Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Seabad Made Sanggra: Anaknya Alihwahanakan Karya Legendaris Jadi Geguritan

Adrian Suwanto • Sabtu, 2 Mei 2026 | 16:38 WIB
Peringatan seabad kelahiran sastrawan legendaris Bali, Made Sanggra, digelar di Yayasan Wahana Dharma Sastra Made Sanggra, Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. (Foto Adrian Suwanto)
Peringatan seabad kelahiran sastrawan legendaris Bali, Made Sanggra, digelar di Yayasan Wahana Dharma Sastra Made Sanggra, Banjar Gelulung, Sukawati, Gianyar. (Foto Adrian Suwanto)

Radarbadung.jawapos.com– Memperingati seabad kelahiran sastrawan besar Bali, Made Sanggra, keluarganya meluncurkan karya alihwahana berupa geguritan berjudul Katemu ring Tampaksiring.

Buku ini merupakan transformasi dari cerita pendek legendaris karya almarhum yang telah dikenal luas di dunia sastra Bali, Sabtu (2/5).

Alihwahana tersebut dikerjakan oleh anak kedua Made Sanggra, I Made Suarsa, yang juga seorang pengarang dan pensiunan dosen Universitas Udayana.

Peluncuran digelar secara khidmat di Yayasan Wahana Dharma Sastra Made Sanggra, sebagai bentuk penghormatan dan upaya melestarikan warisan budaya.
 
Menurut Suarsa, cerita Katemu ring Tampaksiring sebelumnya telah diadaptasi ke berbagai bentuk seni, mulai dari lakon Arja hingga drama gong.

Ia berharap karya ini bisa terus berkembang dan diwujudkan dalam bentuk ekspresi seni lainnya, misalnya dalam karya lukisan.
 
“Meskipun penikmat geguritan ini mungkin tidak sebanyak karya sastra yang kerap digunakan dalam upacara yadnya, bagi saya ini adalah tanggung jawab sebagai anak sekaligus peneliti. Saya ingin memastikan karya ayah tetap hidup dan dinikmati lintas generasi,” ujarnya.
 
Suarsa mengaku menulis geguritan ini selama tiga tahun dan sempat berkonsultasi dengan sejumlah akademisi, termasuk Prof. I Wayan Dibya.

Selain itu, ia juga telah menyelesaikan alihwahana novel Sukreni Gadis Bali karya AA Panji Tisna ke dalam bentuk geguritan, yang saat ini sedang dalam proses penerbitan.
 
Akademisi dan budayawan Prof. I Wayan Dibya mengenang, ia juga pernah mengadaptasi cerita yang sama menjadi lakon Arja.

Saat itu Made Sanggra memberikan kebebasan penuh untuk menyesuaikan alur cerita, bahkan mengizinkan penambahan satu babak baru agar pementasan lebih sempurna.
 
“Beliau orangnya sangat terbuka dan menghargai proses kreatif. Saat itu saya tambahkan tokoh Wayan Gabler dari Manukaya, dan beliau setuju sepenuhnya,” kenangnya.
 
Sementara itu, akademisi Universitas Udayana, Prof. I Nyoman Darma Putra, menilai peringatan seabad sastrawan seperti ini sangat penting untuk membangun ekosistem sastra yang kuat.

Ia menyebut Made Sanggra bagaikan berlian yang memancarkan kecemerlangan dalam setiap karyanya.
 
Cerita Katemu ring Tampaksiring dinilai brilian karena mampu menggambarkan realitas Bali di masa kolonial dengan sudut pandang yang unik, bahkan mengangkat pesan moral tentang pencegahan pernikahan inses melalui kisah Luh Rai dan Van Steffen yang ternyata saudara kandung terpisah.
 
Selain itu, dalam karya puisi seperti Denpasar Sane Mangkin, Made Sanggra dengan tajam mengkritik perubahan sosial, alih fungsi lahan, hingga ketidaksesuaian tingkah laku manusia dengan tatanan nilai yang ada.

Uniknya, seluruh puisi beliau ditulis menggunakan huruf kecil semua.
 
“Saya temukan alasannya, pertama karena beliau sosok yang rendah hati, dan kedua karena dalam sistem aksara Bali tidak dikenal istilah huruf kapital,” ungkap Darma Putra.
 
Ketua Yayasan Wahana Dharma Sastra Made Sanggra, I Made Suarjana, menambahkan bahwa cerita Katemu ring Tampaksiring merupakan karya juara pertama Sayembara Listibiya Bali tahun 1972.

Bahkan, karya ini telah diterjemahkan ke dalam tiga bahasa asing, yakni Inggris, Prancis, dan Belanda oleh peneliti budaya terkenal Jean Couteau.
 
Made Sanggra sendiri lahir pada 1 Mei 1926 dan meninggal dunia pada 10 Juni 2007.

Sepanjang hidupnya, beliau telah melahirkan ratusan karya sastra yang menjadi rujukan penting dalam perkembangan sastra Bali modern.***

Editor : Donny Tabelak
#sastra Bali #karya seni #universitas udayana