Radarbadung.jawapos.com– Penguatan nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) terhadap Rupiah seharusnya menjadi angin segar bagi pariwisata Bali.
Secara hitung-hitungan ekonomi, mata uang wisatawan mancanegara (wisman) menjadi lebih berdaya beli, sehingga biaya akomodasi, makanan, dan layanan wisata di Pulau Dewata terasa jauh lebih murah bagi mereka.
Namun, kondisi menguntungkan ini ternyata belum terasa dampaknya secara nyata.
Ketegangan dan perang yang masih berkecamuk di kawasan Timur Tengah menjadi penghambat utama, terutama karena melonjaknya harga tiket pesawat dan gangguan rute penerbangan.
Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Denpasar, Ida Bagus Gde Sidharta Putra, Kamis (21/5).
Menurutnya, situasi saat ini menciptakan kondisi yang bersifat ganda atau dualisme.
Di satu sisi ada potensi keuntungan dari selisih kurs, namun di sisi lain ada faktor eksternal yang mematikan minat bepergian.
"Memang seharusnya, dengan nilai tukar dolar yang tinggi ini, kita bisa menarik lebih banyak wisman ke Bali. Bagi mereka, harga menjadi jauh lebih murah, baik untuk sewa kamar hotel, konsumsi makanan, hingga belanja. Nilai uang mereka jadi lebih kuat, sehingga mereka bisa mendapatkan layanan lebih dengan biaya yang sama," jelas Gusde, sapaan akrabnya.
Namun, harapan tersebut pupus oleh dampak dari konflik yang terjadi di Timur Tengah.
Perang tersebut berdampak langsung pada industri penerbangan global.
Harga bahan bakar avtur melonjak drastis, sejumlah maskapai membatalkan penerbangan, serta adanya penyesuaian rute demi alasan keamanan udara.
Akibatnya, harga tiket pesawat ke wilayah Asia, termasuk Indonesia dan Bali, menjadi sangat mahal dan tidak menentu ketersediaannya.
Kondisi ini sangat terasa dampaknya bagi pasar wisatawan Eropa, yang selama ini menjadi segmen potensial dan andalan pariwisata Bali, termasuk wilayah Denpasar.
Hingga saat ini, Gusde menegaskan belum terlihat tanda-tanda adanya lonjakan jumlah kedatangan wisatawan.
Indikatornya terlihat jelas dari tingkat hunian kamar hotel di kawasan Sanur, yang merupakan basis utama pasar wisatawan mancanegara di Denpasar. Angkanya masih bertahan stabil di kisaran 70 persen hingga 75 persen, belum ada kenaikan signifikan.
"Kunjungan belum ada peningkatan yang berarti. Tingkat okupansi pun masih stabil di angka 70 sampai 75 persen, tidak melonjak meski dolar sedang tinggi," ungkapnya.
Lebih jauh, Gusde memprediksi akan terjadi penyaringan pasar atau perilaku yang lebih selektif dari wisatawan.
Hanya wisatawan dengan kemampuan finansial lebih yang diprediksi tetap akan melakukan perjalanan wisata meski harga tiket sedang mahal.
Keputusan untuk berkunjung atau tidak sangat bergantung pada seberapa besar selisih kenaikan kurs dan harga tiket penerbangan.
"Semua kembali ke perhitungan mereka. Tergantung seberapa besar selisih kenaikan kurs dibandingkan kenaikan harga tiket. Ini yang nantinya menjadi pertimbangan wisatawan untuk memilih berangkat atau menunda perjalanan," tambahnya.
Selain berdampak pada kedatangan wisatawan, penguatan nilai dolar AS ini justru menjadi beban tersendiri bagi pelaku usaha pariwisata di sisi biaya operasional.
Banyak hotel dan restoran yang masih harus mengimpor bahan baku atau produk tertentu untuk menunjang pelayanan.
Dengan dolar yang semakin mahal, biaya impor ikut membengkak dan membebani pengeluaran usaha.***
Editor : Donny Tabelak