Radarbadung.jawapos.com- Keluarga Puri Kantor Ubud akan menggelar upacara mecaru ngeresigana kerubuhan pada 20 Februari mendatang, menyusul insiden tumbangnya pohon beringin berusia sekitar 300 tahun yang menimpa area puri.
Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bagian dari pemulihan secara adat dan spiritual pascakejadian.
Penglingsir Puri Kantor Ubud, Tjokorda Gede Putra Asmara Sukawati, menyampaikan sebelum upacara dilaksanakan, pihak keluarga akan terlebih dahulu mengunjungi geria (rumah pendeta).
"Kami nunas pemargi selanturnyane (memohon arahan selanjutnya, red)," ujarnya.
Selain upacara adat, pihak puri juga akan memperbaiki bangunan yang terdampak.
Namun proses perbaikan masih menunggu arahan dari pihak geria agar sesuai dengan pertimbangan adat dan spiritual.
Menurutnya, pohon beringin yang tumbang telah ada bersamaan dengan terbentuknya Puri Ubud dan menjadi bagian dari sejarah.
"Beberapa hari sebelum kejadian, dahan pohon tersebut sempat diterpa angin kencang cukup lama, namun awalnya masih bertahan sebelum akhirnya roboh ke dua arah," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Gianyar, Ida Bagus Putu Suamba, mengatakan tim masih melakukan proses evakuasi dahan pohon yang menimpa bangunan puri dengan sangat hati-hati.
"Dalam proses evakuasi, yang jelas ke selatan kami utamakan," katanya.
Ukuran pohon yang sangat besar dan sebagian reruntuhan yang berada di atas bangunan membuat proses evakuasi memerlukan peralatan khusus.
Sejak kejadian, petugas telah membersihkan cabang yang sempat menutupi badan jalan.
Evakuasi sempat dihentikan sementara akibat hujan, sebelum dilanjutkan kembali pada Selasa (17/2).
Pihak terkait mengimbau masyarakat untuk tetap berhati-hati saat cuaca ekstrem dan selalu mengikuti arahan petugas demi keselamatan bersama.***
Editor : Donny Tabelak