Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Perang Pandan Tenganan Masih Jadi Magnet Wisatawan, Rela Berdesakan Demi Menyaksikan Tradisi Sakral

Zulfika Rahman • Kamis, 11 Juni 2026 | 11:19 WIB
Suasana tradisi perang pandan di Desa Tenganan Pegringsingan yang berlangsung Rabu (10/6) kemarin. (Foto Zulfika Rahman)
Suasana tradisi perang pandan di Desa Tenganan Pegringsingan yang berlangsung Rabu (10/6) kemarin. (Foto Zulfika Rahman)

Radarbadung.jawapos.com– Tradisi Mamekare-kare atau Perang Pandan di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kabupaten Karangasem, masih menjadi daya tarik utama bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Meski digelar setiap tahun, tradisi sakral tersebut tetap dinanti dan berhasil menyedot perhatian ribuan pengunjung.

Saat tradisi berlangsung pada Rabu (10/6), wisatawan terlihat memadati area pelaksanaan untuk menyaksikan secara langsung prosesi yang menjadi bagian dari rangkaian Usaba Sambah tersebut.

Sejak siang hari, masyarakat dan wisatawan sudah mulai berdatangan ke lokasi.

Sejumlah fotografer dari berbagai daerah juga tampak berburu posisi terbaik untuk mengabadikan momen-momen menarik selama pelaksanaan tradisi.

Sebelum perang pandan dimulai, para pemuda dan pemudi asli Desa Tenganan Pegringsingan terlihat mempersiapkan berbagai sarana upacara, termasuk daun pandan berduri yang digunakan sebagai alat utama dalam tradisi tersebut.

Salah seorang wisatawan asal Swedia, Anderson, mengaku sengaja datang ke Bali untuk kembali menyaksikan tradisi Perang Pandan.

Ia mengaku terkesan dengan keunikan budaya yang dimiliki Pulau Dewata.

“Bali selalu memiliki tradisi yang unik. Perang Pandan adalah salah satunya,” ujarnya.

Pria berusia 31 tahun itu mengatakan, dirinya pertama kali menyaksikan tradisi tersebut pada 2018.

Pengalaman itu membuatnya tertarik untuk kembali datang setelah memperoleh informasi mengenai jadwal pelaksanaannya tahun ini.

“Saya memilih berlibur ke Bali pada waktu yang berdekatan dengan pelaksanaan tradisi ini karena memang ingin melihatnya lagi,” katanya.

Hal serupa disampaikan I Made Dwi, warga Kabupaten Badung.

Ia mengaku baru pertama kali menyaksikan langsung Perang Pandan meski sudah sering berkunjung ke Desa Tenganan Pegringsingan.

Menurutnya, tradisi tersebut memberikan pengalaman yang sangat berkesan karena para peserta benar-benar bertarung menggunakan daun pandan berduri hingga mengalami luka gores.

“Biasanya saya sering membawa tamu ke sini, tetapi belum pernah bertepatan dengan pelaksanaan Perang Pandan.

Syukurnya tahun ini akhirnya bisa menyaksikan langsung,” ungkapnya.

Sementara itu, Kelian Desa Adat Tenganan Pegringsingan, I Putu Yudiana, menjelaskan bahwa tradisi Perang Pandan merupakan bentuk penghormatan kepada Dewa Indra yang dipercaya sebagai Dewa Perang oleh masyarakat adat setempat.

Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun dalam rangkaian Usaba Sambah.

Bagi masyarakat Tenganan Pegringsingan, perang simbolis tersebut menjadi wujud penghormatan sekaligus sarana pendidikan bagi para remaja laki-laki yang kelak akan memikul tanggung jawab terhadap keluarga dan desa adat.

“Tradisi ini merupakan warisan leluhur yang terus kami jaga sebagai bagian dari identitas masyarakat Tenganan Pegringsingan,” jelasnya.

Yudiana menambahkan, pelaksanaan Perang Pandan tahun ini untuk kelima kalinya diselaraskan dengan Tenganan Pegringsingan Culture Festival.

Melalui festival tersebut, pengunjung tidak hanya dapat menyaksikan tradisi budaya, tetapi juga menikmati berbagai kuliner, pameran, dan hiburan yang disiapkan masyarakat setempat.

“Kami berharap tradisi dan festival ini semakin memperkenalkan Desa Tenganan Pegringsingan kepada wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri,” pungkasnya.***

Editor : Donny Tabelak
#perang pandan #wisatawan #tradisi #karangasem #Desa adat