Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Ogoh-Ogoh 'Mulat Sarira' Karya STT Banjar Sanggulan Indah: Mengangkat Realitas Masalah Bali Saat Ini

Juliadi Radar Bali • Rabu, 18 Februari 2026 | 07:23 WIB
Ogoh-ogoh ini menampilkan figur manusia yang diberi nama
Ogoh-ogoh ini menampilkan figur manusia yang diberi nama

Radarbadung.jawapos.com- Jelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1948 yang jatuh pada 19 Maret mendatang, berbagai karya seni ogoh-ogoh mulai disiapkan oleh sekaa teruna teruni (STT) di seluruh Bali.

Salah satu karya yang menarik perhatian adalah hasil karya STT Banjar Sanggulan Indah (BSI), Desa Banjar Anyar, Kediri Tabanan.

Berbeda dengan yang umumnya mengangkat figur bhuta kala, karya ini menampilkan figur manusia yang diberi nama "Mulat Sarira" dengan tagline "Sing Ngidank Ngomong Ape", yang ide dasarnya berasal dari berbagai permasalahan yang terjadi di Bali saat ini.

Pada sekitar pukul 18.00 Wita kemarin, lokasi berkumpulnya anggota STT BSI di Jalan Tukad Unda baru saja selesai dijadwalkan acara gerebek banjar.

Beberapa muda-mudi tengah melakukan persiapan menyelesaikan karya ogoh-ogoh tersebut, yang diinisiasi oleh Wayan Sudarma Putra atau akrab disapa Nano Uhero – pelaku seni instalasi anyaman bambu Bali yang telah dikenal di kancah nasional.

 Baca Juga: Harga Cabai Rawit di Bali Tembus Rp110 Ribu per Kilogram

Nano mengaku ide awal pembuatan ogoh-ogoh yang bukan berupa butha kala justru mengangkat figur manusia "Mulat Sarira" berasal dari realitas kondisi Bali saat ini.

Figur dengan gestur duduk diam di atas bongkahan kayu yang terpotong dan jari telunjuk berada di kening kepala, menggambarkan berbagai permasalahan yang terjadi di Pulau Dewata.

"Semua orang tahu bagaimana Bali hari ini menghadapi masalah alam, kesalahan manusia, sampah, kemacetan, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, hingga masalah terkait wisatawan. Semua ini menyatu menjadi bentuk bencana yang nyata dan bahkan sebagian masyarakat menganggapnya seperti zaman kaliyuga," ujar seniman lulusan ISI Yogyakarta tersebut pada Senin (16/2).

Figur "Mulat Sarira" menyampaikan pesan agar manusia melakukan introspeksi diri, berpikir dan merenungkan berbagai masalah yang muncul tanpa saling menyalahkan.

Menurutnya, manusia hidup sebagai obyek sekaligus subjek alam, berada di antara putaran waktu atau kala yang menjadi penentu kondisi yang terjadi.

Sehingga manusia bisa menjadi baik, jahat, hingga menakutkan di alam semesta tempat mereka tinggal.

"Gestur diam dengan telunjuk menunjuk kening menggambarkan pemikiran tentang segala permasalahan di Bali – penat, pusing, dan campur aduk masalah. Intinya introspeksi pada diri dan alam lingkungan, dengan harapan menjadi lebih baik ke depannya," jelas seniman berusia 50 tahun itu.

Ogoh-ogoh yang memiliki tinggi 4 meter dan lebar sekitar 3 meter ini menggunakan kayu sebagai struktur dasar, diikuti dengan anyaman bambu, sisa kertas koran, plaster kertas, tisu, dan cat sebagai pewarnaan. "Semua bahan alami dari alam," ucapnya.

Selain itu, karya ini juga akan dipasangi balutan kain/kamen dan tengkuluk (penutup kepala) dari kain.

Pengerjaan ogoh-ogoh telah dimulai tiga minggu lalu, dengan target penyelesaian dua minggu sebelum Hari Raya Nyepi berlangsung.***

Editor : Donny Tabelak
#seniman #sekaa #mulat sarira #ogoh-ogoh #nyepi 1942 saka #sanggulan