Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Bukan Sekadar Seni! Ki Ai Nirnur Karya Putu Marmar Pancarkan Taksu di Tengah Ramai Festival

Marsellus Nabunome Pampur • Minggu, 3 Mei 2026 | 09:46 WIB
Karya seni Ki Ai Nirnur karya Putu Marmar Herayukti dipajang berdampingan dengan sejumlah lukisan lain dalam Tuksedo Artistic Festival 2026. (Foto Marsellus Pampur) 
Karya seni Ki Ai Nirnur karya Putu Marmar Herayukti dipajang berdampingan dengan sejumlah lukisan lain dalam Tuksedo Artistic Festival 2026. (Foto Marsellus Pampur) 

Radarbadung.jawapos.com– Nama seniman Putu Marmar Herayukti atau yang akrab disapa Marmar kian melambung setelah karya ogoh-ogoh Sapa Warang dari Banjar Gemeh, Denpasar, menjadi sorotan publik saat perayaan Nyepi 2026 lalu.

Kini, karya terbarunya yang bernama Ki Ai Nirnur kembali memantik decak kagum saat dipamerkan dalam Tuksedo Artistic Festival 2026 yang digelar Sabtu (2/5) di Tuksedo Studio, Jalan Tukad Tampuagan No.356, Ketewel, Sukawati, Gianyar.

Mengusung tema Ars Gratia Artis atau “Dari Seni untuk Seni”, festival ini menghadirkan suasana yang penuh energi dengan lantunan musik rock yang menghentak dari atas panggung.

Namun di sisi selatan panggung, sosok Ki Ai Nirnur berdiri kokoh di antara deretan karya lukisan lainnya.

Di tengah riuh dan kerasnya irama musik, karya ini justru memancarkan ketenangan serta aura taksu yang terasa hingga ke seluruh penjuru ruangan.

Dalam sesi talkshow terpisah, Marmar menjelaskan bahwa kehadiran taksu pada sebuah karya seni tidak datang karena diminta atau dipaksa, melainkan terbentuk dengan sendirinya melalui proses penciptaan yang mendalam.

“Taksu itu tidak memiliki wujud fisik, tapi bisa dirasakan oleh siapa saja yang melihat dan meresapi karya tersebut. Pemaknaan di balik karya itulah yang membuat energi dan taksu itu muncul dengan sangat kuat,” ujarnya.

Ini merupakan kali pertama karya Ki Ai Nirnur dipamerkan untuk umum, setelah sebelumnya sempat ditampilkan dalam acara peluncuran album sebuah band di Denpasar.

Marmar mengaku sangat antusias bisa berkolaborasi dan menampilkan karyanya di Tuksedo Studio.

“Tempat ini sangat unik dan banyak menyimpan karya-karya luar biasa. Saya berharap ke depannya bisa terus berkolaborasi, bahkan belajar bagaimana konsep desain kendaraan di studio ini bisa saya terapkan dalam menciptakan karya seni lainnya,” tambahnya.

Sementara itu, penyelenggara sekaligus pemilik Tuksedo Studio, Laksamana Gusti Handoko, menjelaskan bahwa festival ini merupakan ajang kreatif satu hari yang dirancang untuk merayakan seni, budaya, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif lokal Bali.

Lebih dari sekadar pameran atau pasar biasa, festival ini menjadi platform kolaborasi bagi seniman, kreator, dan pelaku usaha kecil untuk memamerkan karya, berinteraksi langsung dengan pengunjung, serta membangun jejaring kerja yang berkelanjutan.

“Kreativitas adalah bahasa universal yang bisa menyatukan banyak orang. Kami ingin acara ini tidak hanya menghibur, tapi juga memberdayakan pelaku seni dan ekonomi kreatif agar semakin berkembang,” ujarnya.

Acara ini dikemas dalam konsep bazaar modern yang terbagi dalam beberapa zona menarik.

Di Creative Market Zone, pengunjung dapat menemukan beragam produk lokal mulai dari busana, aksesori handmade, dekorasi rumah, hingga karya seni unik.

Sementara itu, Food & Beverage Corner menyajikan ragam kuliner, mulai dari jajanan khas Bali, kopi spesialti, hingga hidangan kekinian.

Suasana festival semakin hidup dengan rangkaian hiburan musik live, penampilan komunitas seni, serta sesi interaktif seperti talkshow, bedah buku, dan workshop kerajinan yang mengajak pengunjung terlibat langsung dalam proses berkarya.***

Editor : Donny Tabelak
#nyepi #seniman #seni #festival #ogoh ogoh