Radarbadung.jawapos.com– Menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) di pos perbatasan bukan tugas yang ringan.
Apalagi jika dijalankan oleh seorang wanita sekaligus ibu dari tiga orang anak.
Namun tantangan itu justru dijalani dengan penuh tanggung jawab oleh Yevika Mariany Adoe S.A.B., M.A.P.
Sejak tahun 2021, ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Hangar Bea Cukai di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) wilayah pengawasan Bea Cukai Atambua, yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.
Wanita kelahiran Kupang, 11 Oktober 1984 ini, adalah anak kedua dari empat bersaudara.
Ia merupakan putri mendiang Simon Erens Adoe dan Yoka Isterina Lay.
Kini ia hidup bersama suami, Foldy Welem Amalo, serta ketiga putrinya: Petricia Diviany Amalo, Pricilla Abigail Amalo, dan Princella Gyovana Amalo.
Yevika memulai karirnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) sejak 1 Desember 2003 di Kantor Bea Cukai Kupang.
Selama bertugas di sana hingga tahun 2020, ia pernah ditempatkan di Terminal Internasional Bandara Eltari saat masih melayani penerbangan Kupang–Darwin dan Kupang–Dili, serta di Pelabuhan Internasional Tenau.
Pengalaman itulah yang menjadi bekalnya saat dipindahkan ke Bea Cukai Atambua pada tahun 2020.
Sejak ditugaskan sebagai Koordinator Hangar Bea Cukai pada tahun 2021, mobilitas menjadi bagian tak terpisahkan dari tugasnya.
Ia harus siap berpindah pos dari satu PLBN ke PLBN lain sesuai kebutuhan dinas, antara lain PLBN Motaain, Wini, Napan, hingga Motamasin.
“Berat atau lancar itu relatif, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Jujur, sebagai wanita yang bertugas di wilayah perbatasan ini rasanya sangat berat, apalagi saya juga seorang ibu dengan tiga putri. Namun bagi saya, setiap tugas adalah amanah negara yang harus dijalankan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan terbesar selain harus cepat beradaptasi dengan lingkungan dan jauh dari keluarga adalah risiko yang dihadapi dalam menjaga keamanan perbatasan.
“Kami berhadapan langsung dengan upaya penyelundupan barang ilegal, narkoba, hingga barang berbahaya. Harus jeli, teliti, dan tidak boleh lengah, karena satu kelalaian saja bisa merugikan keuangan dan kedaulatan negara,” tegasnya.
Namun di balik tantangan itu, tersimpan kebanggaan tersendiri.
“Setiap barang ilegal yang berhasil dicegah dan setiap rupiah penerimaan negara yang berhasil kami jaga menjadi kepuasan batin. Apalagi ketika masyarakat mulai sadar dan mendukung tugas kami, beban ini terasa lebih ringan,” tambahnya.
Bekerja, Kuliah, dan Keluarga Berjalan Seimbang
Di tengah kesibukan dinas yang berpindah-pindah tempat, Yevika justru menyempatkan diri melanjutkan pendidikan ke jenjang magister.
Ia tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Nusa Cendana, yang ditempuh sejak Agustus 2024 hingga Januari 2026.
Dalam waktu hanya 17 bulan atau 1 tahun 5 bulan, ia berhasil lulus dengan predikat Cumlaude dan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mencapai 3,86.
“Kuncinya hanya satu: manajemen waktu yang baik, disiplin tinggi, dan tidak pernah menunda pekerjaan. Saya mengambil jalur izin belajar mandiri dengan biaya sendiri, tanpa mengganggu jam dinas. Malam hari saya gunakan untuk membaca referensi, mengerjakan tugas, atau mengikuti pertemuan daring,” jelasnya.
Ia mengakui keterbatasan sinyal di daerah perbatasan menjadi tantangan tersendiri untuk perkuliahan daring.
Jika harus bertemu secara tatap muka, ia memanfaatkan hari libur atau cuti.
Bahkan, topik tesis yang diambilnya disesuaikan dengan tugasnya sehari-hari, sehingga penelitiannya sekaligus membantu meningkatkan kinerja di lapangan.
“Berat? Pasti. Tapi saya pegang prinsip: kalau ingin maju, harus rela berusaha lebih keras. Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan suami, anak-anak, serta pimpinan di Bea Cukai Atambua yang memberi kepercayaan dan kesempatan,” ungkapnya.
Meskipun jauh dari rumah, ia tetap menjaga komunikasi intensif lewat panggilan video agar keluarga tetap terasa dekat.
“Kalau keluarga bahagia dan hati tenang, bekerja di perbatasan maupun belajar pun bisa lebih fokus,” katanya.
Kerja Sama Lintas Instansi dan Lintas Negara
Dalam menjalankan tugasnya, Yevika menyadari bahwa Bea Cukai tidak bisa bekerja sendiri.
Di setiap PLBN, mereka tergabung dalam wadah CIQS yang meliputi Bea Cukai, Imigrasi, Karantina, serta unsur keamanan dan pemerintahan daerah.
“Setiap bulan kami rutin mengadakan rapat koordinasi bersama. Kami juga melakukan operasi gabungan untuk mengawasi titik rawan penyelundupan. Ada pula grup komunikasi yang aktif 24 jam untuk menyampaikan informasi secara cepat,” jelasnya.
Kerja sama juga terjalin dengan pihak lintas negara.
Ia rutin berkoordinasi dengan pihak Bea Cukai, Imigrasi, dan Kepolisian Timor Leste untuk saling bertukar informasi guna menjaga keamanan dan kelancaran arus lintas batas.
Prestasi yang diraihnya tidak membuatnya berpuas diri. Yevika mengaku ingin terus meningkatkan kompetensi.
“Saya berharap nantinya bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang Doktor secara mandiri, asalkan mendapat izin dari pimpinan. Menjaga perbatasan bukan sekadar pekerjaan, tapi soal amanah dan harga diri bangsa. Ilmu yang terus bertambah akan membuat saya semakin mampu menjaga tugas ini dengan baik,” pungkasnya.***
Editor : Donny Tabelak