Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Dari Tradisi Pegat Sot dan Sampi Gembeg di Desa Bali Aga Buleleng, Sapi Turun ke Sawah, Doa Dipanjatkan Kepada Leluhur

Eka Prasetya • Senin, 9 Februari 2026 | 08:05 WIB

Ritual pegat sot dan sampi gerumbungan yang digelar di Desa Pedawa. Tradisi ini tetap lestari di masyarakat agraris.
Ritual pegat sot dan sampi gerumbungan yang digelar di Desa Pedawa. Tradisi ini tetap lestari di masyarakat agraris.

Radadbadung.jawapos.com- Masyarakat Desa Pedawa punya tradisi unik, yakni sampi gerumbungan alias sampi gembeng.

Kemarin tradisi itu dihadirkan sebagai bentuk pegat sot atau naur sangi dari warga. Seperti apa?

Air keruh setinggi betis mengalir pelan di petak sawah Subak Penyahcah, Dusun Munduk Waban, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Minggu (8/2).

Di tengah sawah itu, sepasang sapi berhias ornamen warna-warni berdiri tenang, dipegang tali oleh para pemiliknya.

Ratusan warga tumpah ruah di tepian subak, menyaksikan satu tradisi yang masih setia dijaga, yakni Sampi Gerumbungan, atau yang juga dikenal sebagai Sampi Gembeng.

Tradisi agraris ini bukan sekadar tontonan. Ia adalah doa yang bergerak, menyatu dengan lumpur sawah, aliran air, dan napas sapi-sapi yang dipercaya membawa harapan kesuburan.

Desa Pedawa, salah satu desa Bali Aga di Buleleng, masih merawatnya sebagai warisan leluhur.

Sebelum sapi-sapi itu digiring berkeliling sawah, rangkaian ritual sakral lebih dulu dilaksanakan.

Upacara Pegat Sot atau Naur Sesangi dipimpin langsung oleh Balian Desa Pedawa.

Upacara ini berkaitan dengan janji atau ucapan yang pernah terucap dan harus dibayar secara niskala agar tak menjadi beban di kemudian hari.

Baca Juga: Puluhan Ribu Peserta BPJS Dinonaktifkan di Karangasem, Ternyata karena Kebijakan Pemerintah Pusat

Balian Desa Pedawa, I Nyoman Kalam menuturkan, Pegat Sot dan Tradisi Sampi Gerumbungan memiliki keterkaitan yang sangat erat.

Subak dan persawahan, merupakan bentuk pemujaan kepada Ida Betari Sri sebagai simbol kemakmuran dan limpahan hasil panen.

“Dalam upacara Pegat Sot ini dipimpin oleh Balian Desa, Penghulu (Dulu Desa), disaksikan Perbekel Desa Pedawa, Bendesa, dan Prajuru Desa Adat sebagai manusa saksi di alam sekala, serta dilengkapi bebanten sebagai persembahan di alam niskala,” ujarnya.

Upacara Pegat Sot dan Tradisi Sampi Gerumbungan selalu dilaksanakan menjelang masa tanam padi atau melasah.

Tradisi ini, kata Kalam, tidak boleh terputus, terlepas ada atau tidaknya warga yang menghaturkan sesangi.

“Tidak boleh putus, untuk Tradisi Sampi Gerumbungan, bilamana ada warga yang mesesangi ataupun tidak. Terlebih dahulu Desa Pedawa merupakan hamparan persawahan sebelum berubah menjadi perkebunan,” ungkapnya.

Baca Juga: Viral Sapi Lepas di Kota Tabanan, Bikin Geger Pengguna Jalan depan Kantor Bupati

Sebelum prosesi dimulai, setiap sapi diperciki tirta suci. Setelah ritual Pegat Sot rampung, seorang warga membawa adengan—sesajen khusus—mengelilingi area persawahan.

Dalam tradisi ini, terdapat dua banten adengan yang wajib dinaikkan pada sapi, yakni adengan lanang dan adengan istri, sebagai simbol keseimbangan laki-laki dan perempuan.

Di tengah lumpur sawah, sapi-sapi itu melangkah perlahan, diiringi doa, tatapan khidmat warga, dan ornamen warna cerah yang menghiasi kepala serta tubuhnya.

Ketut Sumitra, Baga Barat Desa Kaliasem, menyebut tradisi Gembeng telah dijalankan leluhur masyarakat Buleleng sejak lama, seiring wilayah ini dikenal sebagai daerah agraris.

“Ini merupakan Tradisi Sampi Gembeng yang tiada duanya di Buleleng,” katanya.

Di tengah perubahan zaman dan pergeseran pola hidup, Desa Pedawa masih bertahan dengan denyut agrarisnya. Harapannya hjanya agar Sampi Gerumbungan tetap hidup, terus dilaksanakan, dan tidak sekadar menjadi cerita.***

Editor : Donny Tabelak
#desa pedawa #tradisi #desa bali aga #Pegat Sot