Imbas Perang di Timur Tengah, Okupansi Hotel di Bali Anjlok Jauh di Bawah Target

Ni Kadek Novi Febriani • Dipublikasikan Senin, 6 April 2026 | 06:05 WIB
Wisatawan asing diketahui banyak yang tinggal di kos-kosan di Bali.
Suasana salah satu hotel di Bali yang okupansinya terpantau menurun akibat dampak konflik di Timur Tengah. (Foto dok radarbadung.jawapos.com) 

Radarbadung.jawapos.com– Konflik geopolitik yang terjadi di Timur Tengah mulai memberikan dampak nyata terhadap perekonomian dunia, termasuk sektor pariwisata di Bali.

Sejak ketegangan dan peperangan memanas di kawasan tersebut, arus kedatangan wisatawan dari negara-negara Timur Tengah menurun drastis dan banyak yang membatalkan rencana perjalanan.

Imbasnya, tingkat hunian atau okupansi hotel di Pulau Dewata terpantau menurun dan tidak mampu mencapai target yang ditetapkan.

Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya, menyampaikan bahwa situasi tersebut berdampak langsung pada kunjungan wisatawan dari negara-negara penopang seperti Uni Emirat Arab (UEA).

Ia sangat berharap agar situasi ini segera berakhir dan perdamaian dapat tercapai mengingat eskalasi konflik yang dikhawatirkan akan mengancam stabilitas ekonomi global.

"Lihat saja harga minyak naik sampai 25 persen, ini yang membahayakan. Dunia harus prihatin. PBB harus bereaksi keras mengecam hal ini supaya tidak berlarut-larut karena berpotensi memicu Perang Dunia Ketiga," ujarnya saat ditemui, Kamis (5/4).

Di sisi lain, fenomena unik justru terlihat dari perpindahan warga asing dari Timur Tengah maupun Amerika Serikat yang mencari tempat perlindungan di negara-negara Asia yang dinilai netral dan aman, seperti Vietnam, Thailand, Malaysia, serta Indonesia, khususnya Bali.

Hal ini dikarenakan negara-negara tersebut menerapkan politik bebas aktif sehingga dianggap relatif aman dari konflik.

"Bali menjadi salah satu tempat favorit yang dirasa paling aman. Mereka sedang mengoordinasikan bagaimana agar penerbangan bisa tetap sampai ke Bali dan mereka tinggal di sini sampai situasi perang usai," jelasnya.

Selama ini, okupansi hotel di Bali memang sangat bergantung pada lima pusat utama penerbangan, yakni Dubai, Arab Saudi, Abu Dhabi, Qatar, dan Doha. Namun, akibat konflik yang terjadi, banyak wisatawan yang terpaksa membatalkan perjalanannya.

Sebagai jalan keluar, Rai berharap adanya peningkatan kedatangan turis dari Eropa melalui pengalihan rute penerbangan, meskipun harus melakukan transit.

Selain itu, ia juga menaruh harapan besar pada wisatawan asal Australia yang biasanya menjadikan Bali rumah kedua bagi mereka.

"Bagi warga Australia, Bali merupakan second home. Ini bisa menolong okupansi kita yang saat ini sedang turun," imbuhnya.

Kondisi tingkat hunian hotel saat ini terbilang cukup memprihatinkan. Banyak hotel yang okupansinya berada di bawah 50 persen.

Padahal, target pada bulan Maret dipatok di angka 65 hingga 70 persen.

Nyatanya, realisasi yang berhasil dicapai hanya berkisar di angka 55 persen.

"Kami closing di angka 55 persen untuk Bali. Bayangkan, dari Uni Emirat Arab biasanya satu pesawat A380 bisa mengangkut 600 hingga 700 penumpang," urainya.

Selain faktor eksternal berupa dampak konflik global, Rai juga menyoroti masalah internal berupa kasus kriminalitas yang terjadi di Bali yang turut memberikan sentimen negatif.

Berbagai kasus kejahatan yang menimpa wisatawan membuat keamanan di Bali dipertanyakan dan merusak citra di mata dunia.

Oleh karena itu, pihaknya mengimbau agar pihak pengelola akomodasi dan aparat keamanan meningkatkan kewaspadaan serta patroli di tempat-tempat rawan.

Selain itu, Rai menekankan pentingnya pembentukan Unit Reaksi Cepat (URC) yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan untuk merespons informasi negatif yang beredar di masyarakat maupun media sosial dengan cepat dan tepat.

"Dibutuhkan sistem reaksi cepat, salah satunya optimalisasi nomor darurat seperti 112," pungkasnya.***

Editor : Donny Tabelak
Sumber : Radar Badung
eropa phri pariwisata bali australia konflik timur tengah