Radarbadung.jawapos.com— Pernikahan agung atau Pawiwahan Agung yang digelar di Puri Agung Singasana, Tabanan, menjadi momen bersejarah.
Rangkaian upacara pernikahan antara I Gusti Ngurah Bagus Arya Dananjaya (Puri Agung Singasana) dan Sagung Putri Trian Dewi (Puri Dangin Tabanan) menghidupkan kembali tradisi sakral yang telah vakum selama 60 tahun — Ritual Gong Beri dan Joli Kerajaan.
Prosesi langka ini digelar Minggu (16/8), sebagai wujud pelestarian budaya dan dresta Puri.
Berbeda dengan pawiwahan umumnya, pernikahan agung ini dikemas sederhana namun sarat nuansa sakral.
Rangkaian upacara melibatkan dua keluarga besar Puri dan disepakati bersama untuk melestarikan warisan leluhur yang hampir punah.
Bagi masyarakat Tabanan, ini bukan sekadar pernikahan, melainkan pemulihan memori kolektif tentang adat istiadat dan budaya puri yang penuh kewibawaan.
Gong Beri, Akulturasi Bali–China yang Magis
Sorotan utama terletak pada penggunaan Gamelan Gong Beri, instrumen sakral hasil akulturasi budaya Bali–China yang hanya dimainkan dalam peristiwa sangat khusus.
Gong Beri terdiri dari gong berukuran khusus, klenteng (kenong bergaya Tionghoa), kendang, dan suling, menghasilkan tetabuhan ritmis yang magis dan berat — berfungsi mengatur langkah barisan arakan mempelai.
“Ini adalah kali pertama dalam 60 tahun terakhir Gong Beri bergema lagi untuk mengiringi arakan mempelai kerajaan di Tabanan. Ini bukan sekadar musik, ini adalah suara sejarah yang hidup kembali,” ujar Dr. I Gusti Ngurah Ardana, Manggala Karya Pawiwahan Agung.
Ditandu Joli Kerajaan, Penuh Simbol Kebesaran
Mempelai pria diarak menggunakan Joli (tandu kursi usung) dari Puri Agung Singasana menuju Puri Dangin Tabanan, berjarak sekitar satu kilometer.
Arakan diiringi Gong Beri, bebandrangan, dan gong suling, dikawal perlengkapan kebesaran Puri seperti Tombak Bandrang dan Tedung Agung (payung agung).
Sesampainya di Puri Dangin Tabanan, dilangsungkan upacara adat Mungkah Lawang.
Selanjutnya mempelai wanita ditandu Joli kembali ke Puri Agung Singasana.
Prosesi diawali ritual Ngungkab Lawang (ketuk pintu suci) oleh dua Sulinggih dan dua Juru Gending yang menembangkan kidung.
Di pintu masuk Puri Agung, mempelai wanita disambut dengan Banten Penyapa — simbol penerimaan resmi ke dalam keluarga baru.
Puncak dan Penutup Rangkaian Upacara
Rangkaian upacara akan berpuncak pada Rabu (19/8) dengan prosesi Mesakapan dan Widi Widana.
Terdapat pula ritual unik Mesop–Sopan (saling suap makanan, simbol kebersamaan dan komitmen rumah tangga) serta Meangget–Anggetan (memetik daun pohon, melambangkan tawar-menawar kehidupan dan harapan rezeki berlimpah).
Tiga hari setelahnya, pada 22 Agustus, akan ditutup dengan upacara Ngunye — persembahyangan bersama di merajan puri.
Bukan Feodalisme, Melainkan Menjaga Akar Budaya
Raja Tabanan, Ida Cokorda Anglurah Tabanan, menyatakan prosesi ini bagian dari pelestarian budaya dan dresta leluhur.
Sementara itu, Ketua Pasemetonan Puri Dangin Tabanan, I Gusti Ngurah Gede Nugraha, menjelaskan tradisi serupa terakhir digelar sekitar tahun 1967.
“Kami tidak bermaksud membangkitkan feodalisme atau sekat keturunan. Kami hanya ingin menjaga dan menghormati tradisi leluhur agar tidak hilang ditelan zaman,” ujarnya.
“Perubahan zaman tidak seharusnya membuat kita kehilangan akar dan jati diri. Semoga ini menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan,” pungkasnya.***
Editor : Donny TabelakSumber : Radar Badung