Oleh: Agus Widjajanto
Pemerhati Sosial Politik
Radarbadung.jawapos.com- Salah satu operasi yang sangat rahasia pernah dilakukan oleh lembaga intelijen Indonesia adalah Operasi Alpha.
Misi ini dijalankan oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) — yang kini menjadi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara — pada rentang tahun 1979 hingga 1982 untuk mendatangkan 32 unit pesawat tempur A-4 Skyhawk dari Israel.
Operasi ini diprakarsai oleh Panglima ABRI saat itu sekaligus tokoh intelijen ulung, Leonardus Benny Moerdani.
Tantangan misi ini sangat besar mengingat saat itu Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.
Pelaksanaannya menuntut penyamaran identitas seluruh awak pesawat, serta pengiriman armada melalui jalur laut.
Operasi ini tercatat sebagai salah satu misi intelijen paling sukses di dunia dan menjadi bagian sejarah bangsa yang menorehkan tinta emas dalam bidang tersebut.
Selain kisah itu, ada satu lagi peristiwa heroik yang terjadi pada awal tahun 1990-an, saat pecahnya Negara Federal Yugoslavia dan meletusnya Perang Bosnia.
Di tengah situasi itu, tercatat aksi luar biasa yang dilakukan oleh insan intelijen Tanah Air: sebuah operasi senyap untuk mengirimkan bantuan persenjataan secara rahasia ke Sarajevo.
Tujuannya agar pihak yang dianggap paling lemah dan menjadi korban pembantaian memiliki kemampuan membela diri.
Kisah ini dikenal luas sebagai “Misi Senyap Soeripto ke Bosnia” yang dilaksanakan pada awal tahun 1990-an. Keberadaan misi ini kemudian terungkap melalui penuturan langsung Soeripto serta berbagai catatan media yang terbit setelahnya.
Latar Belakang: Embargo Senjata PBB untuk Wilayah Bekas Yugoslavia 1992–1995
Saat Yugoslavia terpecah menjadi beberapa negara baru, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberlakukan larangan pengiriman senjata atau embargo senjata bagi seluruh wilayah bekas negara tersebut.
Kebijakan ini menimbulkan masalah yang sangat kompleks.
Pihak Bosnia justru menjadi kelompok yang paling minim persediaan senjata, sekaligus menjadi yang paling banyak menderita akibat konflik.
Sebaliknya, kekuatan militer Serbia dan Kroasia jauh lebih siap dan lengkap peralatannya.
Akibatnya, ribuan warga sipil Bosnia — baik perempuan, anak-anak, maupun orang tua — menjadi korban kekerasan dan pembantaian. Di situlah awal mula kisah misi ini bermula.
Peran Soeripto, Perwira Intelijen Senior
Soeripto adalah mantan staf Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) hingga tahun 1970.
Saat misi ke Bosnia dilaksanakan, usianya sekitar 53 tahun dan sudah memasuki masa purna tugas.
Ia didekati oleh Probosutedjo, adik Presiden Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Ketua Solidaritas Rakyat Indonesia untuk Bosnia.
Dalam pertemuan itu, Probosutedjo bertanya terus terang: “Apakah kamu sanggup melaksanakan misi yang tidak akan pernah diakui oleh negara jika kamu tertangkap?”
Tanpa ragu, Soeripto menjawab singkat: “Sanggup.”
Motivasi utamanya didasari oleh rasa kemanusiaan.
Kalimat yang disampaikan oleh para pejuang Bosnia kepada dunia Muslim saat itu sangat membekas di hatinya:
“Kami sudah cukup menerima bantuan makanan, namun pasukan Serbia terus membantai kami, sedangkan kami tidak memiliki senjata untuk membela diri.”
Ucapan itu membuat Soeripto berfokus bukan hanya pada bantuan logistik berupa bahan makanan dan obat-obatan, melainkan juga pada pengadaan alat pertahanan diri yang sangat dibutuhkan.
Jalannya Misi: Menembus Blokade Ketat
Pelaksanaan misi ini melalui tahapan yang penuh risiko:
Jaringan
Soeripto menghubungi Ustaz Hilmi Aminuddin, tokoh masyarakat, untuk membangun jalur komunikasi. Melalui jaringan tersebut, ia berhasil terhubung dengan penyedia peralatan pertahanan di wilayah Kroasia.
