yang dihidupkan kembali oleh Sosrokartono pada 1920-an di Bandung. Ia pakai untuk mengajar murid-muridnya, termasuk Soekarno, membedah karakter pemimpin.
- Taktik "Don't Lie, But Don't Tell The Truth": Kalau teriak langsung "ini antek Belanda", besok sudah ditangkap. Tapi kalau bahas "Gatoloco", semua orang paham maksudnya, tapi Belanda bingung. Ini perang pikiran lewat simbol budaya.
2. Isi Kritik: Darmo Gandul vs Gatoloco
Darmo Gandul
Maknanya adalah sosok elite atau agamawan yang ngaku suci dan luhur, tetapi hidupnya "gandul" atau numpang pada kekuasaan asing.
Dalil-dalil yang dimiliki justru dipakai untuk mengesahkan atau melegitimasi kekuasaan penjajah.
Dalam realitas masa kolonial, ini merujuk pada ulama dan bupati yang berfatwa "Taat kepada Gubermen itu bagian dari iman", padahal posisi dan kesejahteraannya didukung oleh kekuasaan asing. Mereka menjual agama demi jabatan dan kepentingan pribadi.
Gatoloco
Berbeda dengan Darmo Gandul, Gatoloco digambarkan sebagai sosok yang ugal-ugalan, omongannya kasar, dan kelakuannya nyleneh, tetapi jujur kepada rakyat dan tidak mau didikte oleh kepentingan luar.
Tokoh ini menjadi sindiran untuk pemimpin atau tokoh masyarakat yang mungkin tidak tampak "alim" secara formal, tetapi berani membela rakyat.
Contoh nyata adalah Samin Surosentiko dan para petani pemberani yang menolak membayar pajak.
Walau sering dicap "kafir" atau "nakal" oleh kaum elit, Gatoloco justru memihak pada kebenaran dan nasib rakyat kecil.
Kalimat Kunci Sosrokartono ke Soekarno:
"Zaman edan pilihannya cuma dua: jadi Darmo Gandul atau jadi Gatoloco. Tapi pemimpin sejati harus bikin jalan ketiga: ambil jujurnya Gatoloco, ambil wibawanya Darmo, buang sifat numpang & ugal-ugalannya."
Jalan ketiga inilah yang dipakai Bung Karno: tampil sopan dan berwibawa layaknya orang alim, namun semangat dan pidatonya mampu "membakar" semangat perlawanan terhadap penjajah.
3. Relevansi: Dulu vs Sekarang
Masa Kolonial:
- Darmo Gandul: Kaum yang selalu berwacana "jangan lawan Belanda, nanti kualat, kita tidak kuat".
- Gatoloco: Kaum yang mungkin diam saja, tetapi berani menolak ketidakadilan, yang sering kali dicap "tidak beragama" oleh kaum terdidik dan elit.
- Intinya: Sosrokartono membongkar bahwa yang teriak agama dan kebajikan belum tentu memihak rakyat. Ukurannya hanya satu: memihak ke asing atau ke bangsa sendiri?
Masa Kini (2026):
- Darmo Gandul Gaya Baru: Tokoh atau influencer yang menggunakan dalil nasionalisme dan HAM, namun endorse-nya produk luar, pola pikir dan FYP-nya disetir oleh agenda asing, serta marah besar jika impor dibatasi. Ini yang disebut Sugih banda, kere pikiran (kaya harta, miskin wawasan).
- Gatoloco Gaya Baru: Mereka yang sering dicap "radikal" atau "nyinyir" karena berani membela aturan hukum dan kebenaran data, namun menolak uang asing dan berdiri di atas kaki sendiri.
4. Makna "Habis Gelap Terbitlah Terang"
"Habis Gelap Terbitlah Terang" versi Sosrokartono bukan sekadar puitis, melainkan soal imunitas pikiran.
Kegelapan itu terjadi ketika rakyat tidak bisa membedakan mana aktivis yang tulus, mana aktivis yang "gandul" atau bergantung pada pihak lain.
Sosrokartono mengajarkan: Lihat jejak uang dan keberpihakannya, jangan hanya mendengar sorbannya.
Kemerdekaan akan gagal jika rakyat memilih pemimpin yang hanya tampak alim tetapi hidupnya menggantung. Emansipasi gagal jika pikiran bangsa masih dikuasai oleh kepentingan luar.
Kesimpulan
Dalam konteks ini, aktivisme yang kehilangan pijakan pada realitas objektif justru berisiko menjadi alat, bukan kekuatan.
Ketika advokasi berubah menjadi pembelaan buta, ketika narasi lebih cepat daripada fakta, maka yang terjadi bukan lagi pencarian keadilan, melainkan pembentukan persepsi.
Kartini berbicara tentang terang—tentang keluar dari kegelapan pikiran. Namun terang itu tidak datang dari suara yang paling keras, melainkan dari kejernihan dalam membedakan: antara perjuangan dan kepentingan, antara keberpihakan dan ketergantungan, antara suara rakyat dan gema dari luar.
Hari ini, tantangan terbesar bukan kekurangan aktivis, melainkan kejelasan arah aktivisme itu sendiri.
Apakah ia benar-benar lahir dari nurani, atau justru menjadi bagian dari arus global yang lebih besar?
Serat Darmo Gandul tidak pernah memberi jawaban hitam-putih. Ia hanya memberi alat: lihat siapa yang diuntungkan, lihat ke mana arah gerakan, dan lihat apakah ia berdiri tegak atau menggantung.
Di situlah publik diuji. Karena dalam dunia yang penuh narasi, kebenaran tidak selalu datang dengan suara paling lantang—tetapi sering kali bersembunyi di balik kesunyian, seperti yang selalu diajarkan Sosrokartono.***