Radarbadung.jawapos.com– Kawasan Pura Agung Petilan, Desa Adat Kesiman, Denpasar, kini tampak megah dihiasi 32 penjor dari seluruh banjar, yang dipasang menjelang pelaksanaan Tradisi Ngerebong pada Minggu (5/7).
Ritual ini digelar setiap enam bulan sekali sesuai perhitungan kalender Bali, tepatnya pada Redite Pon Medangsia atau delapan hari setelah Hari Raya Kuningan.
Bendesa Adat Kesiman, Jro I Ketut Wisna, menjelaskan pemasangan penjor merupakan wujud persembahan dan bakti tulus kepada Ida Bhatara Sesuhunan.
“Sebenarnya penjor ini adalah yadnya yang mungkin tampak sederhana. Namun karena rasa bakti masyarakat, para pemuda tak menghitung berapa biaya yang dikeluarkan untuk membuatnya,” ujarnya.
Ke-32 penjor tersebut dirakit masing-masing di banjar, kemudian dipasang di area dalam maupun luar pura.
Pemasangan ini juga menjadi bagian penilaian lomba, mulai dari proses pembuatan hingga bentuk akhir penjor.
Tradisi Ngerebong telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak tahun 2018.
Pelaksanaan kali ini memiliki makna istimewa, karena enam bulan sebelumnya sempat diselenggarakan secara terbatas menyusul kegiatan restorasi dan rehabilitasi bangunan pura.
Lebih dari sekadar ritual keagamaan, Ngerebong sarat makna penyucian alam semesta atau penyuda mala, serta penyeimbangan alam sekala dan niskala.
Dahulu, saat sistem kerajaan masih berlaku, raja-raja dari berbagai wilayah Bali hadir di sini, menjadikan momen ini sebagai wadah silaturahmi sekaligus pesta rakyat yang diwarnai aktivitas perdagangan.
“Sejak dulu sudah ada kegiatan ekonomi masyarakat, kini mungkin disebut UMKM. Masyarakat berdagang dan berbelanja di sini, yang kemudian dikenal dengan istilah menggalung di Kesiman. Barang yang dibawa pulang pun menjadi punjung bagi warga,” jelas Jro Wisna.
Dalam rangkaiannya terdapat prosesi Tabuh Rah yang dilanjutkan tajen suryak keesokan harinya.
Ia menegaskan hal ini bukan perjudian, melainkan simbolisasi realita kehidupan yang berisi suka, duka, menang, dan kalah.
Kekhasan Ngerebong Kesiman terletak pada visualisasi ajaran Tantra yang kental.
Berbeda dengan upacara lain yang menonjolkan kelengkapan sarana upakara, di sini makna lebih banyak disampaikan lewat gerak dan simbol sakral, disertai kerauhan para pengiring yang diyakini sebagai turunnya kekuatan suci untuk menetralisir hal buruk serta memulihkan keharmonisan manusia, alam, dan Tuhan.***
Editor : Donny Tabelak