Pariwisata Karangasem Waspada Hantavirus, Dorong Pemerintah Perketat Skrining di Pintu Masuk
Donny Tabelak• Selasa, 12 Mei 2026 | 14:26 WIB
Ilustrasi, tikus pembawa hantavirus. Pemprov Bali sebut hingga saat ini belum ada kasus maupun pasien yang diduga terkena Hantavirus. (Ai)
Radarbadung.jawapos.com– Pelaku industri pariwisata di Kabupaten Karangasem kembali dilanda kekhawatiran.
Usai bangkit dari dampak pandemi Covid-19 dan masih menghadapi ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah, kini muncul ancaman baru: penyebaran Hantavirus.
Isu ini dinilai berpotensi mengguncang stabilitas sektor pariwisata yang baru saja mulai pulih.
Ketua PHRI Karangasem, I Wayan Kariasa, mengungkapkan kekhawatirannya saat dikonfirmasi, Senin (11/5).
Menurutnya, pariwisata adalah sektor yang sangat sensitif terhadap isu kesehatan global.
Jika penyebaran virus ini tidak diantisipasi sejak awal, dampaknya bisa sama fatalnya dengan apa yang pernah dialami saat pandemi beberapa tahun lalu.
“Pariwisata baru merangkak bangkit. Belum lepas dari pengaruh perang di Timur Tengah, sekarang muncul lagi ancaman Hantavirus. Kalau sampai menyebar di sini, pasti pariwisata akan lumpuh kembali dan ekonomi masyarakat ikut terguncang,” ungkap Kariasa.
Mengingat risiko tersebut, pihaknya mendesak pemerintah pusat maupun daerah untuk segera meningkatkan kewaspadaan.
Salah satu langkah krusial yang diminta adalah penguatan sistem skrining kesehatan di seluruh pintu gerbang masuk Bali, baik itu di Bandara Internasional maupun pelabuhan laut.
Kariasa menekankan, pengalaman pahit saat menghadapi Covid-19 seharusnya menjadi pelajaran berharga.
Pemerintah dinilai harus segera mempersiapkan peralatan deteksi dini serta protokol kesehatan yang matang agar kasus serupa tidak terulang.
“Kami minta pemerintah konsen dan bekerja maksimal melakukan pencegahan. Jangan sampai Hantavirus masuk dan menyebar di Bali. Kita harus memastikan keamanan kesehatan wisatawan maupun warga lokal,” tegasnya.
Saat ini, tren kunjungan wisatawan ke Karangasem mulai menunjukkan grafik positif.
Pada periode April hingga Mei ini, mayoritas wisatawan yang datang didominasi oleh pasar Eropa.
Selain soal kesehatan, Kariasa pun turut mendoakan agar konflik geopolitik di Timur Tengah segera mereda demi kelancaran arus kunjungan wisatawan dari berbagai belahan dunia.***