Proses Pengadaan
Di ibu kota Kroasia, Zagreb, Soeripto bertemu langsung dengan utusan dari pihak Bosnia.
Sementara Adi Sasono menangani jalur resmi untuk mengirimkan bantuan makanan dan obat-obatan, Soeripto mengurus pengadaan persenjataan, meliputi senapan serbu AK-47, M-16, granat tangan, peluncur roket antitank, serta perlengkapan tempur lainnya.
Pengiriman dan Penyelundupan
Persenjataan tersebut dikirim dan dibawa masuk ke wilayah Bosnia dengan menggunakan kedok lembaga kemanusiaan Bulan Sabit Merah Mesir.
Perjalanan harus melewati sedikitnya sembilan pos pemeriksaan yang dijaga oleh pihak Bosnia, Serbia, hingga pasukan perdamaian PBB.
Risikonya sangat besar: jika ketahuan melanggar ketentuan embargo PBB, mereka dapat dicap sebagai penjahat perang.
Jika tertangkap pasukan Serbia, nyawa menjadi taruhan dan bisa langsung ditembak di tempat.
Soeripto baru merasa lega sepenuhnya setelah memastikan seluruh persenjataan sampai dengan aman ke tangan pihak yang membutuhkan.
Setelah misi selesai, ia kembali ke Indonesia dengan selamat.
Restu Presiden Soeharto
Misi rahasia ini ternyata mendapatkan persetujuan langsung dari Presiden Soeharto.
Dalam catatannya, Soeripto menyebutkan bahwa Presiden mengetahui rencana tersebut, namun menghindari keterlibatan resmi secara terbuka demi menjaga kepentingan diplomasi dan politik luar negeri Indonesia.
Laporan mengenai keberhasilan misi ini disampaikan kepada Presiden Soeharto oleh Prabowo Subianto dan Sri Edi Swasono.
Pada tanggal 11 Maret 1995, Presiden Soeharto berkunjung ke Sarajevo dengan keberanian yang luar biasa: ia tidak mengenakan rompi antipeluru selama berada di sana.
Dalam pertemuan dengan Presiden Bosnia, Alija Izetbegovic, kepala negara itu menyampaikan:
“Bantuan seperti inilah yang paling kami butuhkan, Paduka. Kami butuh senjata, bukan sekadar pakaian, makanan, dan obat-obatan.”
Mendengar hal itu, Presiden Soeharto hanya tersenyum tenang.
Menteri Sekretaris Negara saat itu, Moerdiono, yang mendampingi kemudian bertanya dalam bahasa Jawa: “Pak, kapan kita kirim bantuan senjata lagi?”
Presiden menjawab singkat: “Wis… wis, meneng wae.” Artinya: “Sudah… sudah, diam saja.”
Jawaban itu secara tersirat menegaskan bahwa apa yang telah terjadi adalah bagian dari operasi rahasia negara yang tidak perlu diumbar ke publik.
Catatan Akhir
Soeripto wafat di usia 89 tahun. Ia juga dikenal sebagai pendiri Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP).
Bahkan saat menginjak usia 87 tahun, ia masih terus berjuang memberikan bantuan kemanusiaan serta mendukung kemerdekaan rakyat Palestina.
Kisah ini menjadi bukti nyata pengabdian insan intelijen yang dilandasi rasa solidaritas sesama manusia dan tanggung jawab kepada negara.
Secara hukum internasional, operasi ini memang melanggar ketentuan embargo senjata PBB, namun dilandasi pertimbangan kemanusiaan agar pihak yang lemah memiliki hak serta kemampuan untuk membela diri.
Perlu dipahami juga bahwa Soeripto sudah pensiun dari BAKIN saat misi ke Bosnia berlangsung pada tahun 1992.
Ia bertindak selaku purnawirawan yang menjalankan tugas melalui jalur non-negara, yakni melalui lembaga sosial yang dipimpin Probosutedjo.
