Bali Gaya Hidup Hukum & Kriminal International Kuliner Nasional Pariwisata & Budaya Pendidikan Selebritas Sportiment Update Badung

Hari Raya Kuningan, Puri dan Krama Adat Kediri Gelar Tradisi Ngerebek Pusaka Keris Ki Baru Gajah Cegah Wabah

Juliadi Radar Bali • Senin, 29 Juni 2026 | 08:28 WIB
Suasana tradisi Ngerebek Pusaka Keris Ki Baru Gajah yang dilaksanakan oleh Puri Kediri dan Krama Desa Adat Kediri, Tabanan, pada Hari Raya Kuningan. (Foto Juliadi)
Suasana tradisi Ngerebek Pusaka Keris Ki Baru Gajah yang dilaksanakan oleh Puri Kediri dan Krama Desa Adat Kediri, Tabanan, pada Hari Raya Kuningan. (Foto Juliadi)

Radarbadung.jawapos.com– Bertepatan dengan Hari Raya Kuningan yang jatuh pada Sabtu (27/6) kemarin, Puri Kediri bersama krama Desa Adat Kediri, Tabanan, melaksanakan tradisi sakral Ngerebek Pusaka Keris Ki Baru Gajah.

Upacara ini digelar secara rutin dengan tujuan nangluk merana, yaitu mencegah datangnya wabah serta menetralisir energi negatif yang dipercaya ada di alam semesta.

Dalam prosesinya, sejumlah krama adat mengiringi Pusaka Keris Ki Baru Gajah menuju Pura Luhur Pekendungan, Desa Beraban.

Rute perjalanan yang ditempuh sejauh 14 kilometer dilalui dengan berjalan kaki, diiringi tabuhan gamelan baleganjur, serta membawa sejumlah atribut seperti tombak, panji (kober), dan sarana upacara lainnya.
 
Tetua Puri Kediri sekaligus Penganceng di Pura Luhur Tanah Lot, I Gusti Ngurah Gede Sudiarta, menjelaskan bahwa tradisi ini tak lepas dari perjalanan rohani Danghyang Dwijendra.

Berdasarkan catatan sejarah, Pusaka Keris Ki Baru Gajah diperkirakan telah ada sejak abad ke-15, bersamaan dengan kedatangan Danghyang Dwijendra di Bali sekitar tahun 1480 Masehi.
 
Saat itu, Danghyang Dwijendra bertugas sebagai pendeta di Kerajaan Gelgel, Klungkung, pada masa pemerintahan Dalem Watu Renggong.

Keris tersebut diberikan secara langsung saat beliau melaksanakan tirtayatra di Pura Luhur Pekendungan dan Pura Luhur Tanah Lot, tempat di mana beliau sering menyampaikan wejangan dan ajaran kepada masyarakat.
 
“Ada sabda luhur dari Danghyang Dwijendra saat menyerahkan pusaka ini. Intinya, jika tradisi Ngerebek tidak dilaksanakan, maka wilayah ini akan tertimpa wabah. Karena itu, upacara ini menjadi kewajiban yang harus dijaga kelestariannya,” ungkapnya.
 
Tradisi ini dilaksanakan secara rutin setiap enam bulan sekali, tepatnya saat Hari Raya Kuningan atau bertepatan dengan hari suci Tumpek Kuningan, serta dapat pula diselenggarakan bersamaan dengan pelaksanaan Puja Wali di Pura Luhur Pekendungan.
 
Prosesi Ngerebek menjadi tanda dimulainya rangkaian Puja Wali di pura tersebut.

Selama upacara berlangsung, pusaka diletakkan di tempat yang telah disediakan, dengan sarana persembahan yang disesuaikan.

Setelah seluruh rangkaian ibadah di Pura Luhur Pekendungan selesai, barulah keris tersebut dibawa kembali ke Puri Kediri.
 
Dalam pelaksanaannya, digunakan pelepah pohon nau atau papah jaka sebagai sarana yang dipercaya ampuh mengusir wabah.

Segala bentuk gangguan atau wabah yang berhasil ditangkal diyakini akan dikandangkan di kawasan hutan keramat di sekitar Pura Luhur Pekendungan.

Bahkan pada waktu yang bersamaan, para pemuka adat atau Sabantara serta pekaseh se-Kabupaten Tabanan juga melaksanakan upacara nangluk merana di tempat yang sama.
 
I Gusti Ngurah Gede Sudiarta menegaskan bahwa Pusaka Keris Ki Baru Gajah sejatinya adalah simbol keagungan yang bersemayam di Pura Luhur Pekendungan, bukan milik pribadi maupun Puri Kediri.

Puri hanya diberi kepercayaan dan wewenang untuk menyimpan, merawat, serta melaksanakannya dalam hari-hari suci, seperti saat Tumpek Landep dan Puja Wali.
 
“Selama ini, pusaka tersebut disimpan dengan aman di ruang penyimpanan khusus di Merajan Agung Puri Kediri,” pungkasnya.***

Editor : Donny Tabelak
#hari raya kuningan #tradisi sakral #wabah #Desa adat #tanah lot