Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Kotoran Kelelawar Pura Goa Lawah, Dipercaya Suburkan Tanaman hingga Jadi Incaran

Dewa Ayu Pitri Arisanti • Minggu, 26 April 2026 | 10:01 WIB
Kelelawar bertengger di Pura Goa Lawah. Kotoran hewan ini diyakini memiliki khasiat untuk menyuburkan tanaman. (Foto Dewa Ayu Pitri Arisanti) 
Kelelawar bertengger di Pura Goa Lawah. Kotoran hewan ini diyakini memiliki khasiat untuk menyuburkan tanaman. (Foto Dewa Ayu Pitri Arisanti) 

Radarbadung.jawapos.com- Pura Goa Lawah di Kabupaten Klungkung tidak hanya dikenal sebagai tempat ibadah umat Hindu dan tujuan wisata  yang ramai dikunjungi, tetapi juga memiliki keunikan tersendiri berkat keberadaan ribuan ekor kelelawar yang menghuni kawasan tersebut.

Kehadiran hewan ini justru memberikan manfaat tersendiri, karena kotorannya dipercaya oleh masyarakat setempat mampu menyuburkan tanaman.

Sebagai tempat suci, kebersihan dan kesucian kawasan pura selalu dijaga dengan ketat oleh warga yang bertugas.

Setiap kali dilakukan pembersihan, baik dari sisa sarana persembahyangan maupun kotoran kelelawar yang menumpuk di pelataran, petugas tidak pernah membuang limbah tersebut.

Sebaliknya, kotoran yang terkumpul justru disebarkan di taman-taman yang ada di lingkungan pura, karena dianggap memiliki nilai guna yang tinggi.

“Seluruh warga di sini sudah mengetahui bahwa kotoran kelelawar berfungsi sebagai pupuk alami yang sangat baik untuk tanaman. Oleh karena itu, kami tidak pernah membuangnya begitu saja, melainkan dimanfaatkan untuk merawat tanaman di sekitar pura,” ungkap I Putu Juliadi, salah satu panitia pengelola Pura Goa Lawah.

Belum hanya itu, keyakinan akan manfaat kotoran kelelawar ini juga dipegang teguh oleh para petani di sejumlah wilayah pertanian, khususnya di Kecamatan Dawan.

Setiap kali memasuki masa tanam padi, kelompok tani atau subak di daerah itu bahkan menjadikan pengambilan kotoran kelelawar sebagai salah satu rangkaian dalam ritual pertanian yang mereka selenggarakan.

Menurut Juliadi, ritual yang dikenal dengan sebutan meayu-ayu ini biasanya digelar ketika tanaman padi berusia sekitar 15 hari.

Beberapa subak yang rutin melakukannya antara lain Subak Sampalan dan Subak Pikat yang berada di wilayah Desa Pesinggahan.

“Untuk keperluan ritual itu, kotoran yang diambil jumlahnya hanya sedikit, sebesar keben atau takaran kecil saja. Nantinya, kotoran tersebut akan disebarkan secara merata di lahan persawahan dan juga di saluran irigasi. Para petani meyakini, dengan melakukan hal ini tanaman padi mereka akan terhindar dari berbagai serangan hama, serta hasil panennya nanti akan melimpah dan berkualitas baik,” jelasnya.

Karena dikenal memiliki nilai manfaat yang tinggi, kotoran kelelawar di Pura Goa Lawah ternyata juga pernah menarik perhatian banyak pihak, bahkan hingga ke luar negeri.

Selama puluhan tahun terakhir, sejumlah orang baik dari dalam maupun luar negeri diketahui pernah berniat membeli kotoran tersebut dalam jumlah besar untuk diolah menjadi pupuk komersial.

“Bahkan ada warga negara asing yang meminta kami menyiapkan ratusan ton kotoran kelelawar untuk diambil dan diolah. Namun permintaan itu tidak pernah kami penuhi sama sekali,” kenang Juliadi.

Penolakan itu bukan tanpa alasan. Sebab, sebagian besar kotoran kelelawar berada di dalam ruang goa yang menjadi tempat tinggal kawanan hewan tersebut.

Pihak pengelola khawatir jika goa dibersihkan secara menyeluruh, maka kelelawar yang telah hidup di sana selama turun-temurun akan pergi dan tidak kembali lagi.

Selain itu, ruang goa tersebut juga dipercaya memiliki kesakralan tersendiri, bahkan dihuni oleh ular yang dianggap sebagai penjaga.

Oleh karena itu, akses ke dalam goa sangat dibatasi dan tidak sembarang orang diperbolehkan masuk ke dalamnya.

“Selama ini yang kami bersihkan hanyalah kotoran yang ada di bagian luar atau pelataran pura, sedangkan yang ada di dalam goa tidak pernah kami sentuh sama sekali. Selain alasan kesakralan, kami juga tidak ingin merusak ekosistem yang telah terjaga selama ini,” tambahnya.

Meski tidak diperjualbelikan, pihak pengelola tetap membolehkan umat atau warga yang membutuhkan untuk mengambil kotoran kelelawar dalam jumlah sedikit, baik untuk keperluan berkebun maupun keperluan lainnya.

“Kami tidak pernah menjualnya, karena dianggap bukan barang dagangan. Namun jika ada umat yang membutuhkan dan meminta dengan sopan, kami berikan secara cuma-cuma. Biasanya mereka hanya mengambil sedikit saja untuk disebarkan di kebun atau pekarangan rumah, karena diyakini dapat membuat tanaman tumbuh lebih subur dan sehat,” pungkasnya.***

Editor : Donny Tabelak
#sakral #pura #budaya #kelelawar