Presiden Soeharto mengetahui jalannya misi, namun tidak melibatkan instansi resmi agar jika suatu saat terungkap, tidak menimbulkan masalah diplomatik bagi Indonesia.
Generasi muda, khususnya kalangan milenial dan Gen Z, perlu mengetahui sejarah serta peran lembaga intelijen.
Dengan pemahaman yang benar, mereka tidak mudah memberikan penilaian atau pandangan yang keliru terhadap profesi ini. Sungguh berat tugas yang diemban para patriot yang bekerja di balik layar.
Kodrat kerja seorang intelijen dapat dirangkum dalam tiga hal berikut:
1. Mati dalam tugas tidak diakui
Karena bersifat rahasia, nama mereka tidak akan dimuat di media, tidak ada bendera setengah tiang, dan keluarga pun sering hanya diberi tahu bahwa yang bersangkutan gugur dalam tugas negara tanpa penjelasan lebih lanjut.
2. Gagal dicaci maki
Jika misi bocor atau tertangkap, seluruh tanggung jawab dibebankan kepada pelaksana. Negara tidak dapat membela secara terbuka, sehingga pandangan publik seringkali hanya melihat sisi kegagalannya tanpa memahami konteks sebenarnya.
3. Berhasil tidak disambut pesta kemenangan
Seperti yang dialami Soeripto di Bosnia: bantuan sampai dengan selamat, rakyat Bosnia dapat bertahan hidup, dan terima kasih langsung disampaikan oleh pemimpin negaranya.
Namun di Indonesia, tidak ada pawai kemenangan atau penghargaan resmi. Jawaban Presiden Soeharto yang hanya berkata “meneng wae” adalah bukti nyata sifat tugas mereka.
Inilah perbedaan mendasar antara tugas intelijen dengan militer atau kepolisian yang bekerja secara terbuka.
Jika TNI memenangkan pertempuran, akan ada upacara penghargaan dan kenaikan pangkat.
Sebaliknya, jika intelijen berhasil melaksanakan misi, berkas segera ditutup, identitas disamarkan, dan peristiwa pun dilupakan oleh publik.
Inti dari pengabdian mereka adalah: “Aku bekerja untuk negara, bukan untuk tepuk tangan.”
Sumpah mereka bukan kepada kamera, melainkan kepada lambang Garuda yang ada di dada.
Itulah sebabnya Soeripto tidak pernah mengharapkan medali atau penghargaan; yang terpenting baginya adalah dampak positif bagi kemanusiaan.
Dunia intelijen Indonesia memiliki sejarah panjang sejak masa perjuangan kemerdekaan.
Di masa awal, dikenal nama Kolonel Zulkifli Lubis sebagai Bapak Intelijen Indonesia.
Pada era Orde Baru, muncul tokoh seperti Ali Moertopo, Yoga Sugama, dan Leonardus Benny Moerdani.
Memasuki masa Reformasi, ada nama H.M. Hendropriyono.
Di luar itu, masih banyak nama lain yang bekerja secara senyap demi menjaga keamanan bangsa tanpa tanda jasa yang tercatat secara terbuka.
Saat ini, dunia intelijen dituntut untuk terus beradaptasi menghadapi tantangan baru, seperti ancaman keamanan siber, spionase lintas negara, serta dinamika politik dan ekonomi global yang terus berubah.
Pengabdian di bidang ini memang sangat berat. Namun jika tidak ada orang yang bersedia bekerja di balik layar, banyak hal yang tidak dapat berjalan dengan baik.
Stabilitas dan keamanan negara bisa terganggu, persatuan bangsa terancam, serta mudah terpengaruh oleh pengaruh asing yang dapat merusak rasa nasionalisme generasi muda.
Akibatnya, negara tidak lagi aman, rakyat sulit hidup tenang, kegiatan ekonomi terhambat, dan masyarakat mudah terprovokasi untuk terpecah belah.
Di situlah peran intelijen menjadi sangat penting, yang wujudnya terasa hingga ke tingkat paling bawah melalui aparat keamanan seperti Babinsa dan Bhabinkamtibmas, yang terus menjaga keutuhan dan ketertiban masyarakat.***
Editor : Donny Tabelak