Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Inovasi Seni Boleh Berkembang, Asal Tidak Memutus Akar Tradisi

Ni Kadek Novi Febriani • Sabtu, 27 Juni 2026 | 07:17 WIB
Suasana diskusi bertema peran kreativitas generasi muda dalam inovasi seni yang digelar di Pojok Media PKB XLVIII. (Foto Adrian Suwanto)
Suasana diskusi bertema peran kreativitas generasi muda dalam inovasi seni yang digelar di Pojok Media PKB XLVIII. (Foto Adrian Suwanto) 

Radarbadung.jawapos.com– Sebuah diskusi konstruktif digelar di Pojok Media Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII, kemarin (25/6).

Kegiatan yang diinisiasi oleh Kawiya bekerja sama dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali ini mengangkat tema penting: Peran Kreativitas Generasi Muda dalam Inovasi Seni.

Dipandu sastrawan I Made Adnyana Ole, diskusi menghadirkan narasumber A.A. Gede Agung Rahma Putra (akademisi dan praktisi seni) serta I Wayan Ary Wijaya, S.Sn. (komposer).
 
Salah satu pertanyaan yang mencuri perhatian peserta adalah seberapa jauh batas kebebasan berinovasi dalam kesenian Bali.

Menanggapi hal itu, Ary Wijaya menegaskan bahwa setiap karya harus tetap berpijak pada prinsip desa, kala, dan patra atau tempat, waktu, serta kondisi.
 
“Berkarya itu harus pandai memilih ruang. Selama tidak melanggar aturan dan nilai yang berlaku, jangan takut berbeda. Yang paling utama adalah mewujudkan gagasan karyanya terlebih dahulu,” ujarnya.
 
Ia menekankan bahwa kreativitas menjadi kunci menjaga kelestarian seni budaya di tengah arus modernisasi.

Namun, inovasi tidak boleh memutus akar warisan leluhur, melainkan harus tumbuh dari nilai-nilai luhur yang telah diwariskan turun-temurun.

Menurutnya, kehadiran teknologi digital bukanlah ancaman bagi tradisi, melainkan alat bantu untuk mempercepat proses penciptaan karya tanpa menghilangkan identitas budayanya.
 
“Teknologi justru membuka ruang bagi gagasan baru. Begitu pula pengaruh budaya luar, tetap bisa disaring selama visi berkaryanya tetap berlandaskan nilai tradisi Bali,” jelasnya.

Sebagai contoh, ia menyebut perkembangan musik gamelan yang sempat dianggap asing pada awal kemunculannya, kini justru diterima masyarakat dan menjadi bagian dari perkembangan seni itu sendiri.
 
Ary juga menyoroti manfaat media digital yang telah digunakan sejak tahun 1990-an untuk mendokumentasikan ide, merekam suara, hingga bereksperimen secara lebih efisien tanpa mengurangi kualitas dan makna karya seni yang dihasilkan.
 
Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Bali, Nyoman Winata, menilai forum diskusi seperti ini sangat penting sebagai ruang bertukar gagasan antar generasi.

Ia mengamati adanya perkembangan positif yang ditunjukkan oleh antusiasme anak muda saat ini.
 
“Dulu, tarian Barong hampir hanya dikuasai oleh pemangku adat. Sekarang anak-anak muda sangat antusias, bahkan jumlah penari Barong terus bertambah banyak. Begitu juga dengan permainan alat musik tradisional, kemampuan mereka semakin luar biasa,” ungkapnya.
 
Winata pun optimistis bahwa semangat inovasi akan terus melahirkan seniman-seniman muda berbakat.

Namun demikian, ia kembali mengingatkan agar setiap pembaruan dalam kesenian tetap berdiri kokoh di atas fondasi tradisi yang menjadi jati diri budaya Bali.***

Editor : Donny Tabelak
#pesta kesenian bali #pwi #seni #budaya #pkb